Oleh Heri Priyatmoko
Kolomnis Solo Tempo Doeloe, anggota Studi Perkotaan di Balai Soedjatmoko, Solo.
Tahun 2010 adalah tahun istimewa bagi Wayang Orang (WO) Sriwedari karena usianya genap mencapai seabad atau 100 tahun. Semakin sepuh umurnya, semestinya kian matang dan digemari banyak orang. Tapi sungguh malang, nyatanya ia tak ampuh lagi menarik pengunjung seperti puluhan tahun silam. Kini, malah dijauhi penonton. Kondisi sekarang sungguh kontras dengan awal abad XX sebagaimana yang dilukiskan oleh Indonesianis terkemuka Takashi Shiraishi melalui karyanya yang terkenal, An Age in Motion (1990) bahwa “...sebelum dikenal yang disebut gaya hidup baru, para buruh biasanya mempergunakan upahnya untuk candu dan judi. Mereka dianggap bergaya baru kalau dapat berlaku seakan-akan seperti seorang priayi, yaitu memakai baju dan celana putih, naik sepeda, pergi ke Sriwedari melihat wayang orang...”
Kabut tebal mulai menyelimuti gedung kesenian WO tersebut semenjak meninggalnya Rusman Hardjowibakso dan menjamurnya hiburan televisi. Kerap dipergoki hanya segelintir orang yang datang mengisi puluhan kursi ketika WO pentas, sudah menunjukkan bahwa masyarakat memang enggan melongok serpihan budaya asli Indonesia ini lagi. Bahkan, meski WO dikukuhkan UNESCO sebagai A Masterpiece Of The Oral and Intangible Heritages Of Humanity, tetap tiada sanggup mencuri perhatian khalayak.
Beragam saran diikuti, namun hasilnya tidak memuaskan. Banyak dari kalangan akademisi dan praktisi seni terjun melakukan riset mendalam demi memulihkan kejayaan WO Sriwedari dengan menganjurkan para penggelut kesenian ini memakai terobosan dan gebrakan, ternyata belum berbuah manis. Sekalipun ongkos karcis murah dan lakon yang dimainkan tergolong spesial ketimbang hari sebelumnya, rupanya tidak mengubah situasi: gedung masih lengang. Mereka tidak putus asa. Para pemain berusaha bertingkah maksimal dan menyuguhkan bermacam humor, tapi yang melihat sulit dibuat terbahak. Beberapa pengunjung malah diserang kantuk, dan akhirnya ngeloyor meninggalkan ruangan. Tak ayal semangat para pemain tambah melorot. Lambat laun kondisi tak mengenakkan ini akan turut menyumbang mati surinya WO Sriwedari secara perlahan.
Sepinya pengunjung serta relatif sederhananya sarana prasarana pendukung merupakan kado pahit teruntuk komunitas WO Sriwedari di tengah perayaan ulang tahunnya ini. Memang sungguh kontradiktif. Betapa tidak, di saat WO berhasil memperoleh pengakuan dari dunia internasional sebagai “karya agung warisan kemanusiaan” ini, kondisinya justru nelangsa. Jika sudah demikian, siapa pula yang berani dan sanggup menjamin WO Sriwedari tak ditinggalkan para penonton, dan kesenian tradisi ini tak bakal tenggelam ditelan waktu.
Keprihatinan ini didengar oleh kalangan sosialita asal Jakarta, berbagai pejabat daerah, dan beberapa seniman WO dari luar kota yang bergabung menggelar sebuah pementasan secara kolosal di gedung WO Sriwedari pada Selasa (6/7) malam. Pertunjukan yang melibatkan kurang lebih 100 pemain ini didasari atas semangat kolektif demi melestarikan kesenian WO di Indonesia. Sangat tepat, WO Sriwedari yang terengah-engah mengejar penonton itu haus perhatian dan uluran bantuan.
Maesenas
Di Solo tempo dulu, terdapat fenomena historis maesenas alias “dewa penyelamat” WO. Istilah maesenas (maecenas) berarti seorang patron. Menurut catatan sejarah dunia, istilah itu hadir di era seni Renaissance. Seorang patron ialah seorang pelindung seni baik seni lukis, patung, tari, maupun musik. Kategori maesenas atau patron adalah kalangan gereja abad tengah, orang awam, perusahaan, kelompok atau individu. Keimanan, prestise atau kesenangan ialah faktor yang melatarbelakangi orang sanggup menjadi maesenas.
Kiprah orang China dalam bisnis WO di Kota Bengawan tidaklah kecil. Studi penting Rustopo dalam Menjadi Jawa (2007), mencatat beberapa nama orang Tionghoa kaya yang melegenda sebagai maesenas. Di antaranya, Gam Kam, Lie Sien Kwan atau Bah Bagus, Lie Wat Gien, Lie Wat Djien alias WD Lie, dan Yap Kam Lok. Setelah ditangani maesenas, WO di Solo moncer. Maesenas menata manajemen kelembagaan, lakon, dan tata panggung, sehingga mampu mendongkrak minat masyarakat untuk menonton. Memang, kegemaran dan minat orang Cina menonton WO era 1930-an begitu besar. Seperti yang diungkapkan budayawan Umar Kayam, tempo itu deretan kursi seolah-olah menjadi milik para nyonya China lantaran memang telah dipesan jauh hari.
Setelah menelusuri perjalanan panjang sejarah kebudayaan Solo, Susanto (2001) akhirnya menemukan kunci jawaban mengapa maesenas mau berbisnis kesenian ini. Pertama, mereka secara ekonomi cukup kuat berkat usaha batik. Kedua, yang mampu menjadi maesenas adalah mereka yang berorientasi budaya tradisional Jawa. Ketiga, anjloknya seni istana pada masa Mangkunegara VI (1896-1916). Keempat, ditemukannya bentuk panggung procenium untuk mempermudah model pertunjukan komersial. Kelima, banyaknya arus urbanisasi pada kalangan pribumi ke Surakarta, pertumbuhan ekonomi mereka yang kuat, menyebabkan kebutuhan akan hiburan melejit. Dampak bagus lainnya dari peran maesenas yaitu terjalinnya hubungan harmonis antara etnis Cina dan pribumi yang menyembul melalui media seni. Jelas ini meredam gesekan antaretnis itu.
Fragmen sejarah di atas merupakan bukti betapa nasib WO juga pernah ditentukan oleh peran maesenas yang kreatif. Sebab itulah, WO Sriwedari yang malang itu membutuhkan maesenas baru, bisa berasal dari kalangan elite maupun pengusaha. Ketersediaan serta rasa kepedulian mereka untuk berpartisipasi nguri-nguri (melestarikan) kesenian yang diakui UNESCO ini begitu ditunggu. Dengan munculnya maesenas, diharapkan pula proses regenerasi berjalan bagus sehingga mampu melahirkan pemain anyar sehebat Wugu Hardjowibakso, Rusman Hardjowibakso (Gatutkaca), Darsi Pudyarini (Srikandi), dan Surono Ronowibakso (Petruk). Para pemain bintang ini dulu pernah berulang kali menggetarkan Istana Negara dan membuat Bung Karno jatuh cinta hingga tuman nanggap. Sekali lagi, sebetulnya kedatangan maesenas menjadi kado terindah bagi WO Sriwedari di usianya yang seabad ini. Dirgahayu WO Sriwedari! (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







