Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Mahasiswa (Nggak) Hobi Baca

Sabtu, 27/03/2010 09:00 WIB - Risma Hasnawaty

Buku adalah jendela dunia, dengan buku kita bisa tahu berbagai hal. Bisa dikatakan buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Namun, seiring berjalannya waktu, buku telah mulai di tinggalkan dan mahasiswa pun saat ini lebih asyik untuk melihat tayangan televisi daripada membaca buku. 
Selain itu, saat ini budaya lisan juga lebih mendominasi. Mahasiswa lebih banyak terlihat ngobrol dan nongkrong-nongkrong di kampus, daripada ke perpustakaan untuk menambah pengetahuannya. Padahal, sebagai kalangan intelektual, membaca merupakan hal yang semestinya diakrabi oleh mahasiswa. Sebenarnya ada fenomena apa di balik malasnya mahasiswa membaca?
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi (USB), Nuke Martiarini, SPsi mengungkapkan, adanya pergeseran budaya membaca mahasiswa sebenarnya memang terjadi akibat adanya berbagai kemajuan teknologi yang lebih memanjakan mata dan telinga. Namun, sebenarnya kualitas seseorang dapat dilihat dari apa yang dibacanya. Menurut Nuke, membaca merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh para akademisi.
“Bisa diumpamakan buku dan alat tulis serta membaca merupakan senjata utama di dunia akademik. Jika tidak suka membaca, tidak juga suka menulis, ya sebaiknya jangan jadi mahasiswa saja,” tuturnya.
Menurut Nuke, aktivitas membaca sangat penting bagi kalangan akademisi dan pelajar karena dengan membaca dapat meningkatkan kemampuan kognitif serta mampu mengembangkan mental seseorang.
“Banyak membaca, akan membuat referensi seseorang terhadap segala sesuatu menjadi lebih luas. Dengan adanya referensi tersebut, seseorang akan lebih matang dan bijaksana dalam menentukan sikap,” jelasnya.
Nuke menambahkan, adanya budaya menonton yang saat ini cenderung telah menggeser budaya membaca, akan membuat seseorang tidak akan memiliki kreativitas seperti layaknya orang yang suka membaca.
“Aktivitas membaca memiliki manfaat lebih banyak ketimbang menonton. Dengan membaca, otak akan terlatih berimajinasi. Ini dapat meningkatkan daya kreativitas seseorang dan menimbulkan juga sikap kritis,” ujarnya.
Lebih lanjut Nuke mengatakan, membaca tidak harus selalu yang serius. Membaca tidak hanya buku-buku teori atau semua yang berhubungan dengan perkuliahan. Seseorang bisa membaca bacaan-bacaan populer seperti novel atau buku psikologi modern. “Dari bacaan populer seperti novel, kita dapat belajar mengenai bagaimana menyikapi hidup, menambah motivasi. Yang penting ada value di dalam setiap buku yang dibaca,” katanya. 
Terpisah, Mahasiswi Jurusan Analis Kesehatan USB, Florida Eka, mengungkapkan, lebih enak menonton atau membuka situs online di internet daripada harus membaca buku. Menurutnya, menonton akan lebih mudah dimengerti daripada harus membaca. “Membaca sih membaca, tapi ya jarang. Lebih praktis kita belajar dengan menonton atau online di internet,” katanya. 
Sementara itu, mahasiswa Jurusan Manajemen Ekonomi Universitas Islam Batik (Uniba), Happy Violita, mengatakan, membaca merupakan hal yang menyenangkan dan perlu dilakukan. Namun demikian, buku-buku yang dibaca jangan selalu buku-buku yang “berat” atau buku-buku yang berisi teori atau bahan-bahan kuliah terus. (Risma Hasnawaty)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :