Menjambak atau menarik rambut orang lain merupakan kebiasaan buruk yang terkadang sering dilakukan pada anak di usia playgroup. Pada masa ini anak mulai memasuki masa-masa sosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Tak dimungkiri perilaku jenis ini memang sering membuat orang bingung, karena kalau dilarang maka akan membuat anak menangis.
Seperti halnya yang pernah dialami Juwariyah (40) seorang ibu rumah tangga ini pernah merasa jengkel pada anak keduanya yang bernama Edo. Saat Edo berusia 2,5 tahun Edo kerap menunjukkan kebiasaan buruknya, menjambak. Kebiasaan tersebut biasa dilakukannya saat keinginannya tidak tersampaikan.
Nanik Prihartanti, Psikolog UMS,mengatakan menjambak, memaki, dan menendang ini merupakan wujud agresivitas atau refleksi emosional anak. Selain itu, menjambak bisa dikategorikan sebagai cara komunikasi anak secara verbal kepada orang dewasa.
Menurutnya penyebab anak melakukan perilaku negatif tersebut adalah untuk mencapai apa yang diinginkan. Misalnya saja si anak ingin merebut bola yang dibawa temannya maka untuk mendapatkannya anak menggunakan cara menjambak. “Jadi anak yang sering kali melakukan hal tersebut, mereka akan berasumsi tindakan buruk itu bisa ia jadikan senjata untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan,” ujarnya.
Nanik melanjutkan, pemicu tindak kekerasan secara fisik ini bisa dipengaruhi adanya sosial modeling, yang bisa didapat dari kedua orangtuanya atau di lingkungan keluarganya. “Ini faktor pemicu yang kuat kenapa anak berperilaku seperti itu atau bisa saja si anak ini yang menjadi sasaran kakaknya, kalau dia nakal si kakak akan menjambak adiknya. Secara tidak langsung adik akan menirukan apa yang dilakukan kakaknya kepada dirinya,” jelasnya lagi.
Diakui olehnya, cara komunikasi melalui tindakan buruk ini akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang si anak. Secara tidak langsung proses pembiasaan perilaku negatif akan tertanam pada anak sampai ia tumbuh dewasa.
“Jika ini diabaikan, anak akan menggunakan cara tersebut karena dia berpikir cara menjambak boleh dilakukan. Dalam hal ini orangtua harus selalu menegur anak agar anak bisa jera dan tidak melakukan tindakan itu lagi. Lakukan teguran sesuai dengan batas usia si anak,” kata Nanik.
Sentuhan Positif
Cara yang cocok untuk mengatakan dan bertindak dengan tegas adalah, katakan kepada anak secara lembut tidak boleh menarik rambut, karena akan mengakibatkan sakit di kepala. Dan jangan menarik dan membentak anak ketika ia sedang menjambak temannya, karena secara tidak langsung anak akan melakukan tindakan agresif yang lebih.
“Lakukan tindakan dan perkataan secara halus, meskipun kemampuan bicara si anak masih terbatas, tapi tetap bangun komunikasi agar dia selalu percaya bahwa apa yang diajarkan orangtuanya adalah suatu hal yang baik,” imbuhnya.
Hindari membalas dengan menarik rambut anak, karena ini akan memberikan pesan pada anak, bahwa perilaku ini boleh dilakukan. Menurut Nanik cara membalas jambakan anak ini tidak akan membuat jera anak karena kemampuan empati anak pada usia itu belum berkembang. Kemudian ajarkan anak melalui sentuhan-sentuhan positif lewat tangan.
Sentuhan positif ini secara tidak langsung akan mengajarkan anak pada perilaku moral melalui tindakan-tindakan yang positif. “Di sini orangtua sangat berperan penting untuk membentuk perilaku dan karakter anak dalam perkembangannya. Jika orangtua tidak menginginkan kebiasaan buruk itu dilakukan anak, maka orangtua jangan memberikan contoh-contoh tindak agresivitas yang negatif,” tutupnya.
Sri Ningsih
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




