Kulo namung nguripi niki,’’ ujar Ny Mangun pawiro (90) sambil fokus mata dan polah tangannya tidak berhenti membentuk adonan tanah liat di hadapannya. Kata nguripi atau menghidupkan memang satu kata kunci yang membuatnya masih bertahan menekuni usaha kerajinan gerabah.
Dahulu, daerah Dusun Banaran, Desa Mlori, Kecamatan Karanganyar dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gerabah seperti gentong, kuali, pot tanaman, dan kendil. Medio empat hingga tiga dasawarsa lalu di dusun ini hampir bisa ditemui tiap rumah membuat kerajinan gerabah. Hasil produksi mereka pun tidak hanya dijual wilayah Karanganyar saja, melainkan hingga wilayah Solo sekitarnya, Semarang, hingga Jawa Timur.
Ironisnya kondisi saat ini telah berubah, perajin gerabah di Banaran saat ini hanya menyisakan tiga perajin yang masih aktif, semua berusia di atas 60 tahun. ‘’Anak muda sekarang lebih suka bekerja di pabrik daripada buat kuali,’’ tutur Ny Mangun lugas, akhir pekan lalu.
Namun ia pun tidak bisa menyalahkan pilihan para generasi penerus di desa mereka termasuk putra-putrinya sendiri. Sebab ia menyadari betul usaha membuat gerabah tidak bisa diharapkan jadi sandaran hidup. ‘’Sekarang beras mahal, jual kuali tidak pernah nutup untuk biaya hidup sehari-hari,’’ keluhnya.
Tak Laku
Ia menceritakan satu kuali jaman dulu dihargai satu benggol atau sama dengan Rp 2.500 saat ini, sudah dapat untuk beli beras, lauk pauk. Sekarang, hasil gerabah buatannya ini bisa diambil tengkulak satu bulan dua kali saja sudah bagus. ‘’Dulu pas saya muda berangkat ke negari (Keraton Surakarta-red) itu bisa saban pagi hari. Bahkan kami buat kuali sampai lembur malam hari,’’ kisahnya.
Hadirnya alat-alat dapur berbahan aluminium dan plastiklah yang membawa petaka sentra gerabah Banaran. ‘’Sekarang semua masak pakai aluminium, padahal kalau menanak nasi pakai kuali, rasa nasinya lebih pulen,’’ ujarnya.
Meski demikian, Ny mangun tidak pernah patah arang menghadapi kemajuan jaman ini. Dirinya yang hidup dan dibesarkan oleh gerabah seakan tidak rela denyut kerajinan gerabah Banaran terhenti. ‘’Saya ndak tahu mau sampai kapan ndamel gerabah, mungkin gih ngantos suk ben,’’ tuturnya. Saat ini ia bersama adik kandungnya, ngadinem (80) nguripi gerabah Banaran.
Mencari tanah liat di sawah samping dusun, membersihkan tanah liat dari kerikil, membentuknya menjadi aneka kerajinan gerabah sampai siap dijual masih menjadi pekerjaan sehari-harinya. Kini pekerjaan ini terancam punah sudah. (Bagus Sandi Tratama)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







