Warna dan desain yang natural dari sebuah hunian kadang membuat orang bingung dalam penataannya. Karena dengan tampilan yang natural bisa membuat hunian terlihat biasa dan tampil pucat. Selain itu dengan perabotnya kadang membuat hunian tampak berat dan sumpek.
Tetapi ketika mengunjungi rumah yang beralamatkan di Jalan Dewa Ruci, Krapyak RT 01 RW VII, Desa Pucangan, Kartasura, akan terasa beda. Karena rumah ini terkesan estetis dengan perpaduan perabot dan arsitektur. Dan pastinya megah dengan desain limasannya.
Nuansa alami pun langsung terlihat secara kasat mata. Dari mulai jalan menuju rumahnya, pepohonan serta rerumputan yang mengelilingi rumahnya. Bahkan terlihat banyak pohon bambu berada di sekeliling rumah Mugiyono. Sehingga suasana yang natural pedesaan pun langsung terpancar dari hunian ini.
Tak hanya itu, ornamen yang ada di rumahnya pun juga tetap saja mengingatkan akan keaslian batu bata serta keaslian kayunya. Hal tersebut terlihat pada bangunan limasan di depan rumah utamanya. Pilar-pilarnya adalah kayu jati dengan warna khasnya menjadi tiang dari bangunan limasan tersebut.
Lalu dinding rumah utamanya pun juga disengaja memperlihatkan batu-batanya. Bahkan batu bata tersebut warnanya tetap alami seperti sediakala ketika habis dibakar. Tak hanya itu, gebyok-gebyok yang berada di rumahnya yang berjumlah 14 gebyok tersebut masih memiliki warna kayu dan tidak dicat sama sekali.
“Kebetulan waktu dulu membangun, saya dan istri memiliki konsep mambangun rumah yang natural atau alami. Sehingga dari segi dinding dan kayu memang sengaja tidak diplaster,” terang Mugiyono saat ditemui Joglosemar di kediamannya.
Tak hanya mengusung kealamian, ternyata Mugiyono juga mengusung konsep tradisional. Terlihat dari model dan penggunaan interior rumahnya. Arsitekturnya yang bergaya Joglo dan perabot rumahnya adalah perabot tradisional.
Seperti lesung, serta tempat yang digunakan orang zaman dulu untuk menyimpan sembako, mesin jahit dan lain sebagainya. “Kebetulan pas ke Klaten lalu ketemu lesung, cocok ya dibeli. Jadi saya dapatnya bukan lantaran berburu barang antik, namun secara kebetulan,” katanya.
Sedangkan untuk bahan perabotnya, Mugiyono hanya tertarik pada satu jenis kayu yaitu jati. Sehingga untuk, pintu, almari, meja dan kursi pun terbuat dari kayu jati. Bahkan satu set kursi tamunya terbuat dari akar jati. Ada juga yang bentuknya menyerupai akar. “Kebetulan melihat pameran properti di Sriwedari, lalu lihat-lihat. Kok bagus dan tertarik, lalu kita beli,” imbuhnya.
Untuk Barbeque
Selain terlihat estetis dengan konsep back to nature- nya, hunian ini juga sangat memperhatikan manfaat dari setiap bagian. Ada salah satu dari ruangan atau tepatnya di bagian belakang ternyata disengaja untuk dibuat tanpa atap.
Ibarat halaman rumah di dalam ruangan. Selain memiliki nilai estetika, ternyata dengan halaman di dalam rumah tanpa menggunakan atap tersebut juga mampu membantu pencahayaan ruangan.
Selain itu, di ruang terbuka tersebut dimanfaatkan untuk taman rumah. Selain itu ada juga terdapat kolam ikan serta dilengkapi dengan grojokan air mini.
Ternyata rumah tersebut dimanfaatkan Mugiyono dan keluarga untuk bersantai dan juga buat acara barbeque. Sehingga kalau pas kumpul dengan keluarga besar atau teman-teman lama, biasanya ada acara manggang-manggang di ruang tersebut. Selain tempatnya terbuka, asap juga langsung terbang ke atas.
“Kalau waktu Lebaran pasti keluarga pada kumpul ke rumah saya, lalu kita panggang-panggang ikan bersama. Tak hanya itu, terkadang kalau ada acara temu alumni juga memanfaatkan ruangan tersebut,” imbuh Mugiyono. n
|Dwi Hastuti
|hastuti_uns86@yahoo.com |
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




