Diakui atau tidak, kesenian modern telah menjadi ”ancaman” bagi keberlangsungan seni tradisional, seperti wayang kulit. Lambat laun, seni dengan cerita klasik ini mulai kehilangan penggemarnya. Tengok saja, selain intensitas pertunjukannya yang kian redup, rata-rata penggemar seni wayang kulit adalah kalangan generasi tua. Lantas, senjata apa yang kini dipakai para dalang agar, seni wayang kulit bisa eksis kembali sebagai hiburan pilihan masyarakat berbagai lintas generasi?
Dalang kondang, Ki Anom Soeroto mempunyai jawabannya. Untuk bersaing dengan kesenian modern, Ki Anom Soeroto mewajibkan seorang dalang wayang kulit harus kritis dengan kondisi zaman.
Dengan modal kritis itu, seorang dalang akan menjadi cerdas dan kreatif dalam mengemas pertunjukkan wayangnya.”Itu realita yang harus kita sadari bersama. Dengan kreativitas dan kecerdasan intelektual, saya optimis seni wayang kulit bisa bertahan untuk bersanding dengan kesenian modern lainnya,” kata dalang kelahiran Juwiring 62 tahun ini.
Dengan pengalaman mendalang selama 14 tahun ini, dia mencermati dinamika perkembangan antusiasme penggemar seni wayang kulit. Dia memahami, desakan seni modern perlahan mulai menggeser minat terhadap seni tradisional tak terkecuali seni wayang kulit.”Kunci seni modern itu adalah adanya interaksi dengan penonton. Makanya, mau tidak mau, seorang dalang pun harus mampu menjalin interaksi positif dengan penontonnya,” ujarnya.
Menurutnya, modal kritis seorang dalang diperlukan agar dalang mampu menguasai topik pembicaraan. ”Dalang itu mesti peka dengan dinamika perekonomian, politik, hukum, dan pemerintahan,” terangnya.
Beretika
Kendati kritis, Ki Anom berpesan agar para dalang juga menjunjung etika dalam pertunjukannya.”Jangan sampai ketika si dalang bercerita, justru kesannya sok tahu dan menggurui,” imbuhnya.
Ki Anom juga mencermati kondisi penonton saat ini tidak lagi bisa disamakan dengan era ketika dirinya masih muda. Modal kritis sang dalang, dia maksudkan juga untuk mengimbangi penonton yang semakin cerdas dan ktitis juga. ”Jika dalang tidak mampu menguasai keadaan, maka dia akan menjadi bingung sehingga akhirnya terjebak pada situasi yang tidak semestinya terjadi,” terangnya.
”Dulu penonton, lihat wayang itu tenang, dan mencermati jalannya pertunjukkan dengan seksama. Tapi beda dengan sekarang yang terkesan kemrungsung ingin segera melihat adegan perang, atau lawakan. Ini bisa kita lihat dengan semakin singkatnya jam pertunjukkan wayang kulit,” lanjut Ki Anom.
Meski berpesan menjunjung etika dalam pertunjukannya, Ki Anom cenderung sepakat membebaskan para dalang lainnya untuk menampilkan pentas wayang kulit sesuai dengan pakemnya masing-masing.
Menurutnya, pakem itu hanya pedoman baku bagi orang yang belajar mendalang, bukan pedoman baku dalam mendalang itu sendiri. ”Masalah mau pakai pakem atau tidak, itu hak pribadi masing-masing dalang. Tetapi kalau untuk masalah etika, dan tata krama dalam pertunjukkan itu wajib diperhatikan. Karena ini menyangkut nama baik kesenian wayang kulit itu sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ki Anom kecewa dengan sikap pemerintah yang dinilai kurang begitu memperhatikan kesenian tradisional, khususnya wayang kulit. Padahal, di sisi lain pertunjukkan wayang kulit sudah diakui sebagai world herritage culture oleh dunia internasional. ”Masak orang wayangan kok dianggap pemborosan? Ini yang harus kita koreksi bersama,” kritiknya. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







