Mitos ancaman Gunung Merapi masih membayangi para petani di Lereng Merapi. Untuk menangkal ancaman itu, mereka masih enggan meninggalkan tradisi klasik yakni kirab jatilan. Kirab itu diyakini menjadi senjata ampuh untuk tolak bala yang mengancam petani.
Ritual itu dijalani para petani di sekitar wilayah Magelang untuk meramaikan perayaan tahun baru, Jumat (1/1) di Lereng Merapi. Puluhan seniman petani dari Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang.
Dengan dandanan khas kesenian jatilan, kirab yang dipimpin pengelola padepokan seni budaya, Bambang Tri Santoso dan Sitras Anjilin, mulai berjalan kaki sebanyak enam kali mengelilingi kompleks padepokan dan menyusuri jalan-jalan dusun yang terletak sekitar delapan kilometer dari puncak Merapi.
Beberapa saat sebelum kirab, mereka berdoa di makam pendiri padepokan, Romo Yososudarmo. Padepokan tersebut didirikan oleh Romo Yoso pada Tahun 1937.
”Turun temurun kami melakukan tradisi ini sebagai sarana tolak bala, untuk menghindarkan kehidupan kami dari segala musibah, supaya kehidupan bertani kami memperoleh hasil yang baik dan kami hidup tenteram di Merapi ini,” kata Sitras.
Kirab itu salah satu rangkaian penting bagi keluarga padepokan saat merayakan tahun baru Jawa, yang pada tahun ini bertepatan dengan tahun baru Masehi, 1 Januari 2010.
Perayaan Sura oleh komunitas setempat yang disebut sebagai tradisi Suran Tutup Ngisor itu dilakukan mereka setiap Tanggal 15 Bulan Sura, bertepatan dengan bulan purnama.
Mereka memiliki kewajiban menggelar empat tradisi kesenian terutama pentas wayang orang, kirab jatilan, dan menabuh gamelan setiap tahun yakni saat perayaan Suro, Idulfitri, Maulud Nabi Muhammad, dan HUT RI. (ant)








