Banyak kalangan yang menganggap jika kebudayaan asli negeri ini, kini sudah mulai tergusur. Kebudayaan asli mulai tergusur oleh kebudayaan yang diusung oleh para pendatang khususnya dari negeri barat. Bergesernya minat masyarakat mengenai kebudayaan ini tentunya akan berakibat buruk bagi kebudayaan. Untuk itu, tak jarang jika saat ini banyak kalangan muda yang tidak mengenal budayanya.
Mengantisipasi hal tersebut, ada sekelompok orang yang menilai jika dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan kepunahan bagi budaya asli itu sendiri. “Kami yang tergabung dalam komunitas Ketoprak Ngampung menilai saat ini kebutuhan masyarakat akan sebuah kesenian khususnya ketoprak sudah mulai tergeser oleh televisi,” ungkap Dwi Mustanto, sutradara sekaligus penulis naskah Ketoprak Ngampung kepada Joglosemar, Kamis (11/3).
Karena televisi kesenian Ketoprak Seniman Muda yang terkenal dengan nama Balekambang mati suri. “Pertama kali Ketoprak Balekambang berdiri pada 1989, ketoprak ini manggung setiap malam. Kejayaan ini berlangsung selama lima tahun kemudian pada tahun 1995 mati suri karena pada saat itu televisi mulai merambah masyarakat,” lanjutnya.
Tahun 2007, Ketoprak Balekambang mulai bangkit, namun dengan nama dan konsep yang berbeda. “Saat ini yang menghidupkan kembali Ketoprak Balekambang ini adalah anak-anak dari para pemain Ketoprak Balekambang, namanya sekarang berubah menjadi Ketoprak Ngampung,” terang pria yang juga tergabung dengan Teater Oyot tersebut.
Ketoprak Ngampung sendiri dulunya merupakan salah satu divisi dari Ketoprak Balekambang. Dwi melanjutkan dulunya Ketoprak Ngampung merupakan divisi promosi dari Ketoprak Balekambang. “Namun saat ini malah dapat berdiri sendiri.”
Tujuan dari Ketoprak Balekambang dahulu dalam setiap pementasannya adalah untuk menghibur para penontonnya. Kemudian tujuan yang dimiliki Ketoprak Ngampung tak jauh dari fungsi entertainment tersebut. Selain itu, memiliki nilai pengenalan kembali kebudayaan yang sempat hilang tersebut.
Sejak didirikan tiga tahun yang lalu, saat ini anggota dari Ketoprak Ngampung telah mencapai 30 orang terdiri dari kalangan seniman dan umum. “Kami semua yang tergabung di sini merupakan anak-anak dari para pemain ketoprak. Jadi bisa dibilang kumpulan dari para seniman muda yang memiliki keinginan untuk mengembalikan kembali masa kejayaan ketoprak,” papar pria yang telah menghasilkan 20 naskah ini. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







