Tayangan televisi akhir-akhir marak dengan sinetron dan infotainment. Hal itu, tampaknya memanjakan kaum ibu. Hampir dipastikan kedua tayangan ini sangat menghibur bagi kalangan ibu rumah tangga tatkala mulai dijenuhkan oleh rutinitas keseharian yang monoton.
Awalnya kedua tayangan ini bersifat hanya mengisi kekosongan waktu dan sebagai penghibur di kala jenuh. Lama-kelamaan berubah menjadi sebuah rutinitas dan keharusan. Ceritanya yang memang sengaja dibikin berseri dan makin menarik dari hari ke hari membuat para penggemarnya menjadi semakin kecantol.
“Saya sangat suka nonton sinetron dan gosip soalnya makin hari makin menarik kalau sehari saja ketinggalan rasanya gelo banget,” ungkap Leli, ibu rumah tangga.
Namun, tampaknya tidak semua ibu rumah tangga memiliki rutinitas yang sama. Leli lebih memilih menonton sinetron dan infotainment untuk mengisi waktu. Berbeda dengan yang dilakukan Sri Setyoasih dan kawan-kawannya. Mereka lebih suka mengisi waktu dengan memperdalam kemampuan yang dimiliki di bidang kesenian.
“Saya dan kawan-kawan ingin lebih memperdalam kemampuan kami dalam hal kesenian, sehingga kami membentuk kelompok tari ini,” ungkapnya kepada Joglosemar di ruang kerjanya, Jumat (26/3).
Keselarasan
Dosen yang akrab dipanggil Tintong dan kawan-kawannya ini memiliki kelompok tari yang bernama Sahita. Sahita sendiri terbentuk pada 2001. “Awalnya kami bergabung dengan komunitas Teater Gapit, namun setelah teater tersebut pecah para anggotanya kemudian membentuk kelompok masing-masing. Salah satunya ya kami-kami ini,” terang Sri Lestari, salah satu anggota Sahita.
Para ibu tersebut terbilang cukup berbakat dalam hal kesenian. Walaupun bernama kelompok tari, namun ternyata mereka tidak hanya menyajikan tarian tetapi juga teater. Yang lebih hebatnya lagi mereka juga menyajikan sajian musik secara akapela (nyanyi tanpa musik).
Keselarasan tersebut dikarenakan oleh latar belakang yang dimiliki oleh masing-masing personel yang berbeda-beda. “Setiap anggota kan memiliki latar belakang yang berbeda-beda ada yang seni tari, teater dan vokal,” lanjut Sri Lestari.
Karena keselarasan yang dipadukan dari berbagai unsur kesenian tersebut, tak mengherankan kelompok ini sering diminta untuk mementaskan hasil karyanya dalam berbagai acara. “Kami sering diminta untuk tampil berbagai pihak baik itu swasta maupun instansi pemerintah. Seperti pada Selasa (23/3) lalu kami diminta untuk pentas di acara oleh salah satu produsen susu,” papar Sri Setyoasih. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




