Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) telah usai. Sejumlah program dan materi penting telah dirumuskan. Yang tak kalah penting adalah telah dipilihnya nakhoda NU untuk lima tahun ke depan (2010-2015). KH Said Agil Siradj terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengalahkan kandidat lainnya, Slamet Effendy Yusuf. Sedangkan Pemimpin Ponpes Miftahul Huda Pati, KH Sahal Mahfudz ditetapkan sebagai Rais Aam.
Duet kedua tokoh inilah yang saat ini menjadi sorotan dalam membawa Ormas terbesar di Indonesia ke depan. Kiprah NU dalam pengabdian kepada bangsa dan masyarakat akan dipengaruhi oleh kepemimpinan keduanya. Apalagi, sempat muncul nada minor tentang keterpilihan KH Said Agil Siradj karena dinilai ada campur tangan/intervensi pemerintah. Terpilihnya KH Said Agil Siradj disebut-sebut sebagai kemenangan kekuatan NU propemerintah atau lebih tepatnya pro-SBY.
Ini tentu menjadi tantangan yang tidak ringan di pundak KH Said Agil Siradj. Benar tidaknya penilaian itu, semuanya hanya bisa dibuktikan dalam perjalanan NU ke depan.
Memang, yang paling penting dari hasil muktamar NU tersebut adalah merealisasikan rumusan-rumusan yang telah dibahas dalam sidang-sidang muktamar. Nahdliyin dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya menunggu kiprah NU pascamuktamar di Makasar itu. Nahdliyin dan juga masyarakat juga menunggu janji-janji yang disampaikan Ketua PBNU terpilih. Sebagai Ormas terbesar di Tanah Air, keberadaan NU sangat penting dalam konteks kehidupan berbangsa. Apalagi, KH Said Agil Siradj sudah jelas-jelas menyatakan dirinya akan menjauhkan NU dari politik praktis. Bahkan, ia dengan tegas tidak akan menjagokan diri sebagai presiden dan wakil presiden. Ini berbeda jauh dengan pendahulunya Hasyim Muzadi yang pernah mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati pada Pemilu 2009.
Janji lain yang cukup lantang diucapkan ketua terpilih adalah, NU akan senantiasa mengkritisi pemerintah. Janji lain yang cukup mendapat perhatian adalah, NU berjanji untuk membentengi Ormas Islam dari aliran ekstrem radikal, liberal maupun aliran sesat.
Janji tersebut menarik dicermati dan ditunggu. Kita berharap, NU makin memerankan peran strategis dalam kehidupan berbangsa lima tahun ke depan. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




