BOYOLALI—Korban pembunuhan yang dilakukan oleh jagal asal Desa Kragilan, Pucangan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Yulianto, bertambah. Korban kelima tersebut bernama Parwoto, yang meninggal satu setengah tahun lalu.
Untuk memastikan penyebab kematian, jajaran kepolisian dibantu warga membongkar makam Parwoto, Kamis (2/9). Parwoto adalah warga RT 3/I, Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Boyolali dan meninggal dalam usia 52 tahun kemudian dimakamkan di desa setempat. Dia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.
Penggalian itu dipimpin langsung oleh Kapolres Sukoharjo, AKBP Suharyono, yang telah melakukan koordinasi dengan kepolisian di Polres Boyolali.
Menurut Kapolres Sukoharjo AKBP Suharyono, ada pengakuan dari Yulianto bahwa kematian Parwoto tidaklah wajar. Yulianto, lanjut Kapolres, mengaku membunuh Parwoto dengan racun tikus. Meski demikian jajaran kepolisian belum bisa memastikan perihal cara pembunuhan itu. Sebab hal itu masuk wilayah teknis dan harus diuji secara forensik melalui Labfor.
“Belum ada kepastian terkait meninggalnya korban, apakah diberikan kecubung lagi atau racun tikus. Sebab jenazah akan kita uji dulu melalui Labfor,” ujar Kapolres.
Dijelaskan Kapolres, korban kelima Yulianto tersebut dimungkinkan karena motif pengobatan alternatif dan bukan karena motif ingin menguasai harta, seperti pada korban yang lainnya. “Jika dikaitkan dengan ingin menguasai harta korban, sepertinya tidak mungkin karena dilihat orangnya (Parwoto) tidak berpunya,” jelasnya.
Pihak kepolisian sendiri menurut Kapolres juga mengumpulkan informasi dari berbagai pihak terkait dengan kematian Parwoto, terutama dari pihak keluarga dan tetangga dekat. Sehingga semakin banyak informasi dari berbagai pihak akan semakin menambah data penyidikan. “Dan tentunya nanti ditambah hasil pemeriksaan forensik,” tambahnya.
Selanjutnya, menurut Kapolres, jenazah Parwoto akan langsung dibawa ke Unit Labfor RS Dr Moewardi Solo untuk dilakukan uji forensik. Sehingga dari uji forensik itu diharapkan diketahui penyebab kematiannya.
Sementara itu terkait adanya korban lagi yang berada di salah satu gua di Pacitan, Jawa Timur, Kapolres menegaskan itu baru didasari atas informasi yang berkembang di masyarakat. Pihak tersangka lanjut Suharyono, juga belum mengaku terkait adanya korban di lokasi tersebut. “Belum sampai mengarah ke situ tapi memang sempat ada informasi seperti itu. Tunggu saja nanti hasil pengembangannya.”
Mertua Parwoto, Yoso Sumarso, saat di lokasi pemakaman, mengatakan sebelum meninggal Parwoto menderita stroke selama tujuh tahun. Selama sakit berbagai cara dilakukan untuk mengobati sakit Parwoto, baik medis maupun pengobatan alternatif. Salah satunya pernah dibawa ke tempat Yulianto untuk mendapat pengobatan alternatif.
Ramuan
Yoso menjelaskan, pengobatan terhadap Parwoto oleh Yulianto hanya dilakukan sekali, yaitu setahun sebelum meninggal. Dia mengatakan obat yang diberikan Yulianto memang berupa minuman ramuan. Namun dia meragukan kematian Parwoto disebabkan karena meminum ramuan itu.
“Keluarga hanya sekali memintakan obat dari Pak Yulianto, yaitu setahun sebelum meninggal. Jika memang ada racun dalam obat itu mestinya Parwoto meninggal saat setelah minum obat itu, bukan setahun sesudahnya,” papar Yoso.
Hal senada diungkapkan istri Parwoto, Wakhidah (44). Menurutnya, suaminya sebelum meninggal memang menderita stroke disertai gejala gemetaran. Diakuinya suaminya pernah berobat ke Yulianto atas permintaan adik iparnya, Purwanto.
Wakhidah juga tidak percaya bahwa suaminya dibunuh tersangka. Pasalnya, pengobatan yang dilakukan Yulianto kepada suaminya berjarak sekitar satu tahun sebelum suaminya meninggal. Sehingga menurutnya tidak mungkin suaminya meninggal karena diracun Yulianto. Meskipun begitu dirinya tetap kaget saat didatangi polisi yang mengabarkan akan menggali makam suaminya.
Seperti diketahui dengan bertambahnya korban, hingga kemarin sudah lima nyawa yang dihabisi Yulianto. Masing-masing adalah anggota Kopassus Kopda Santoso, Sugiyo, warga Sraten, Pucangan, Kartasura, Siti Aminah, warga Sraten, Pucangan, Kartasura, Suhardi, warga Topesan, Gumpang, Kartasura dan terakhir Parwoto, warga Manjung, Sawit, Boyolali. (mal/ono/dtc)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







