Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Memutus Siklus Kekerasan di TV

Jumat, 22/07/2011 22:55 WIB -

Memperbincangkan isu kekerasan yang direpresentasikan di layar televisi agaknya menjadi isu yang tidak pernah habis. Bukannya semakin berkurang, berbagai stasiun televisi semakin berani menampilkan adegan kekerasan dalam beragam program tayangan televisi untuk dijual kepada penonton. Orientasi untuk mendapatkan rating menjadi alasan kuat dari motif stasiun televisi menampilkan kekerasan dalam program tayangannya.
Tentu saja, anak-anak menjadi semakin rentan semakin bertindak agresif dalam melakukan kekerasan akibat tayangan televisi yang mereka tonton. Dalam pandangan teori kultivasi (cultivation theory) yang dikemukakan George Gebner, semakin sering intensitas anak-anak menonton kekerasan di televisi, maka semakin tinggi juga kekerasan yang dilakukan anak-anak. Untuk membuktikan teori ini, kita bisa melihat bagaimana anak-anak di sekitar kita yang berperilaku meniru adegan kekerasan dari film yang mereka tonton dari layar televisi.
Kultur kekerasan yang ditampilkan televisi seolah tidak mengenal waktu. Pada saat bulan Ramadan misalnya, kekerasan yang ditampilkan oleh televisi bukannya berkurang, namun justru intensitasnya kian meningkat. Peningkatan kekerasan di televisi pada saat bulan suci ini seiring dengan bertambahnya durasi dan program tayangan yang dijual stasiun televisi kepada pemirsa.
Selama bulan Ramadan, mayoritas pemirsa televisi telah memulai aktivitasnya pada saat sahur dengan menyantap makanan sahur sambil menonton tayangan televisi. Pada saat aktivitas berpuasa ini dimulai, kekerasan sudah mulai menyapa pemirsa televisi. Kekerasan yang dihadirkan stasiun televisi bisa dipetakan menjadi dua bagian besar, yaitu kekerasan verbal dan kekerasan fisik.
Kekerasan verbal berwujud pada penggunaan kata-kata yang kasar dan melecehkan. Penggunaan kata-kata seperti ini semakin mungkin ditayangkan stasiun televisi karena umumnya pada saat sahur siaran televisi dilangsungkan secara live, di mana seleksi atas layak tidaknya tayangan menjadi sangat minimalis. Berbeda dengan program tayangan rekaman (tapping), di mana ada kesempatan yang lebih banyak dan panjang untuk melakukan seleksi atas kelayakan program tayangan.
Kekerasan verbal umumnya bisa dijumpai dalam tayangan dengan genre komedi yang banyak ditayangkan stasiun televisi pada saat sahur dan juga menjelang berbuka puasa. Artis yang tampil dalam tayangan ini umumnya mengandalkan spontanitas dalam melawak, bukan menyandarkan adegan dan dialog mereka pada naskah skenario yang ketat sebagaimana dalam komedi situasi. Sebagai akibatnya, dari spontanitas ini acapkali muncul dialog yang kasar dan melecehkan.
Sedangkan kekerasan fisik dapat berbentuk adegan yang agresif dan menyakiti diri sendiri atau lawan main, seperti memukul, menendang, menampar dan sejenisnya. Di bulan Ramadan, adegan seperti ini lazim dijumpai juga dalam tayangan komedi, sebagaimana di bulan-bulan lain juga banyak muncul.
Opera Van Java (OVJ), sebuah tayangan komedi yang sedang naik daun di sebuah stasiun televisi swasta, adalah salah satu contoh nyata dari tayangan komedi yang banyak menampilkan kekerasan fisik. Komedi yang dibintangi Parto Patrio, Sule dan Andre Stinky ini acapkali menampilkan pemain yang memukul lawan mainnya dengan peralatan yang ada dalam komedi ini. Memang di awal program tayangan, OVJ menampilkan pemberitahuan bahwa peralatan yang digunakan dalam tayangan komedi ini terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya, namun hal ini tidaklah memupus adanya fakta kekerasan yang ditampilkan dalam tayangan komedi ini.
Mengharapkan stasiun televisi mengurangi porsi adegan kekerasan di bulan Ramadan bisa jadi menjadi sebuah utopia, karena stasiun televisi terutama swasta adalah entitas bisnis yang beroperasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Keuntungan ekonomi ini didapatkan dari perolehan iklan yang tayang di stasiun televisi bersangkutan. Bagi para pengiklan, pemilihan di program tayangan apa mereka beriklan ditentukan oleh angka rating yang diperoleh program acara bersangkutan. Sedangkan rating sendiri didapatkan dari banyaknya penonton sebuah program acara. Dari logika rating inilah sebenarnya, lingkaran setan kekerasan di televisi bisa mulai diputus.
Karena rating berdasarkan pada banyaknya penonton, maka di tangan pemirsa televisi sebenarnya siklus kekerasan di televisi bisa mulai dihentikan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemirsa televisi guna menghentikan siklus kekerasan ini. Pertama, pemirsa televisi harus semakin cerdas memilih program tayangan yang mereka tonton. Pemirsa harus menjadi khalayak aktif yang secara selektif memilih program tayangan yang tidak menjual adegan kekerasan. Selama ini khalayak pemirsa televisi di Indonesia jika dilihat dari tipologinya masih tergolong pada khalayak pasif yang menonton televisi tanpa melakukan proses seleksi.
Jika pemirsa selektif memilih program tayangan yang nir-kekerasan, maka perolehan rating dari program tayangan yang mengandung unsur kekerasan akan berkurang. Sebagai akibatnya, para pengiklan akan berpikir ulang untuk memasang iklan pada program tayangan seperti ini dan selanjutnya stasiun televisi juga akan berpikir dua kali untuk menayangkan program acara yang mengandung unsur kekerasan karena ratingnya yang turun ini.
Momentum terbaik mulai menahan diri mengurangi porsi menonton tayangan televisi yang berisi adegan kekerasan ini adalah di bulan Ramadan, karena di bulan ini nafsu harus dikekang. Nafsu menonton acara televisi yang berisi kekerasan menjadi salah satu nafsu yang seharusnya dikekang, sebagaimana esensi berpuasa yang mengurangi hawa nafsu.
Kedua, khalayak penonton televisi harus berani melaporkan stasiun televisi yang menayangkan adegan kekerasan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), baik di tingkat pusat maupun daerah. Adegan kekerasan apapun bentuknya jelas merupakan pelanggaran terhadap regulasi KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (PPP-SPS). Semakin banyak aksi perlawanan yang digalang terhadap kekerasan di televisi, maka opini publik akan semakin menguat untuk melakukan resistensi atas maraknya tayangan televisi yang merepresentasikan adegan kekerasan.
Jadi, sebagaimana pemirsa televisi memiliki kebebasan untuk memilih saluran televisi melalui remote control, pemirsa televisi sebenarnya juga memiliki kemampuan menghentikan siklus tayangan kekerasan di televisi. Ini bisa dilakukan dengan cukup mematikan televisi yang menayangkan kekerasan dari remote control atau mengganti dengan saluran yang lain. 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :