SOLO—Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi menggelar lokakarya peninjauan kurikulum pada Sabtu (21/8) dan Senin (23/8). Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan anak didik agar dapat bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain saat memasuki dunia kerja nantinya.
Hadir sebagai narasumber dari Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), perwakilan rumah sakit, perwakilan industri apotek, serta seorang praktisi. Dalam materinya Prof Dr Marchaban DESS,Apt mewakili APTFI menyampaikan perlunya pemetaan yang jelas dalam penyusunan kurikulum. Pemetaan ini harus sesuai dengan kompetensi masing-masing mata kuliah.
“Ada lima pilar dalam penyusunan kurikulum yang harus diperhatikan, yakni life science, social pharmacy, clinical pharmacy, industrial pharmacy, dan pharmaceutical science,” ujar dia. Selain itu sebagai konsekuensi atas tuntutan kompetensi maka perlunya pengubahan kurikulum sekali dalam lima tahun. Kendati demikian, untuk peninjauannya bisa dilakukan sekali dalam setahun. Manfaat lain dari pemetaan ini adalah mengetahui dinamika perkembangan kefarmasian yang cenderung semakin cepat.
Hal senada diungkapkan Drs J Sunarto,Apt sebagai perwakilan dari industri apotek. Narasumber dari PT Konimex ini menjelaskan seorang farmasis di industri harus memahami elemen pengetahuan yang diperlukan untuk memberi jaminan mutu produk. beberapa elemen sebagaimana dimaksud di antaranya regulasi kefarmasian, current GMP (CPOB terkini), quality management system, kimia medisianal dan farmakologi, formulasi, proses produksi dan pelebelan, sistem pengujian, analisis dan statistika, sistem investigasi, pengetahuan bahan, sistem pencatatan, serta dokumentasi. (cka)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







