Banyak masyarakat yang belum paham dengan nama kriya. Sebagian menganggap jika kriya adalah hanya kegiatan membuat kerajinan yang berbahan dasar kayu atau yang lebih dikenal dengan istilah tukang. Namun, jika ditelaah lebih dalam kriya ini memiliki arti yang lebih dari sekadar membuat kerajinan dari kayu. Salah satu komunitas yang mewadahi para peminat kerajinan kriya tersebut adalah Kriya ISI Solo (KRISSO).
Kriya adalah cabang dari seni rupa, jika dahulu hanya sebatas mendesain produk beragam benda yang bersifat fungsional. Namun sekarang maknanya lebih luas dan bebas ada yang bersifat murni serta ada pula yang bersifat produksi.
KRISSO dibentuk pada tahun 2006, silam, oleh salah seorang mahasiswa ISI, Sigit Pamungkas. Saat itu dibentuknya KRISSO dengan tujuan sebagai wadah yang menampung kreativitas para mahasiswa ISI khususnya jurusan kriya seni. “Pada mulanya saya merasa jika di fakultas tempat saya menimba ilmu ini tidak ada wadah yang menaungi serta menyinergiskan kampus dengan dunia luar, sehingga terbesit keinginan saya untuk menciptakan wadah tersebut.”
Sigit menambahkan dari terbentuknya KRISSO tersebutlah mulai ada pergerakan yang menguntungkan dan memudahkan para mahasiswa kriya untuk menjalin kerja sama dengan dunia luar dalam penyelenggaraan pameran hasil kreativitas mereka. “Saat ini, KRISSO sudah dapat menggaet kampus lain yang juga memiliki jurusan yang sama.”
Komunitas yang menaungi para seniman kriya ini diresmikan oleh Kepala Jurusan Kriya Seni ISI yang bernama Kusmadi. “Kami merasa sangat beruntung karena saat itu pihak kampus sangat mendukung dibentuknya komunitas ini sehingga dalam pembentukannya tidak ada halangan sedikit pun,” ungkap Damar Tri A, Ketua KRISSO kepada Joglosemar, Selasa (9/3).
KRISSO ini dapat disejajarkan dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sehingga anggota KRISSO merupakan semua mahasiswa jurusan Kriya Seni. “Semua mahasiswa jurusan ini merupakan anggota KRISSO, namun sebelum menjadi anggota terlebih dahulu mereka mengikuti makrab yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru,” lanjut mahasiswa yang saat ini duduk di semester VI tersebut.
Kegiatan KRISSO tentunya dapat dijadikan untuk mengasah kreativitas yang dimiliki oleh para anggotanya. “Setiap Kamis malam, kami berlatih membuat grafiti wayang beber, kami juga sering mengadakan dan mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Forum Komunitas Mahasiswa Kriya Indonesia (FKMKI) dan juga mengadakan seminar serta diskusi mengenai kekriyaan yang melibatkan dosen baik dari jurusan Seni Kriya maupun dari program studi lain,” papar mahasiswa yang juga menekuni teater ini. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







