Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Memupuk Rasa Ingin Tahu Siswa

Minggu, 29/01/2012 06:00 WIB -

Saya masih ingat, ketika kelas 3 SMA, salah satu guru memberikan pekerjaan rumah (PR) yang benar-benar aneh. Kalau PR biasanya diberi soal kemudian para siswa diminta menjawab, guru itu justru memberi PR supaya kami membuat minimal 20 pertanyaan dari salah satu bab dari sebuah buku.  Singkat kata,  kami diminta mencari masalah.
Apa yang terjadi? Saya justru terpaksa sangat serius membaca salah satu bab di buku tersebut. Kalau tidak membacanya, mana mungkin saya bisa membuat pertanyaan? Sayang dari SD sampai perguruan tinggi, benar-benar baru sekali itu saya diberi PR untuk membuat pertanyaan.
Pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi tentu mempengaruhi kebiasaan kita. Karena pendidikan kita berisi PR atau mengerjakan ujian untuk menemukan jawaban. Maka sedikit banyak ini mempengaruhi kebiasaan kita dalam bekerja atau berwirausaha. Atau stereotip yang terbangun adalah  kita hanya biasa menemukan solusi bukan berusaha menemukan masalah.
James Sprangler menemukan alat penyedot debu karena ia menghadapi masalah, yakni masalah kehilangan pekerjaan sebagai petugas kebersihan karena usia sudah terlalu tua. Terdorong oleh masalah itu, ia berusaha menemukan cara lain untuk membersihkan karpet.
Shigeo Shingo, seorang ahli efisiensi dari Jepang, dalam bukunya Single Minute Exchange Die, mengatakan, “Problem is the mother of improvement.” Masalah adalah sumber perbaikan, sumber kemajuan, sumber penemuan, dan seterusnya.
George Smith membuat permen bertangkai (Lolly Pop) pada awal tahun 1990. Pembuatan permen inovatif ini karena didorong oleh masalah persaingan yang sangat tajam dalam bisnis permen.
Charles Kettering, yang dulu adalah pimpinan riset General Motor, tulang tangannya hampir patah saat mengengkol mobilnya pada suatu pagi. Beberapa hari kemudian, seorang temannya tewas ketika sedang mengengkol untuk menghidupkan mobilnya. Sedih dan marah, Kettering duduk dan mendaftar lima masalah agar mobil dapat dihidupkan secara otomatis. Dia memulai memecahkan masalah yang sederhana sampai yang rumit, apa hasilnya? Ia menemukan starter otomatis Delco.
Maka saya mengajak para guru untuk melatih anak didik tidak hanya mencari solusi atau jawaban terhadap masalah, tetapi menemukan masalah. Salah satu caranya adalah seperti guru SMA saya dulu, yakni tugas PR yang meminta anak didik untuk membuat pertanyaan. Seluruh pertanyaan tersebut meliputi  pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui atau yang ingin diketahui oleh anak didik.

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :