Begitu selesai menjalankan profesinya, Bu Mery langsung menerima imbalan uang lima lembar uang ratusan ribu, dari lelaki yang habis dilayaninya dan sengaja diselipkan di balik bajunya, sesudah itu keduanya meninggalkan wisma Mawar.
Bu Mery sebenarnya adalah ibu rumah tangga. Suaminya bekerja sebagai penjaga malam di sebuah gudang toko bahan bangunan. Konon, dulu suaminya itu pelanggan tetap Bu Mery ketika berada di lokalisasi. Laki-laki itu sebagai pemborong, tetapi akhirnya bangkrut.
Sebenarnya pengurus RT dan pengurus Dasa Wisma, sudah sering mengingatkan Bu Mery unttuk berhenti dari profesinya, karena bisa mencemarkan nama warga. Tetapi tetap saja ia menjalankan profesinya sebagai wanita nakal itu.
Wajah Bu Mery memang cantik dan seksi sehingga bisa membius lelaki yang memandangnya. Walaupun sudah berumur 54 tahun, Bu Mery tidak segan mengeluarkan biaya banyak untuk memelihara tubuhnya. Misalnya suntik silikon, dan pasang susuk pengasihan. Pelangganannya tidak sembarang orang. Ia hanya mau bertransaksi di hotel.
Suatu sore di rumahnya kedatangan tamu dengan mengendarai mobil Toyota Kijang kapsul warna silver. Pengemudinya keluar, tampak dengan pakaian yang rapi. Ketika sampai di depan pintu dan belum sempat mengetuknya, Bu Mery telah membuka pintu. Kemudian saling senyum, kemudian duduk di sofa di ruang tamu.
”Sayangku Mery, kenapa aku baru ketemu kamu sekarang. Tidak dua puluh lima tahun yang lalu, sebelum aku punya anak. Seandainya kita ketemu kau pantas jadi istriku untuk hidup bersama,” kata tamunya itu.
”Hah gombal. Setiap lelaki yang pernah meniduriku berkata seperti itu. Sudah sekarang kita mau di mana?,” tanya Bu Mery. ”Bagaimana kalau di sini saja,” jawab tamunya.
”Sudah gila ya Mas. Kita bisa digerebek warga karena saya sudah sering diperingatkan. Warga sudah tahu semua bahwa saya wanita nakal. Aku tidak mau kalau di rumah, apalagi di sini,” kata Bu Mery sambil menunjuk sofa tempat duduknya.
”Aku ingin bekerja dengan nyaman dan tenang.”
”OK, mau di mana?”
”Terserah Mas Tarja, mau Merapi atau ke Widuri.”
”Ke Widuri saja”
”Ya, silakan Mas Tarja berangkat duluan nanti saya menyusul.”
Beberapa menit kemudian Bu Mery menyusul menggunakan sepeda motor. Pukul tujuh malam mereka sudah bertemu di Wisma Widuri.
”Jeng Mery, malam ini kita akan bersenang-bersenang sepuas kita. Malam ini hanya milik kita,” kata Tarja sambil berjalan menyusuri lorong wisma Widuri menuju salah satu kamar yang dipesannya. Kemudian masuk kamar dan setelah itu tidak terdengar apa lagi, cuma sesekali terdengar orang cekikikan seperti kegelian.
Pukul 05.30 pagi, Bu Mery keluar dari kamarnya. Ia mengambil sepeda motor dan langsung pulang. Sesampainya di rumah, suaminya belum pulang. Baginya, suaminya sudah pulang atau belum pulang tidak jadi masalah, karena apa yang dilakoninya mendapat restu dari suaminya. Bahkan jika ia tidak bertugas, dan istrinya short time, ia sering mengantar dan menungguinya sampai istrinya selesai menjalankan profesinya.
Suatu ketika Bu Mery sakit. Mungkin kelelahan karena terlihat sehari sebelumnya sibuk, pergi pulang. Tetangganya ada yang sempat menghitung, sampai 5 kali pergi, itu yang terhitung sampai pukul 17.00 sore, ia tampak sangat lemah.
Kalau Bu Mery sakit biasanya dua tiga hari sudah sembuh. Tetapi untuk kali ini sudah satu minggu belum sembuh juga. Keluhannya punggung dan pinggangnya nyeri serta kalau buang air terasa perih pada kemaluannya.
Kemudian ia diantar suami ke rumah sakit umum. Setelah diperiksa di ruang instalasi gawat darurat, Bu Mery harus rawat inap. Seminggu di rumah sakit belum ada perubahan. Pinggang dan punggungnya masih sakit, hanya kalau buang kecil sudah tidak begitu perih, Bu Mery bilang pada suaminya yang setia menunggunya setiap hari;
”Pak tolong saya dipanggilkan Mbah Marta, diminta ke sini,” pintanya. ”Mbah Marta yang paranormal itu?” ”Ya,” jawab Bu Mery singkat karena sambil menahan sakit
Sebelum pergi ke Marta suaminya meminta suster penjaga, untuk mengawasi istrinya. Saat suaminya pergi ke Mbah Marta, datang kelompok ibu-ibu PKK RT bersama dengan Pak RT. Kedatangan ibu-ibu itu yang kedua kalinya.
”Assalamualaikum,” Bu RT memberi salam. ”Waalaikumsalam,” jawab Bu Mery.
”Bagaimana Bu perkembangannya, apakah sudah ada kemajuan?”
”Belum.”
”Sebenarnya sakitnya Bu Mery itu apa ta Bu?” Tanya Pak RT. ”Anu pak ini lho, punggung dan pinggang saya itu nyeri sekali, serta kalau buang air kecil juga rasanya perih di anu saya ini,” kata Bu Mery sambil menunjuk kemaluannya.
”Astaghfirullah,” Pak RT terkejut ketika Bu Mery dengan tenangnya menunjuk bagian kemaluannya.
”Banyak istighfar Bu, mungkin ini peringatan Allah kepada Bu Mery, karena Allah itu maha pengasih dan penyanyang kepada makhluk-Nya termasuk kepada Bu Mery.” begitu nasihat Pak RT.
”Tapi pak RT, apakah orang sekotor saya ini, Allah berkenan mengampuninya Pak?”
”Allah akan mengampuni dosa-dosa umat-Nya sebanyak buih di laut, selama umat-Nya itu bertobat. Tobat nasuha. Mumpung sebentar lagi Ramadan, bulan yang penuh ampunan, bulan yang dinanti-nanti umat Islam sedunia. Ada cerita seorang pelacur yang sudah malang melintang sejak umur masih belasan tahun sampai menjelang ajalnya masih saja berprofesi sebagai pelacur. Suatu saat dia menolong anjing yang kahausan dengan memberi minum memakai sepatunya, serta kemudian pelacur itu bertobat, Allah akan mengampuninya.”
”Insya Allah Bu, Allah akan mengampuni dosa-dosa Ibu, di samping itu coba ibu juga membaca Surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Alaq, An Naas, dan ayat Kursi, setiap habis salat magrib dan salat subuh, masing tiga kali, syukur ibu mampu membaca tujuh kali.”
Ketika Pak RT menasihati Bu Mery, Bu Mery mendengarkan dengan serius, tidak sadar air matanya meleleh. Bu Mery sadar betul bahwa sakit yang dideritanya itu adalah peringatan Allah karena Bu Mery selama ini tidak pernah menjalankan perintah Allah. Walaupun dia bisa membaca Alquran, ia memakai susuk kecantikan, yang dinyatakan sebagai syirik.
”Bu Mery sendirian, Bapak ke mana?,” tanya Bu RT. ”Baru pulang sebentar menengok rumah.” ”Karena masih ada keperluan lain, kami mohon pamit, semoga Ibu lekas sembuh. ”Terima kasih ya Bu, atas kunjungan dan doanya.”
Tak lama setelah rombongan Pak RT pulang, suami Bu Mery datang bersama dengan Mbah Marta. Saat Mbah Marta datang, Bu Mery sedang tertidur pulas.
”Silakan duduk Mbah. Istri saya baru tidur, tunggu ya Mbah sampai dia bangun.” Lima belas menit, Bu Mery terbangun, dan melihat Mbah Marta duduk di kursi yang biasa dipakai duduk suaminya.
”Sudah lama Mbah,” tanya Bu Mery kepada Mbah Marta. Suaranya lirih tetapi masih bias didengar oleh Mbah Marta.
”Ya kira-kira lima belas menit.” ”Mbah, tolong Mbah duduk di sini Mbah, saya mau bicara dengan Mbah.”
Mbah Marta mendekat dan duduk di dekat kepala Bu Mery.
”Tolong saya Mbah, saya minta tolong Mbah untuk mengeluarkan semua susuk yang Mbah pasang di tubuh saya. Saya mau bertobat.”
Mbah Marta terdiam, kemudian menghela napas panjang. ”Ya. Ya, akan saya keluarkan, tetapi jika susuk itu telah keluar semuanya Bu Mery akan kelihatan Bu Mery yang sesungguhnya, seorang wanita paruh baya yang kulitnya mulai kendor serta wajah terlihat keriput, nanti jika bercermin jangan kaget semuanya akan berubah total.”
”Yah, saya sudah siap.”
”Kalau begitu ibu tinggal melanggar larangan apa saja yang saya sampaikan ketika Bu Mery pasang susuk itu, nanti dalam jangka satu minggu sudah hilang. Yang tidak bisa hilang yang terpasang di kemaluan, karena memerlukan ritual khusus seperti ketika memasang.”
”Tapi Mbah.”
”Tidak ada tapi-tapian ini sudah perjanjian dan tidak boleh dilanggar, kalau tidak mau ya sudah sampai kapan pun itu tidak akan lepas.”
”Maksud saya, saya itu masih dalam kondisi sakit Mbah, apakah mungkin saya harus melakukan.”
”Ooooo itu ta, ya nanti jika sudah sembuh ya bisa, tetapi kalau Bu Mery masih menghendaki, ya mangga.”
”Ya nggak Mbah. Inginnya saya bersih semuanya.”
”Sebenarnya ini kesalahan Bu Mery sendiri. Kalau seandainya Bu Mery mengikuti nasihat saya, melayani tamu paling banyak tiga orang saja, tidak akan seperti ini. Coba berapa orang ibu layani sebelum ibu jatuh sakit, ibarat pegawai negeri ibu itu sudah 55 tahun sudah waktunya bebas tugas, jangan ikut-ikut yang muda yang masih belasan tahun, bisa peyok.”
Bu Mery hanya diam. Memang benar Mbah Marta sudah menasihati ketika pertama kali pasang susuk pengasihan. ”Mulai kapan Mbah saya bisa memulai mengeluarkan susuk itu?”
”Yah bisa kapan saja.”
Seminggu kemudian Bu Mery diperbolehkan pulang, tetapi masih perlu istirahat. Saat pulang dari rumah sakit wajah Bu Mery benar-benar berubah kelihatan sudah tua. Tetapi bekas-bekas kecantikan masih tetap terlihat pada pipinya yang lesung pipit dan giginya yang gingsul di sebelah kiri.
Setelah dua minggu istirahat, Bu Mery sudah mulai ikut mendatangai arisan Dasawisma, arisan RT, serta pengajian ibu-ibu di kampungnya. Kebetulan saat Bu Mery mulai berinteraksi dengan warga, bersamaan dengan datangnya Ramadan. Bu Mery aktif membantu ibu-ibu menyiapkan takjil untuk anak-anak TPA di masjid, dan juga rajin ikut berjemaah tarawih dan tadarus serta berjemaah salat subuh, dan pada waktunya iktikaf Bu Mery juga terlihat ikut iktikaf di masjid.
Pada acara Syawalan RW ,Bu Mery berkenan ngunduh atau ketempatan Syawalan karena memang rumahnya halamannya luas. Syawalan diakhiri dengan saling berjabat tangan. Bu Mery mendapatkan hidayah dari Allah Swt kembali ke jalan yang lurus, dan memang pada malam itu Bu Mery kelihatan cantik dan anggun mengenakan kebaya dan jilbab warna ungu. Berbalut batik (Jawa=jarik) bermotif Rujak Senthe. Bu Mery merasa belum pernah merasakan kebahagiaan seperti pada hari itu. Rasanya seperti menapaki lembaran baru dalam hidupnya, pada hari yang fitri.
Selamat menapaki lembaran-lembaran hidup baru Bu Mery, semoga bahagia selalu.
Sidoarum, 12 Agustus 2010
Penulis adalah penggiat sastra di Sanggar Sastra Yogyakarta
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







