Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Lelaki Ojung*

Minggu, 28/03/2010 09:00 WIB - Iqro’ Alfirdaus

Tiba-tiba lelaki itu merasa begitu sesak dadanya. Tubuhnya terasa lisut, lemas dan kaku. Ia merasakan kebekuan di dalam dirinya seperti kegalauan. Segalanya sambur-limbur. Kerumunan penonton tampak seperti leretan sosok hitam. Sedang sesosok tubuh gagah di hadapnya seperti harimau yang terus menerus mencakarnya hingga lelaki itu merasakan perih dan sengal di sekujur tubuh bagian atasnya.
”Aku tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan ini, Matbi!”
”Lek, masih ada kesempatan setengah pertarungan lagi. Kau bisa bertahan.”
”Sia-sia. Mataku jadi gelap.”
”Kamu mau mengecewakan orang sekampung?”
”Biar saja, kan tidak merugikan siapa pun.”
”Tapi para bajing banyak bertaruh demi kamu.”
Alun okolan dan kidungan masih berkecipak padu di lapangan itu. Kini lelaki itu mulai paham semuanya telah berakhir. Ia tergemap. Sadar. Sejenak, ia memandang lapangan itu, memandang seperti untuk terakhir kalinya. Ia juga memandangi kerumunan orang di lapangan itu. Bukan karena ada yang aneh dari mereka. Mata lelaki itu sama sekali tidak sedang memperhatikan kerumunan orang itu meski matanya terjurus ke tengah-tengah mereka. Tapi dalam lamunan pikirnya terbayang seorang perempuan yang bersamanya malam itu. Lelaki itu merasa dungu. Sepertinya ia harus mencatat sesuatu di hatinya yang mungkin besok atau lusa dapat diceritakannya pada orang lain. Mungkin pada Matbi.
Pertarungan ojung telah selesai beberapa menit yang lalu. Lelaki itu terluka tapi menyembunyikan rasa sakitnya dalam-dalam akibat sabetan pecut yang terbuat dari rotan itu. Tubuhnya lunglai seperti orang yang tak tidur beberapa malam. Sedang gelombang emosi dan gemuruh suara orang masih menceracau di lapangan itu. Orang-orang belum ada yang beranjak pergi dari arena pertarungan ojung. Meski panas terik matahari mulai terasa menyengat kulit dan ubun-ubun. Seperti mau pecah kepala. Ribuan mata penonton masih terpaku memelototi lelaki itu. Ada yang menggerutu kepada orang di sampingnya karena kecewa. Ada juga yang bersorak-sorai atas kemenangan lawan lelaki itu. Tapi hanya sebagian kecil. Sedangkan sebagain besar lainnya kecewa, seperti yang dirasakan lelaki itu.
”Penakut!, coba aja bertarung lagi pasti dia menang.”
”Huss, tak patut ngomong begitu!”
”Habisnya aku heran, dari dulu dia nggak pernak kalah sekalipun kan? Terus apa yang terjadi dengannya hari ini? Kok bisa kalah?”
Lelaki itu membuat tersentak banyak orang. Ya, orang-orang dibuat tidak percaya dengan kekalahannya. Masalahnya bukan karena dia kalah. Sebab dalam pertandingan atau dalam kehidupan ini selalu ada saja yang kalah dan menang. Ada yang berkuasa dan dikuasai. Tetapi lelaki itu pendekar ojung yang tangguh dan banyak orang yakin sekali tak ada di kampung ini atau pun kampung lain yang bisa mengalahkannya. Apalagi tak semua orang bisa ikut serta menjadi pemain ojung, ia harus pemberani dan bertubuh kebal dan punya kekuatan memukul dengan rotan serta seni menghindari dari pukulan lawan.
Banyak juga yang tak percaya lelaki itu bisa luka parah. Tidak seperti biasanya. Ya, bekas sabetan pecut ojung itu menyisakan luka merah pekat memanjang di sekujur badannya. Oh, di punggungnya, lebam merah dan terlihat titik-titik darah mengucur. Seperti dipaksa keluar dari dalam perlahan. Perih. Ya, rasa sakit akibat sabetan pecut yang panjangnya semeter itu mungkin hanya perih saja. Hanya butuh waktu beberapa hari, luka itu berangsur hilang. Tapi menyimpan pedihnya kekalahan seperti panas api menjilat-jilat tubuhnya. Lebih dari sekadar menanggung malu dan harga diri sebagai ksatria. Lelaki itu kini harus rela untuk kalah. Ia pun menyadarinya kenapa sampai terjadi seperti itu. Perempuan itu berhasil ditaklukannya malam itu. Tetapi celakanya, lelaki itu kalah justru karena perempuan itu, Masiyah. Ya, perempuan kampung itu membuat kekuatan yang ada pada diri lelaki itu melemah, bahkan kesaktian lelaki itu nyaris luntur dan membuat lelaki itu tak berkutik ketika bertarung dengan lawannya. Entah kenapa lelaki yang masih bujang itu bisa terjerembab lantaran sosok Masiyah yang parasnya tak begitu menggiurkan bahkan jerawatan. Kadang pula tampak hitam hangus sehabis ngarit rumput di sawah. Tapi molek tubuhnya membuat pandangan mata tak mau beralih. Apalagi dari samping atau belakang.

* * *
Di jalanan, malam-malam tampak lengang dan gelap di dusun itu. Meski listrik sudah masuk ke kampung itu, hanya di sekeliling rumah warga itulah jalanan dan pepohonan tampak terlihat jelas. Sedang di tempat lain gelap sekali, sebab jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya agak jauh. Jadi kalau sudah jauh dari rumah warga, tak bisa terlihat jelas dengan siapa orang berpapasan. Dari jauh mungkin hanya terdengar derap kaki dari lawan arah. Atau nyala rokok di tangan orang yang sambil berjalan. Jalanan itu tak beraspal, hanya bebatuan yang tajam yang dipasang dari dulu sebagai dasar aspal. Tapi sampai sekarang belum juga jadi. Kalau malam tiba, orang-orang pejalan kaki harus bawa senter jika tidak mau kakinya kesandung gerigi batu. Tapi malam ini cahaya bulan menerangi seluruh kampung. Air keruh yang menggenangi kubangan tempat pemandian sapi itu sesayup-sayup mata memandang tampak mengkilau indah terkena cahaya bulan. Seindah itulah lelaki itu memandang Masiyah, seperti air keruh tadi yang dihinggapi sinar bulan. Meski wajah perempuan itu tidak cantik, mata lelaki itu sering mencuri pandang diam-diam pada Masiyah dan memalingkan mukanya cepat-cepat ketika Masiyah membalas tatapannya. Di mata lelaki itu, Masiyah adalah janda muda yang cantik dan memancarkan keindahan di wajahnya sehingga ketika bertemu membuat lelaki itu tak bisa tidur karena teringat wajah Masiyah.
Cahaya bulan menghanyutkan segalanya. Tengah malam ini, lelaki itu telah mengawali kekalahannya tanpa ia sadari. Dia tak tidur sekejap pun sepanjang hari hanya sibuk memikirkan bagaimana bertemu Masiyah tanpa ada orang yang mengetahuinya. Masiyah telah beranjak tidur tiga jam yang lalu, tapi malam ini ia melulu terbangun dari tidurnya yang tidak disadarinya itu seperti ada suara seseorang memanggilnya.
Kalau dia tahu lelaki itu akan menemuinya malam ini, pasti dia telah menunggunya dari tadi. Tapi ia tiba-tiba begitu ingin keluar dari kamarnya seperti ada yang menggerakkan pikirnya menuju serambi rumah sekedar melihat bulan. Sambil memandangi cahaya bulan di halaman rumahnya, ia tiba-tiba ingat tujuh malam kemarin yang dilaluinya untuk membuat lelaki itu menyukainya. Ya, perempuan itu menjalankan lelaku sedemikian rupa berharap lelaki muda yang tampan, ksatria dan masih perjaka itu selalu mengingatnya bahkan lebih dari itu.
Masiyah tak menyadari kalau lelaki itu telah berada di sampingya. Entah secepat apa ia sampai di sini dan perhitungannya begitu tepat saat Masiyah persis berada di depan rumahnya. Mungkin kebetulan saja atau kuatnya perasaan di hati mereka. Masiyah sempat kaget dengan kedatangan lelaki itu yang tak disangkanya.
”Aku tak bisa tidur ingat kamu Siyah?” tegas lelaki itu sambil menghampiri Masiyah.
”Loh kamu?” Ujar Masiyah, kaget.
”Iya, kenapa?”
”Aku menunggumu dari kemarin, mas!”
”Kau kira aku juga tidak kangen?”
”Aku…”
”Sssstt, sudah ayo ikut aku keluar!”
Mendengar ajakan itu, Masiyah hanya manut. Dengan memakai baju tidur lusuh ia tergesa-gesa karena tangannya ditarik-tarik lelaki itu. Ia tak berpikir dan bertanya mau dibawa kemana. Di pikiran Masiyah yang terbesit hanyalah ketidakpercayaan seperti mimpi. Bahwa lelaki yang gagah dan pendekar ojung yang bersamanya itu sedang memegang tangannya dan tengah mengajaknya yang entah kemana. Ia ingat, lelaki itu akan bertarung lima hari lagi di lapangan kampung yang agak jauh dari tempatnya.
Dengan lengah, mereka menyusuri jalanan kampung itu karena tidak ingin ada satu pun orang yang mengetahui mereka sedang berdua tengah malam. Sampailah mereka pada sepetak tanah yang tinggi, yang tak tergenang air dan terdapat sebuah gubuk nyaris reyot. Gubuk itu seperti kapal menjelang karamnya. Masiyah tampak sibuk mengawasi sekelilingnya khawatir ada orang melihat mereka.
Kini keduanya tak pernah lepas berdekapan di gubuk itu, hingga subuh menyingsing. Mereka telah mengakhiri kelaparannya. Dan lelaki itu, sebagai ksatria ojung yang handal, ia lupa terhadap pantangan yang perlu dihindari sebagai ksatria. Kekalahan lelaki itu telah bermula di bawah kemenangannya menaklukkan wanita. Ya, mereguk kealpaan sebagai ksatria pada tubuh wanita. Lihatlah, hari yang penuh murka serta ratap. Ketika lelaki itu mencoba bangun, tetapi tenaganya hilang sama sekali.
Kosong, 2010
Catatan: *: Ojung
merupakan Seni adu
kekebalan khas Madura yang dimainkan satu lawan
satu dengan menggunakan alat pecut dari rotan sepanjang 1,5 meter.

Penulis adalah
penggiat sastra, seni
dan budaya
di Komunitas Kosong,
Yogyakarta.

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :