Berbulan-bulan, setia kuhitung kesepian ini. Sepi sunyi yang aku nikmati di siang dan malam-malam bersama dahaga rindu di puncak hasrat pertemuan yang membara. Pertemuan yang lebih baik dan sempurna, seperti yang aku katakan menjelang kau memutuskan untuk pergi kemudian aku mengiyakan dan kita pun benar-benar berpisah.
”Mama… akhir-akhir ini Papa sering mendengar gerutumu, aneh!”
”Aneh? Papa saja yang tidak pernah mau mengerti Mama!”
”Siapa bilang Ma? Papa selalu berusaha untuk pulang tepat waktu”
”Usaha, usaha..”
”Papa sering pegang proyek, Mama sayang…..”
”Hhhnhg”
”Mama….”
”Jangan panggil Mama lagi, aku tidak suka. Sekarang aku mau pisah dengan kamu”
”Pisah?”
”Ya! Lebih baik aku mengurusi anak-anak, daripada harus sibuk perang mulut terus setiap malam”
”Baikalah, demi kebaikan anak kita”
***
Berhari-hari, aku menunggui musim semi. Musim rekah bunga dimana kita menjadi saksi percumbuan kupu-kupu mengecap sari putik di kuntum kembang kenangan. Seperti kupu-kupu atau kumbang yang selalu setia menunggui bunga-bunga mekar merekah di musim yang selalu jujur dan setia laiknya matahari. Seperti dirimu yang selalu setia sedia menunggu kepulanganku dari bekerja dan tidak pernah bosan membukakan pintu walau malam telah larut ketika aku telat. Saat itu kau terbiasa membuatkan kopi susu hangat menjelang tidur kita.
”Tumben, Papa pulang tepat waktu”
”Sengaja, untuk bikin kejutan sama Mama, tugas-tugas Papa terlalu mudah untuk diselesaikan”
”Dari kemarin? Besok dan seterusnya?”
”Maklumilah Ma, pekerjaan Papa ini selalu dipenuhi berbagai proyek”
”Begitu! Papa jangan sampai lupa jaga stamina tubuh Papa”
”Tentu itu, kan juga demi Mama…”
”Papa ada-ada saja, ya sudah tak bikinin kopi susu dulu”
***
Saban waktu, aku nikmati percumbuan bunga di musim semi. Musim yang mestinya kita rasakan berdua. Musim yang aku kau salalu memimpikannya untuk berbulan madu. Seperti tempo dulu, sejak kita masih suka memadu kasih sambil mengumbar janji-janji. Janji yang yang telah kita sepakati dan barangkali telah kita tunaikan setelah pesta perkawinan digelar usai akad nikah diamini oleh keluarga kita masing-masing.
”Cinta memang indah ya Ma!”
”Begitulah kiranya”
”Aku senang malam ini, malam hanya ada kita. Malam bulan madu kita. Di mana aku memanggilmu Mama untuk yang pertama kali dan aku bisa mencintaimu seutuhnya untuk selamanya. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari seluruh hidupmu”
”Aku memang tidak rugi memanggilmu Papa, panggilan yang aku idamkan sejak pertama aku mengamini cintamu”
”Mama…”
”Iya Papa sayang…”
”Main lagi yuk!”
***
Berbulan-bulan, waktu-waktu menjelma kenangan. Janji-janji menyempuh pusaka hati, memapah arah hidup yang tanpamu. Hidup dalam kesendirian. Sendiri menuliskan impian-impian, kenangan dan rindu. Laiknya masa lalu, ketika aku terbiasa menikmati malam hanya sendirian di kamar mengingat-ingat aura wajahmu yang menawan, hingga aku mencintaimu sampai saat ini.
Kau harus tahu, bahwa aku masih suka menulis puisi-puisi cinta dan rindu untukmu atau surat cinta yang biasa aku titipkan pada angin malam yang tiba-tiba membaluti tubuhku. Aku masih ingat dan hafal serta masih fasih untuk membacakan satu puisi yang aku bacakan saat pertama aku hendak bilang bahwa aku mencintaimu. Judulnya ”Kau Bakal Istriku”
Demi Sang Pencipta, sumpahku tumpah
Kaulah bintang senja yang singgah di beranda dengan pijar cinta
Menyeruak ke dinding jiwa
Tumbuhkan kembang melati penghias mahligai indah
Kelak di pelaminan bila kau sedia jadi Sinta
Ketika Malaikat mengutuk rupaku berwajah paras Rama
Kekasih, bakal istriku, ini bukanlah hayal di awan
Namun impian sang pujangga yang atas keteguhanmu
Ciptakan pelangi dimataku
Sabab itulah ruh tercipta dalam cintamu
***
Istriku, masih adakah waktu dalam kesibukanmu mengurus anak-anak-anakmu yang juga darah dagingku, kau teringat pada kenangan waktu dulu? Kenangan sederhana yang setia selalu aku catat dalam kesepian ini, sepinya hidup saat ini. Tetapi tak apalah. Aku sadar, mungkin kamu terlalu sibuk dan aku tidak terlalu memaksa untuk itu. Cukup kau setia mengayomi anak-anakmu, aku sudah merasa sentuhan kasih darimu. Sebuah rasa yang aku nikmati beberapa tahun yang lalu. Kitika kita masih seatap dalam satu kamar yang kita sepakati sebagai kamar tempat senggama.
Istriku, ingatkah ketika kamu sakit dan anak kita yang pertama menangis di tengah malam. Waktu itu tidurku pulas. Kamu membangunkanku dengan suara berat dengan batuk-batuk kecil sekarat. Akupun bangun karena suaramu yang terlalu dekat dengan hatiku. Aku bagitu capai ketika itu. Tetapi, aku tak keberatan untuk menunaikan permintaanmu, mengganti popok si bayi. Aku bahagia malam itu, saat sebersit senyum merekah pada bibirmu. Apalagi ketika si bayi tidak menangis lagi.
Istriku! Berbulan-bulan, setia aku catat tak tersisa kebersamaan tempo dulu. Kebersamaan yang tak pernah sepi dari dentum piring, cangkir, gelas dan kaca hancur membentur lantai. Aku menulisnya penuh perasaan dan hati-hati, biar nanti aku bisa menceritakan kembali, pada anak-anak kita.
Dan sekarang istriku, si sulung telah duduk di bangku SMA, sebentar lagi jika Tuhan menghendaki, dia akan bangga menjadi mahasiswa. Sementara kita masih terlalu sibuk dengan urusan kita masing-masing. Aku sadar sebagai suamimu yang tidak serumah lagi sejak beberapa tahun silam, aku kurang memberikan perhatian padamu. Tapi itu bukan berarti aku tidak sayang lagi padamu. Semua itu aku lakukan karena biaya hidup kita kian meningkat. Kupikir itu wajar, jika kau selalu marah-marah.
Istriku, aku tak pernah lelah untuk menuliskan peristiwa-peristiwa tentang kebersamaan kita dalam rumah yang kita isi dengan pecahan beling-beling yang berserakan di segala ruang, di dapur, ruang tamu, kamar mandi, teras beranda dan di kamar tempat senggama bila sesekali sepakat berdamai barang semalam. Sungguh aku merindukan semua itu, istriku!. Rasanya aku tak bisa tenang saat ini, tanpa suara kerasmu ketika marah-marah dengan segala umpatan keji, hinaan dan sumpah serapah.
Tetapi istriku, kendati aku juga sering bersuara lebih keras darimu. Bukan berarti aku membencimu. Mungkin karena aku terlalu lelah karena bertumpuk pekerjaan yang harus aku rampungkan, agar aku tetap berstatus sebagai suami yang memiliki pekerjaan yang jelas dan tetap. Apa kata, jika aku harus menjadi suami pengangguran. Sungguh malang orang-orang yang harus keluar masuk perusahaan dengan sebendel surat lamaran, menjinjing stopmap ke sana ke mari, tetapi hasilnya tetap nihil. Aku yakin kau tidak rela dan mau mempunyai suami seperti mereka. Melengkapi cerita hidupmu dengan kemelaratan. Hhhhgh, kau itu memang benar-benar cantik istriku! Ah, kenangan itu lagi.
”Kalau dulu, kau tidak berjanji. Tentu aku tidak akan memutuskan untuk megamini cintamu”
”Apa? Perempuan tak tahu diuntung..!”
”Kamu itu yang tak ada terima kasihnya”
”Tutup mulutmu, kurang berterima kasih bagaimana, suamimu ini, heeh?”
”Buktinya?”
”Keringat yang masih basah di kemaja ini!”
”Cukuuuuuuup……..” marah pun memuncak. Seraya melayangkan sebuah gelas di atas meja lurus ke arahku dan dengan cepat sigap aku menghidar “centaaarrrrrrrrr” kaca jendela pecah. Kemudian kamu menangis. Seperti biasa kau tumpahkan air matamu ke lantai sambil memungut satu persatu beling-beling yang bertaburan membiasakan cahaya lampu, seperti kilau kristal di matamu atau sedikit mirip dengan manik air matamu.
Istriku, akhir-akhir peristiwa-peristiwa masa lalu selalu bermain di alam khayalku, membawa segala pikiran hanya tentang dirimu. Aku telah terpaut rindu yang mendalam. Aku benar-benar ingin bersamamu lagi seperti dulu. Tentu kedua orang tua kita telah merindukan kebersamaan kita lagi. Sudah barang tentu mereka akan bangga melihat kita bisa serumah kembali. Apa lagi anak-anak kita, mereka akan tersenyum sumringah, melihat kita sedang berpelukan. Dan mereka tidak perlu lagi merengek mau ketemu aku.
Layaknya, sangat tidak wajar bagiku, jika aku harus melupakan segala umpatan marah kesalmu, serapah sumpah yang bila aku ingat, hanya memekakkan telinga dan memedihkan perasaan naluri kelakianku sebagai suami dan anak-anak yang lahir dari rahimmu. Di mana kita rawat dengan percekcokan yang tiada rampung-rampung sepanjang siang dan malam. Tanpa bosan sedikitpun. Sampai akhirnya kita tidak harus lagi tidur seranjang, setelah sempat kita sepakat berdamai. Mungkin sementara, sekadar demi anak-anak kita yang mulai mengerti dan paham tentang kehidupan. Dengan amat sangat terpaksa kita akhiri pertengkaran malam itu.
***
Pada bulan-bulan yang aku sempurnakan dengan berjuta kenangan manis dan pahit. Rerindu berjelaga di hatiku. Hanya rindu. Semua yang aku impikan hanya akan menjadi keinginan yang mustahil untuk terjadi. Aku selalu lupa bahwa kita tidak sedang tidur di ranjang yang berbeda. Namun kita resmi bercerai beberapa tahun yang lalu. Mungkin anak-anak kita kurang paham tentang hal itu. Sekarang sepenuhnya aku menyadari, bahwa aku adalah seorang duda dan pengangguran.
Setelah beberapa minggu sejak hari perceraian kita, aku depresi, tidak sedikit pekerjaanku yang terlalaikan. Aktivitasku tiada lain mengurung diri di ruang kerja tanpa ada yang aku lakukan. Sampai suatu ketika aku dipergoki oleh Bos dan ketika itu juga aku di keluarkan dari perusahaannya. Aku sadar dengan kerjaku yang kurang profesional setelah aku berstatus duda.
Aku menyesal telah mengiyakan permintaanmu dulu, untuk pisah. Sungguh aku telah kehilangan segalanya. Tak ada yang bisa aku harapkan dari diriku. Istri yang aku cintai? Kabarnya, tidak jadi menjanda, dia telah menerima lamaran seorang lelaki karier yang beberapa bulan yang lalu terpilih sebagai anggota perwakilan rakyat dari salah satu partai terbesar di negeri ini.
Anak-anakku yang selalu aku rindukan? Apalagi! Mungkin mereka telah dilarang untuk menemuiku, dengan iming-iming weekend-an dari tempat wisata yang satu ke yang lain. Wajar, toh suami ibunya yang baru, beruang. Pekerjaan? Lebih terpuruk lagi!
Namun, aku masih punyak harta satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku. Di mana segala kenangan masa lalu terpotret di dalamnya. Saat-saat aku menjalin kasih dengan mantan istriku di sawah sambil menikmati suasana senja.
Dengan lukisan ini, aku akan bisa memulai segalanya dari awal. Masa lalu cukup menjadi kenangan dalam sejarah hidupku dan sebagai pelajaran pertama untuk melangkah memulai hidup yang baru. Biar nanti bila tiba saatnya, aku akan menemui anak-anakku. Akan aku tunjukkan bahwa Papa kandungnya adalah lelaki yang bertanggung jawab.
”Mama! Papa bahagia melihat anak-anak kita setegar dirimu!”
Yogyakarta, Januari 2010
Penulis adalah penggiat sastra,
tergabung di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan aktif di Sanggar NUUN.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |






