Kamis, 24/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Memelihara Kreativitas Anak

Minggu, 12/02/2012 06:00 WIB -

Suatu waktu, anak saya yang berusia empat tahun mengatakan kepada eyangnya. ”Rumah punya Eyang dilipat aja, dibawa ke rumahku. Jadi nggak usah pulang.” Anak saya pada suatu saat memakai jam tangan di kaki. Ya, banyak lagi kelakukannya yang bertolak belakang dengan apa yang seharusnya dilakukan.
Bagaimana tidak? Rumah yang diasumsikan tidak boleh bergerak itu justru diminta dilipat dan dibawa. Jam yang seharusnya dipasang di tangan dipasang di kaki. Tempat yang seharusnya untuk duduk dipakai berdiri. Tingkah anak seperti ini lebih baik dipandang sebagai bentuk kreativitas dan keingintahuan anak, daripada dipandang sebagai bentuk kenakalan anak.
Tony Buzan (2002) meringkas hasil penelitian di Amerika mengenai potensi kreatif orang-orang dari berbagai usia (lihat tabel).
Kreativitas orang cenderung terus berkurang dengan bertambahnya usia. Salah satu tugas orang tua dan guru sebenarnya adalah memelihara kreativitas anak. Saya tulis “memelihara”, karena anak-anak pada dasarnya kreatif. Tinggal kita memelihara kreativitas tersebut.
Bagaimana memelihara kreativitas anak? Pertama, jangan sering-sering mengatakan “kamu salah” pada diri anak. Karena bila kata-kata ini sering didengar anak, bisa-bisa anak menjadi takut salah. Takut salah membuat anak menjadi takut mencoba. Takut mencoba sesuatu akan menghambat kreativitas.

Kedua, sering-sering mengajak anak ke alam bebas. Saat ini banyak lahan kosong berganti menjadi perumahan. Susah mencari lagi lapangan bulu tangkis, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Mainan anak-anak sekarang berubah ke facebook, twitter, online games dan warung internet. Pergaulan face to face diganti dunia maya, statistik, dan software komputer. Mengajak anak ke alam bebas, mendorong kerja otak kanan, yang kreatif.

Ketiga, anak-anak sering diajarkan untuk bercerita. Entah cerita dalam bentuk ucapan maupun dalam bentuk tulisan. Mata pelajaran di sekolah lebih banyak mendorong anak untuk memberikan argumen (alasan-alasan sistematik), bukan bentuk cerita (yang lebih banyak mendorong imajinasi). Dongeng atau cerita sangat penting untuk memelihara anak.
Keempat, saat mencatat mata pelajaran, anak-anak supaya menggunakan alat tulis (bolpen atau pensil) yang berwarna-warni. Warna-warna akan memelihara kerja otak kanan anak. Hal ini juga akan tidak membosankan anak dalam belajar.  Tentu masih banyak cara untuk memelihara kreativitas anak. Sehingga ketika usia mereka bertambah kreativitas mereka tidak menurun.

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :