Di era demokrasi saat ini, suara perempuan tak bisa dianggap remeh. Termasuk dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solo 2010. Terlalu bodoh jika masih ada pola pikir yang menganggap remeh suara perempuan dalam ajang pesta demokrasi seperti Pilkada ini.
Meski memang KPU Kota Solo belum secara resmi melansir data pemilih perempuan dalam Pilkada Kota Solo 2010. Namun potensi kekuatan suara perempuan belum banyak yang memprediksi mengalir kesiapa dari calon yang bakal maju sebagai pasangan Walikota dan Wakil Walikota Solo.
Sulit memprediksi arah suara perempuan nanti. Karena, untuk calon keterwakilan perempuan di ajang Pilkada Kota Solo 2010 ini sangat minim. Satu-satunya, kandidat perempuan yang maju, santer terdengar hanya Krisnina (Nina) Akbar Tandjung. Itu pun kalau benar, hanya akan menjadi pendamping Edhy Wirabumi.
Kendati demikian, kemunculan Nina Akbar Tandjung sebagai tokoh keterwakilan kaum perempuan juga belum tentu meraup suara perempuan di Kota Solo. Terlebih, kemunculan sosok Nina terhitung baru dan jarang terdengar gaung programnya yang menyuarakan kaum perempuan di Kota Solo.
Selain diprediksi masuk ke kantong calon walikota dari Partai Demokrat jika nanti mengusung Nina sebagai wakil walikota, masih ada peluang lain arah suara perempuan. Setidaknya ada pasangan incumbent (Jokowi-Rudy) yang sangat mungkin juga berhasil merebut suara kaum perempuan.
Peluang lain yang juga patut berpotensi memukau suara kaum perempuan adalah calon dari unsur independen. Potensi yang dimiliki golongan calon walikota dari unsur independen justru dari kedekatan pragmatis dalam komunikasi sosial. Beberapa kandidat dari calon independen juga cukup beragam. Dari kalangan kampus seperti Bambang Setiadji (Rektor UMS) yang pemikirannya bisa menarik kaum perempuan yang selama ini jarang terangkat. Dari kalangan pengusaha seperti Zaenal Abidin Zain dan Slamet Subagyo dengan latar belakang pengusaha setidaknya bisa menjadi teladan yang mungkin saja dilirik kaum perempuan yang bosan dengan persolan politik.
Terlalu dini memang memprediksi kemana suara kaum perempuan nanti mengalir ke calon mana, terlebih belum begitu santer terdengar program serta visi misi yang menyorot keberpihakan kaum perempuan. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







