Oleh Benni Setiawan
Peneliti, tinggal di Sukoharjo
Krisis air bersih mengancam kehidupan. Tanpa air, makhluk hidup termasuk manusia akan mati. Kini persediaan air semakin menipis. Sebagaimana diberitakan, warga di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) kesulitan air bersih. Mereka harus antre berebut air guna memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Tidak hanya di NTT, ketika musim kemarau masyarakat di sebagian wilayah di Kabupaten Wonogiri dan Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) perlu bersabar dan mengayunkan langkah kaki lebih jauh guna mendapatkan air bersih.
Menurut data, warga kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Makassar, dan Balikpapan) mengonsumsi rata-rata 250 liter air per hari. Di negara besar seperti Amerika Serikat (AS) penduduknya memanjakan diri dengan mengonsumsi 265 liter air per hari di rumah mereka dan tambahan 378 liter air per hari untuk kegiatan di luar rumah.
Akan tetapi, di beberapa negara ada lebih dari 2 juta orang yang harus berjuang sekadar untuk mendapatkan 20-30 liter air per hari untuk minum, memasak, dan mandi. Sekitar 30.000 anak di berbagai belahan dunia mati karena berbagai penyakit yang terkait ketersediaan air bersih (Kompas, 18 November 2009).
Jumlah total air yang ada di bumi kira-kira 1,4 miliar kilometer kubik (atau sekitar 330 juta mil kubik). Seorang pakar peneliti alam berkebangsaan Kanada, EC Pielou, membantu kita agar dapat membayangkan angka ini. Jika semua air di muka bumi ini dapat dipadatkan menjadi sebuah kubus, setiap rusuknya kira-kira sepanjang 1.120 kilometer (kurang lebih 695 mil), sekitar dua kali lipat panjang Danau Superior. Akan tetapi, jumlah air tawar di muka bumi kira-kira hanya 36 juta kilometer kubik (sekitar 8,6 juta mil kubik), hanya sekitar 2,6 persen dari jumlah totalnya. Dari jumlah ini, hanya 11 juta kilometer kubik (kira-kira 2,6 juta mil kubik), atau 0,77 persen di antaranya adalah bagian dari siklus air yang menyirkulasi air dengan cukup cepat. Tetapi perlu diingat bahwa air tawar hanya dapat diperbarui melalui hujan.
Jadi pada akhirnya, umat manusia hanya dapat bergantung pada sekitar 34.000 kilometer kubik (sekitar 8.000 mil kubik) air hujan yang setiap tahunnya membentuk saluran yang akan kembali ke lautan melalui sungai dan air tanah. Inilah jumlah air tawar yang dianggap tersedia untuk konsumsi umat manusia karena jumlah ini dapat diambil tanpa menghabiskan sumber-sumber air yang terbatas tadi (Maude Barlow dan Tony Clarke: 2005).
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana manusia dapat terhindar dari krisis air ini?
Hemat Air
Krisis air dapat dicegah dengan beberapa hal. Pertama adalah melalui perilaku hidup hemat air. Masyarakat harus disadarkan bahwa sumber daya air sangat terbatas. Penggunaan air secara berlebihan hanya akan mengancam kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lain di masa yang akan datang. Hemat air dapat dimulai dari lingkungan keluarga di rumah. Semakin sedikit penggunaan air dalam aktivitas sehari-hari, maka kita akan dapat melihat secercah harapan ketersediaan air di masa yang akan datang.
Kedua, menggalakkan kembali program Keluarga Berencana (KB). Program ini selain dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, juga dapat menekan jumlah pemakaian air. Pasalnya, semakin besar jumlah penduduk, semakin banyak pula dibutuhkan sumber daya air guna kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, jumlah penduduk yang banyak akan dapat mengancam ketersediaan lahan. Bumi tidak semakin luas, namun manusia semakin bertambah banyak. Ketersediaan lahan untuk perumahan juga dapat mengancam pasokan air.
Ketiga, menghentikan tindakan membuang limbah pabrik (industri) secara langsung ke sungai. Limbah pabrik seyogianya diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke sungai atau dibuang dan meresap ke dalam tanah. Limbah pabrik yang tidak diolah hanya akan mengotori persediaan air di dalam tanah dan mencemarinya.
Pemerintah bersama pihak terkait sudah saatnya menindak dengan tegas pabrik nakal yang mencemari lingkungan. Tanpa ketegasan dari pemerintah, akan semakin banyak makhluk hidup yang mati karena kekurangan air bersih.
Keempat, menanam pohon yang mampu menyerap dan mengikat air di dalam tanah. Konsekuensi logis dari program ini adalah menghentikan pembalakan liar dan pembukaan lahan untuk kepentingan komersial maupun nonkomersial.
Membabat hutan sama artinya dengan mempercepat hancurnya ekosistem alam dan rusaknya persediaan air tanah. Pembukaan lahan secara serampangan pun akan mengakibatkan tanah longsor dan banjir yang juga merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Pemeliharaan Pohon
Selain itu, memanfaatkan lahan untuk ditanami tumbuhan juga penting. Gerakan menanam seribu atau bahkan sejuta pohon sudah saatnya diiringi dengan gerakan pemeliharaan pohon. Salah satunya adalah dengan membersihkan pohon dari paku dan melarang memanfaatkan pohon sebagai media promosi dalam ajang pemilihan umum (Pemilu) atau pemilihan kepala daerah (Pilkada), iklan, dan seterusnya.
Kelima, sosialisasi Undang Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang mengamanatkan upaya konservasi (perlindungan), pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak yang seimbang perlu terus ditingkatkan. Sosialisasi ini dapat dilakukan di lembaga pendidikan formal (sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi), dan nonformal (arisan atau pertemuan RT/RW, rapat PKK, dan Posyandu). Sosialisasi ini tentunya harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman seseorang.
Krisis air sudah di depan mata. Jika masyarakat tidak waspada mulai dari sekarang, maka manusia akan terjadi peperangan hanya untuk merebutkan sumber daya air.
Maka dari itu, sudah saatnya manusia sebagai makhluk berakal dan bernurani sadar akan keterbatasan sumber daya alam. Eksploitasi sumber daya alam (air) secara berlebihan hanya akan meninggalkan luka dan duka bagi kelangsungan hajat hidup orang banyak.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




