Unik dan perlu dicontoh langkah positif yang dilakukan oleh 11 pemuda ini. Meskipun baru terbentuk sekitar dua minggu, grup musik yang mereka gawangi, Kragan Swara, berusaha membangun karakter bermusik melalui petuah Jawa. Ini dibuktikan dengan hadirnya beragam alat musik maupun lagu yang dibawakan.
Tidak hanya itu, jenis alat musik yang digunakan pun beragam mulai dari peralatan musik berbasis modern hingga tradisional. Sebut saja seperti kendang, bonang, saron, dan slompret yang dikolaborasi dengan gitar listrik dan seperangkat drum. Tentunya bakal menyajikan harmonisasi suara yang menawan.
Kesebelas personel Kragan Swara yaitu Anggoro dan Jaya (vocal), Billy (bass), Ozy (drum), Didik (gitar I), Yoga (gitar II), Andi (kendang), Widuri (bonang I), Wawan (bonang II), Jimmy (saron) dan Lelur (slompret). Mereka hadir dengan beragam profesi, seperti mahasiswa, pegawai swasta, dan bahkan juru parkir.
Menurut bassis Kragan Swara, Billy, status sosial masyarakat bukan sebuah halangan untuk dapat melahirkan karya seni. Berangkat dari keinginan menguak petuah budaya Jawa, melalui ranah dunia musik mereka mencoba menyamakan misi dalam satu tekad, yakni sebuah kebersamaan.
“Dengan suatu kebersamaan kita bentuk kelompok Kragan Swara. Musik yang kami garap lebih mengarah pada pola bermusik modern dan tradisional. Semua gender musik seperti, rap, keroncong, jass, etnis, blues dan lain-lain kami campur menjadi satu,” imbuh personel Kragan Swara, Andi Syamzaini, usai me-launching Kragan Swara di Kedai Kopi Jagongan, Solo, Rabu (1/9) lalu.
Ia menambahkan, sebagai generasi muda sudah menjadi tanggung jawabnya untuk ikut nguri-uri budaya Jawa. Dengan Kragan Swara ia bercita-cita bakal membumikan unsur tradisi tanpa perlu meninggalkan sisi modernnya.
Bahkan saking semangatnya, secara kompak para personel Kragan Swara mengaku dalam waktu dekat ini bakal membumbui grupnya dengan kemasan Wayang Sopak. Mereka memanfaatkan bayangan tubuh dan benda-benda yang ada di sekelilingnya, untuk disuguhkan kepada penonton dibalik layar.
“Secara garis besar persis dengan apa yang ditampilkan dalam pergelaran wayang kulit. Namun dalam pertunjukkan Kragan Swara, kami menyajikannya dalam bentuk bayangan sewaktu pentas berlangsung,” terang Andi. (bns)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




