Adik-adik, dah pada tahu dengan junk food. Itu tuuh, makanan yang dijual di restoran-restoran waralaba dari negara Paman Sam. Dengan jenis makanan seperti ayam goreng, kentang goreng, burger serta minuman soda.
Adik-adik jika ditawarin makanan cepat saji atau bahasa kerennya disebut junk food pasti nggak akan nolak, ya? Eeits tunggu dulu, jangan buru-buru menggemari makanan cepat saji itu. Sebelum adik-adik tahu alasannya kenapa harus menjauhi junk food, yook kita ulas tentang makanan cepat saji itu sendiri.
Apa sich sebenarnya junk food itu? Junk food merupakan makanan yang kualitas gizinya rendah atau juga makanan sampah. Biasanya makanan ini dikemas sebagai hidangan cepat saji dengan menawarkan rasa yang lezat dan membuat ketagihan.
Aduh ternyata junk food tersebut gizinya rendah ya? Berarti percuma dong makan junk food tapi tidak bergizi. Mending kita makan makanan yang lain yang memiliki gizi yang tinggi. Karena kalau makanan yang kita makan itu mengandung banyak gizi, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan diri kita.
Lalu bagaimana dengan adik-adik apakah tetap mengidolakan junk food sebagai makanan favorit atau lebih suka makan yang banyak mengandung gizi? Namun pada dasarnya menyantap junk food memang membawa kenikmatan tersendiri. Sehingga adik-adik pasti senang ketika dibelikan junk food oleh Mama atau Papa.
Asupan Makanan
Dengan pengertian tersebut, sangatlah jelas dari sisi kesehatan sudah diketahui dengan jelas betapa besar risiko kesehatan yang dihadapi bila mengonsumsi makanan junk food secara rutin.
Seperti yang diungkapkan oleh dokter Lucy Endang Savitri, dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta. Dokter Lucy menyarankan agar para orangtua sebaiknya memperhatikan asupan makanan bagi buah hati. Makanan sampah atau dikenal dengan istilah junk food yang miskin nilai gizi menyebabkan anak cenderung berperilaku nakal, hiperaktif, dan sulit berkonsentrasi.
¨Junk food biasanya mengandung padat kalori, lemak, dan bumbu-bumbu dengan kadar garam tinggi sehingga menimbulkan sensasi rasa yang sangat lezat di lidah. Ini jelas tidak sehat karena lemak dan kalori melebihi batas yang ditentukan. Padahal, komposisi makanan sehat itu kan harus seimbang. Selain itu bahan pengawet, pemanis buatan serta zat pewarna ini juga tidak bagus untuk kesehatan,¨ terang dokter Lucy saat ditemui Joglosemar di kediamannya beberapa waktu yang lalu.
Anak-anak dengan pola makan tidak sehat, lanjut dokter Lucy, cenderung memiliki performa yang tidak bagus di sekolah. Mayoritas memiliki hasil tes buruk. Selain berpengaruh pada kesehatan mental, asupan makanan yang tidak sehat juga memicu obesitas. Sebab, makanan sekarang banyak yang mengalami proses pengolahan dengan tambahan bahan makanan kalori tinggi seperti garam, gula, dan lemak.
”Pada tingkat tertentu, akan membahayakan kehidupan anak. Karena di masa anak-anak itu merupakan masa untuk pertumbuhan dan perkembangan baik itu secara fisik maupun mental” katanya.
Lucy menyarankan para orangtua untuk memperbanyak asupan makanan nonolahan seperti buah dan sayur segar untuk hidangan anak-anak. Tentunya, dengan diimbangi aktivitas fisik yang menyehatkan seperti olahraga.
Junk food akan bermasalah jika terlalu sering dikonsumsi. Adik-adik akan mengalami beberapa hal, seperti kurang nutrisi karena junk food tidak bernutrisi. Karena kekurangan nutrisi tentu saja menjadi mudah lelah, susah berkonsentrasi, myocardial infarction, kolestrol, diabetes, stroke serta obesitas. (Dwi Hastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







