Siapa menyangka orang yang dulunya hanya bekerja sebagai buruh serabutan kini bisa berubah menjadi seorang jutawan. Itulah yang dialami Wahyuanto (33), mantan kuli bangunan yang alih profesi jadi pengusaha burung. Tentu saja prestasi hidup yang ia nikmati sekarang tidak didapatkan dalam sekejap mata. Segala perjuangan dan pengorbanan telah ia lakukan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kerasnya hidup sudah kenyang Wahyuanto alami sepanjang masa mudanya. Tak seperti pemuda kebanyakan yang menghabiskan waktunya untuk berhura-hura, pria yang akrab disapa Gondrong ini, harus bergelut dengan jalan hidup yang terjal dan berliku. Kampung halaman pun terpaksa ia tinggalkan demi mengadu nasib di Jakarta.
Sekitar tahun 1980-an, Gondrong memberanikan diri menginjakkan kaki di ibukota demi mencoba peruntungan. Harapan memperoleh nasib yang lebih beruntung menjadi suluh pembakar semangat. Namun apa daya kenyataan tidaklah seindah angan-angan. Bukannya memperoleh penghasilan hidup yang lebih baik, Gondrong justru harus membating tulang demi membiayai kehidupannya di Jakarta.
Segala pekerjaan serabutan pun ia lakoni, mulai dari buruh bangunan hingga pedagang asongan. “Ya ibaratnya saya sudah merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Jangankan dapat uang lebih untuk beli makan saja pas-pasan,” ceritanya pada Joglosemar.
Menghabiskan lebih dari sepuluh tahun yang tidak ringan, Gondrong merasa tidak ada perbaikan nasib di kota metropolitan, ia pun memutuskan untuk kembali ke Solo. Pria asal Srgen ini merasa peluang untuk membuka usaha sendiri di Kota Solo lebih terbuka lebar ketimbang dengan Jakarta yang katanya menjadi pusat perputaran uang dan ekonomi negara.
“Kalau di Jakarta mau usaha apa. Kalau pengen punya usaha paling nggak harus ada modal besar, lha saya modal dari mana. Makanya saya pilih pulang ke Solo, soalnya dengan modal seadanya juga sudah bisa punya usaha,” tuturnya.
Tahun 1999, menjadi permulaan Gondrong menjalankan usaha di Solo. Jenis usaha yang kemudian dipilih adalah berjualan burung. Berbekal Rp 100.000, ia mengawali karirnya sebagai pengusaha kecil-kecilan. Pasar Burung Depok dipilih sebagai lokasi berdagang. Karena tidak memiliki uang untuk membeli atau sekadar menyewa kios, Gondrong tak kehabisan akal untuk berjualan di luar pasar.
Gondrong menuturkan alasannya memilih usaha berdagang burung adalah karena ini menjadi salah satu hobinya. Apalagi sang ayah dulu sering mencari burung di hutan untuk dikirimkan ke Jakarta, sehingga tak asing bagi Gondrong kecil untuk bergelut dengan dunia burung. “Tapi usaha bapak ini terus mati karena kehabisan modal. Soalnya antara pemasukan yang didapat dengan biaya pengiriman ke Jakarta tidak seimbang,” ujarnya.
Awal mula berjualan, Gondrong hanya memiliki tiga ekor burung, yang termasuk dalam jenis ciblek dan prenjak. Rupanya nasib baik cukup berpihak padanya. Sedikit demi sedikit usahanya mulai berkembang. Dari awalnya hanya ada tiga ekor burung, lama-kelamaan bertambah menjadi 10 hingga 20 ekor. Rata-rata pemasukan yang diperolehnya Rp 100.000 sampai Rp 300.000.
Jaringan
Lima tahun bertahan berjualan di pinggiran pasar, Gondrong kemudian memberanikan diri membeli sebuah kios yang ada di dalam pasar. Melihat sudah ada modal cukup di tangan dan jumlah burung yang terus bertambah, Gondrong merasa harus mempunyai tempat berjualan yang lebih baik.
Dengan tekad bulat, sebuah kios yang terletak di pojok belakang pasar ia beli. Dan tempat berjualan di pinggir pasar yang sudah menemani usahanya selama lima tahun pun terpaksa ia tinggalkan.
Gondrong sadar dengan berpindah tempat berjualan ada sebuah risiko besar yang harus siap ditanggungnya. Kehilangan pelanggan menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
“Waktu awal-awal berjualan di dalam (dalam pasar-red) ya berat juga. Soalnya kita seperti mulai dari awal lagi, banyak pelanggan yang belum tahu lokasi baru kita,” ujar suami dari Yuliana ini.
Dengan penuh kesabaran, Gondrong berusaha membentuk jaringan lagi. Dan berkat promosi dari mulut ke mulut, tak butuh waktu terlalu lama bagi Gondrong untuk kembali meraih pelanggan setianya.
Dan kini dari satu kios yang ia beli dengan susah punya, usaha burung Gondrong mengalami perkembangan pesat. Tiga kios telah ia miliki, dan ratusan jenis burung pun ia punya. Omzet harian yang ia peroleh tak kurang dari Rp 5 juta per hari.
Inilah buah manis dari segala kerja keras dan kesabaran dari seorang pria sederhana nan rendah hati. Tak sia-sia ia merelakan masa mudanya untuk menempa diri dengan pengalaman hidup yang keras, demi sebuah hasil indah yang ia nikmati bersama sang istri dan dua orang putri kecilnya. (Rachmadhani Fitriastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







