Oleh Titik Setyaningsih
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Suka tidak suka manusia selalu dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Hal yang paling pasti dan tidak bisa dipungkiri adalah kebutuhan pokok terutama pangan, sandang dan perumahan. Melambungnya harga kebutuhan pokok tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi berbagai pihak terutama para ibu rumah tangga sebagai menteri keuangan yang mengatur anggaran rumah tangga masing-masing.
Anehnya manusia juga dihadapkan pada keinginan yang tidak terbatas sementara di satu sisi alat pemuas kebutuhan dan keinginan jumlahnya terbatas. Di suatu kondisi ekonomi tertentu bahkan seseorang sulit membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang hanya suatu keinginan.
Prestise, gengsi, dan gaya hidup sering disebut-sebut sebagai jawaban terbaik untuk membenarkan keinginan menjadi kebutuhan. Gaya hidup kita sudah mengarah pada konsumerisme sehingga orang tidak bisa memilah untuk memenuhi keinginan. Kita menjadi dilupakan mana yang prioritas mana yang hanya sebagai penghias.
Untuk menyiasati kebutuhan hidup yang membengkak seperti sekarang ini kita tidak membutuhkan berbagai alasan mengapa kebutuhan tersebut harus dipenuhi, namun dibutuhkan cara yang cermat agar tidak pontang-panting ketika memenuhinya.
Langkah pertama tentunya penentuan skala prioritas. Namun hal sepele ini sering kali meleset dari apa yang telah direncanakan bahkan telah didaftar. Sebagai contoh seorang ibu yang belanja dengan daftar pembelian minyak goreng, beras, gula, telur. Di dalam dompet si ibu menyisipkan uang tambahan sebagai cadangan. Sering kali kenyataannya barang yang dibeli tidak hanya kebutuhan pokok yang tercatat namun juga beberapa barang lain ikut terbeli, dan uang yang semula untuk cadangan tersebut pun ikut ludes untuk membayar, bahkan harus ditambah barang lain dan diberikan label utang!
Hal ini tentu tidak bakal terjadi bila kita memiliki jiwa kedisiplinan yang tinggi dalam membelanjakan uang yang dipercayakan di tangan kita. Karena konsekuensi pembelian sesuatu barang akan mengorbankan kebutuhan lain yang mungkin lebih perlu namun harus dikorbankan saat itu.
Langkah kedua, menentukan besaran uang yang bisa disisihkan untuk ditabung. Saat ini ketika dihadapkan dengan biaya lain yang tak kalah urgen yaitu biaya pendidikan, kita sendiri sulit untuk membayar langsung dan lebih baik menggadaikan apa yang bisa digadaikan. Atau mencari alternatif berupa kredit pendidikan dengan bunga yang bervariasi.
Kebiasaan ini yang sering kali salah kaprah. Padahal semua itu bisa kita rencanakan asal kita rajin mencatat mana yang benar-benar merupakan kebutuhan kita, lalu menetapkan cara untuk memenuhinya. Bahkan jika kita sudah dibiasakan memenuhinya maka bukan tidak mungkin ada beberapa keinginan yang bisa kita penuhi.
Sebagai contoh kita tahu pasti kapan si anak masuk sekolah, bulan apa, berapa lama waktu kita bisa memenuhinya. Lalu kita tentukan rencana untuk menyisihkan uang setiap bulannya.
Suatu sekolah bahkan telah menganjurkan agar orangtua murid menabung Rp 2.000 per hari untuk mengangsur kebutuhan makan anak didiknya selama sebulan. Biaya makan siang di sekolah setiap bulan adalah Rp 50.000. Dengan demikian wali murid tidak menjadi terlalu payah untuk membayar karena kebiasaan ini dimulai dengan mengumpulkan uang kecil.
Begitu pula program tabungan pendidikan yang dicanangkan bank tertentu adalah untuk mengajak setiap orangtua untuk menyisihkan penghasilan setiap bulannya minimal Rp 100.000 dengan waktu yang disepakati. Mulai minimal jangka waktu pengambilan tabungan dua tahun kemudian hingga 18 tahun kemudian. Hal ini akan mengantisipasi kondisi ketika anak masuk sekolah mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.
Asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan pada dasarnya memiliki karakteristik sama. Selain pengambilan investasinya bisa disesuaikan dengan jadwal masuk sekolah anak Anda, keduanya sama-sama memberikan fungsi proteksi. Artinya, ketersediaan dana pendidikan anak Anda akan tetap terjamin meskipun risiko kematian terjadi pada diri Anda.
Secara khusus, asuransi pendidikan merupakan asuransi yang menawarkan dua kegunaan, yaitu fungsi proteksi dan investasi. Fungsi proteksinya akan menanggung risiko kematian atas Anda, yaitu dengan menjanjikan sejumlah uang tertentu jika Anda mengalami kematian.
Uang pertanggungan yang diberikan biasanya telah disesuaikan dengan biaya pendidikan anak Anda dan sudah disepakati di dalam polis. Sebagai investasi, asuransi akan mengelola dan menginvestasikan sebagian premi yang Anda bayarkan. Sebagai ganti pengelolaan uang Anda itu, perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah dana yang besarnya sudah disepakati dalam polis. Waktu pembayarannya pun sudah dijadwal, hal itu agar sesuai dengan waktu sekolah anak Anda.
Tabungan pendidikan memiliki karakteristik yang mirip dengan asuransi pendidikan. Dengan jenis tabungan ini, Anda diharuskan menabung sejumlah uang tertentu yang disepakati antara Anda dan pihak bank beserta tabel pengembalian yang akan diterima sesuai dengan jangka waktu yang Anda tentukan. Tabungan bulanan pun dihitung dari target dana pendidikan yang akan Anda ambil, kelak.
Langkah ketiga, berhemat. Beberapa kebiasaan yang bisa dipenuhi sebelumnya harus direlakan dihapus dari daftar karena anggaran sudah tidak lagi memungkinkan untuk itu. Misalnya seringnya kebiasaan makan di luar atau membelikan snack untuk anak yang bermacam-macam, harus berani diubah dengan membiasakan makan di rumah dan membuat snack sendiri yang lebih sehat dan tidak mengandung MSG.
Langkah keempat, menambah penghasilan baru. Satu-satunya jalan jika skala prioritas kebutuhan sudah tidak bisa diganggu gugat dan wajib dipenuhi sementara arus uang masuk terbatas maka tidak ada jalan lain selain mencari aliran uang masuk yang lain. Dengan memanfaatkan sumber daya yang masih mungkin maka ada beberapa usaha yang bisa dimulai dari rumahan namun bisa menambah penghasilan yang dahsyat. Mulai dari memanfaatkan HP untuk berjualan pulsa, membuka les privat, melayani katering, menjadikan rumah sebagai tempat penitipan anak, membuka usaha laundry, cuci motor, cuci helm, membuka usaha pengisian air minum isi ulang dan sebagainya yang ke semuanya berangkat dari kemungkinan kita untuk senang ketika menjalankannya.
Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah tetap menjadi manusia yang low profile. Kelihatannya sepele tapi inilah yang penting dari semua usaha di atas. Sumber utama dari kebutuhan dan keinginan adalah pengendalian diri. Seberapa pun hebatnya usaha yang kita jalankan dan berlimpahnya uang yang berhasil dikumpulkan, kalau berada di tangan orang serakah maka tidak akan ada artinya. Apalagi jika sudah bertemu dengan orang yang sombong, sok gaya, sok kaya, dan menghalalkan pemenuhan gengsi, maka berapa pun nilai kekayaan dan besarnya uang yang dimiliki tidak akan pernah punya arti lantaran tidak pernah mencukupi. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







