Begitu melihat rumah milik Heru Prasetyo yang beralamat di villa Pendawa Banyuagung, Banjarsari akan terasa hommy. Rumah dengan fasad yang sederhana ini terlihat menarik. Dengan tidak menonjolkan bangunan yang megah, rumah milik Heru menawarkan sebuah kenyamanan dan membuat kerasan.
Secara fasad bangunan, hunian dengan luas 147 meter persegi ini terlihat begitu sederhana. Hunian ini sedikit mengambil gaya arsitektur minimalis tropis. Tetapi tidak secara tegas mengambil tren minimalis tetapi mengolaborasikan karakteristik hunian bernuansa alam. Apalagi didukung dengan kondisi geografisnya yang mana di samping rumahnya masih terdapat tanah kosong dengan banyak pohon.
Heru bercerita, rumah yang dihuninya ini dibangun pada tahun 2009. Sekitar enam bulan proses pembangunan tersebut berjalan. Baru lima bulan yang lalu rumah tersebut siap untuk ditempati.
Meski siap ditempati dan terlihat menarik, tetapi menurutnya rumah ini masih sering dilakukan beberapa sentuhan. Karena menurutnya rumah adalah layaknya seni pertunjukan. Maka harus ada ide-ide supaya panggung itu terlihat menarik.
“Sehingga kalau panggung tersebut hanya itu-itu terus maka penonton pun akan bosan, maka harus kreatif supaya menciptakan panggung yang di sini adalah rumah semenarik mungkin supaya tidak bosan,” pungkasnya.
Ide kreativitas Heru pun membuahkan hasil. Dengan melakukan eksplorasi gaya arsitektur, Heru berhasil menjadikan rumah layaknya sebuah seni, yang enak dilihat. Bahkan Heru selalu melakukan penataan ulang dekorasi dan perabotnya untuk setiap pekan.
Bahkan yang menarik, untuk dinding rumahnya pun juga dibuat tidak rata. Misalnya seperti yang terlihat di dinding depan dan di dinding dapur. Heru sengaja tidak memplaster bagian dinding lalu menempelinya dengan lukisan.
Lalu ketika lukisan tersebut sudah lama dipasang, lalu dilepas dan diganti dengan motif lain. Begitu juga untuk tanaman stifa yang ada di pojok-pojok ruang yang setiap minggu diganti bersama dengan keluarganya.
Tusuk Sate
Yang menonjol dari rumah Heru adalah nuansa keterbukaannya. Lantaran ingin menghadirkan nuansa keterbukaan, rumah ini pun didesain dengan tidak ada pagar. Begitu memasuki halaman, akan disambut dengan rumput yang hijau.
Lalu biasanya halaman tersebut diberi kanopi supaya terlindung dari hujan, namun Heru lebih memilih untuk tidak menggunakan kanopi. “Kalau menggunakan kanopi, maka terlihat sempit. Lalu ketika tidak menggunakan kanopi maka halaman terlihat luas,” terang Heru saat ditemui Joglosemar di kediamannya beberapa waktu yang lalu.
Lalu ketika memasuki rumah, maka terlihat sangat terbuka. Antara ruang tamu, keluarga serta ruang makan dibuat los, tidak ada partisi. Hanya saja, antara ruang tamu tersebut hanya terdapat almari kecil yang difungsikan untuk tempat suvenir dan juga sebagai partisi.
Untuk penataan ruang, terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur serta untuk jemuran. Lalu untuk hiasan rumah, Heru lebih memilih lukisan dan topeng dengan ditempel di dinding. Sedangkan untuk di almari, terdapat suvenir barang-barang kenangan yang didapat ketika dirinya berkunjung ke luar negeri. “Ada yang berasal dari Singapura lalu ada juga yang berasal dari China,” terang Heru.
Mengenai lokasi yang ditempati untuk rumah tersebut merupakan tusuk sate. Meski posisinya tusuk sate, namun Heru tidak menghindari lokasi tersebut. Malah ketika mendapatkan lokasi tusuk sate tersebut dirinya suka, lantaran kalau suatu saat menggelar pentas maka lokasinya menjadi luas. Karena bisa menggunakan dua jalur.
“Banyak yang menghindari rumah ketika berada di posisi tusuk sate. Karena menurut fengshui tidak baik. Namun saya berpikir positif saja, dan malah memiliki dua jalan sehingga sebagai seorang seniman maka ketika menggelar acara bisa luas,” pungkasnya. (dui)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




