Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Manfaat Nasoendoskopi Sebagai Sarana Diagnostik

Rabu, 01/02/2012 06:00 WIB - Triawati Prihatsari Purwanto

Masalah kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan (THT) termasuk salah satu masalah kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, banyak penyakit THT yang diawali dengan gejala atau tanda umumnya penyakit lain. Seperti halnya dengan penyakit lain, penegakan diagnosis penyakit THT harus dilakukan dengan pemeriksaan yang valid. Salah satu jenis penyakit THT yang banyak dijumpai dalam praktik keseharian dokter adalah penyakit yang menyerang bagian sinus. Bahkan tidak jarang penyakit yang menyerang sinus ini harus diatasi dengan melakukan tindakan operasi.
Saat ini, operasi sinus paranasal menggunakan endoskopi sudah semakin banyak dilakukan para ahli THT di Indonesia, walaupun belum semua rumah sakit di kota-kota besar memiliki fasilitasnya. Dengan bantuan endoskopi, banyak keuntungan yang diperoleh antara lain dapat melihat bagian-bagian yang kecil dan tersembunyi dari pandangan mata sehingga diagnosis dapat lebih tepat, trauma operasi menjadi lebih minimal dan pengobatan penyakitnya dapat menjadi lebih tuntas.
Idealnya, semua pasien rinologi dapat menjalani seluruh rangkaian pemeriksaan sehingga diagnosisnya dibuat setepat mungkin. Anamnesis yang teliti antara lain mengenai riwayat perjalanan penyakit, bagaimana dan dimana lokasi keluhan pasien, bagaimana sifat secret hidungnya dan lain-lain sudah dapat menunjukkan 50 persen diagnosis. Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior masih tetap dibutuhkan untuk pemeriksaan pendahuluan. Kemudian barulah dilanjutkan dengan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang seperti foto polos, CT scan, pemeriksaan laboratorium darah, mikrobiologi, tes alergi dan lainnya.
Bagian-bagian atau anatomi hidung (sinus paranasal) sendiri adalah kompleks ostiomeatal, sinus maksila, sinus etmoid, sinus frontal, sinus sphenoid, dan sistem mukosilier. Menurut Dokter Spesialis THT RS Kasih Ibu Surakarta, dr Eddy Burhan, SpTHT-KL, dalam Seminar Medis Update Management Minimal Invasive Surgery and Diabetic Foot, yang diselenggarakan akhir pekan lalu, di Diamond Solo Convention Centre, perlengkapan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan nasoendoskopi sendiri, selain teleskop adalah sumber cahaya serta kabel penghantar cahaya. Pemeriksa dapat melihat langsung dengan mata yakni dengan cara mengintip atau dapat juga melalui layar monitor. “Untuk melihat monitor diperlukan suatu kamera khusus lengkap dengan kabel penghubung. Keuntungan menggunakan monitor adalah dapat dihubungkan dengan alat perekam video untuk membuat dokumentasi,” ungkapnya.
Dokumentasi dengan pemeriksaan nasoendoskopi dapat juga berupa foto yang diambil melalui kamera foto yang dihubungkan langsung dengan endoskopi. Sementara itu, keuntungan lain menggunakan monitor adalah operator tidak cepat lelah karena harus terus menerus mengintip lensa dengan membungkukkan badan atau posisi kepala yang miring. Sedangkan keuntungan melihat langsung tanpa monitor yaitu lebih mudah mengorientasi lapangan operasi, terutama untuk yang baru belajar menggunakan endoskopi karena apa yang dikerjakan terlihat langsung.
Pendarahan
Dr Eddy menambahkan, teleskop yang dipilih untuk pemeriksaan nasoendoskopi di kamar periksa adalah endoskop kaku ukuran Hopkins dengan diameter empat milimeter atau 2,7 milimeter bersudut nol derajat dan 30 derajat. Sebaiknya dipakai endoskop berdiameter empat milimeter yang nol derajat untuk memeriksa rongga hidung secara keseluruhan. “Alat ini dapat untuk melihat dengan baik bagian-bagian kavum nasi sampai nasofaring. Sedangkan endoskop yang bersudut 30 derajat digunakan untuk melihat bagian-bagian yang sulit dilihat karena tidak tercakup dalam lapang pandangan misalnya untuk melihat lebih jelas bagian-bagian dinding lateral kavum nasi atau muara tuba Eustachius dan fosa Rossenmuler,” ujar dr Eddy.
Bahkan pada rongga hidung yang sempit, kadang-kadang tidak dapat dilalui oleh endoskopi berdiameter empat milimeter, maka dipakai endoskop 2,7 milimeter. Demikian juga dilakukan hal yang sama untuk pemeriksaan pada anak-anak. Di sisi lain, beberapa manfaat atau kegunaan nasoendoskopi sebagai sarana diagnostik yaitu memudahkan mengobservasi secara langsung jalan napas dan daerah sekitarnya. Kemudian juga membantu diagnosis gangguan pernapasan dan internal bleeding atau pendarahan dalam, serta membantu diagnosis kelainan seperti polip nasi, sinusitis, sumbatan hidung, trauma, tumor dan lainnya.
Nasoendoskopi sebagai sarana diagnostik juga memberikan manfaat membantu diagnosis penyakit sinus atau hidung, atau bahkan keduanya. Dr Eddy memaparkan, dengan nasoendoskopi juga mampu mengetahui efek dari alergi berat dan gangguan mukosilier, mengetahui adanya obstruksi hidung, serta mengetahui penyebab nyeri wajah maupun sakit kepala.

Triawati Prihatsari Purwanto 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :