Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Motif Ok, Desain Kurang

Selasa, 23/03/2010 09:00 WIB - Rachmadhani Fitriastuti/bersambung

Setelah pada Minggu malam lalu, kelima finalis UK Young Fashion Entrepreneur (UKYFE) asal Inggris baru sempat melihat sedikit dari kekayaan karya busana di Kota Solo, Senin (22/3), mereka berkesempatan untuk melihat lebih banyak lagi.
Imran Amed, Justin Smith, May Cortezzi, Sarah Elenany, dan Susi Henson, melanjutkan lawatannya di Solo dengan mengunjungi sejumlah pusat fashion. Tempat pertama yang dikunjungi para pengusaha muda ini adalah Kampung Batik Kauman, tepatnya di Batik Gunawan Setiawan.
Mereka semakin terkagum dengan karya batik khas Solo. Salah satu yang cukup memperlihatkan minatnya adalah Imran Amed. Bahkan ia mengaku sebelum kunjungan ini, ia sudah menyempatkan diri untuk mencari informasi tentang batik.
“Saya berusaha mencari tahu dari mana sebenarnya asal batik. Tapi saya tidak bisa menemukan jawaban yang jelas 100 persen. Hanya yang jelas Solo merupakan salah satu pusat pengembangan dan produksi batik,” tutur pemilik perusahaan Amed & Co yang bergerak di bidang fashion consultant business ini.
Menurut Amed batik adalah sebuah karya unik di mana setiap motif yang ada memiliki arti dan sejarah yang berbeda-beda. Inilah nilai lebih dari batik yang tidak ia temukan pada karya fashion lainnya.
Minat Tinggi
Minat yang besar pun ditunjukkan oleh Justin Smith. Pria yang memiliki fokus desain pada topi ini sangat tertarik pada blankon, penutup kepala tradisonal Jawa. Bahkan ia berniat untuk mengadopsi blankon pada karya-karya selanjutnya.
“Saya baru menemukan topi seperti ini di sini, di mana semua masih dibuat dengan tangan dan secara tradisional. Selain itu topi ini juga menggunakan motif batik, sehingga dapat menunjukkan ciri khas tradisinya,” ungkap Justin.
Justin dan Imran pun menuturkan bahwa batik memiliki potensi untuk go international. Namun demikian tetap dibutuhkan beberapa penyesuaian agar bisa menembus pasar fashion negara-negara barat. Penyesuaian utama yang perlu dilakukan adalah dalam hal desain baju. Menurut Imran desain-desain pakaian batik yang ada tidak begitu cocok dengan pasar fashion internasional.
“Dari yang saya lihat, desain bajunya masih terlalu lebar. Sedangkan orang barat lebih menyukai baju-baju yang lebih pas di tubuh dan bisa menunjukkan siluet tubuhnya. Oleh karena itu, agar bisa di terima pasar internasional, perlu sedikit diubah desainnya,” jelas Imran.
Namun demikian para pengusaha yang rata-rata masih berusia di bawah 35 tahun ini tetap menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap kain batik. Terlihat mereka membeli beberapa produk batik untuk kemudian coba digunakan pada desain-desain busana mereka. (Rachmadhani Fitriastuti/bersambung)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :