Wayang kulit purwa diakui Unesco sebagai maha karya adi luhung peradaban manusia asli Indonesia. Wayang dielu-elukan sebagai hiburan yang sarat dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa ketika tampil dengan cirikhasnya, yang serba tradisional. Namun ketika wayang merambah ke media elektronik, terlebih dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu banyak yang menilai wayang sudah kehilangan nilai-nilai keluhurannya.
Persoalan itulah yang memancing perdebatan antara para budayawan dengan para dalang saat diskusi di Balai Sudjatmoko, Solo, pekan lalu.
Budayawan gaek, Afrizal Malna berpendapat, dunia pewayangan kini telah mencapai puncak kebisuannya dalam membahasakan ajaran moral kehidupan itu sendiri. Pasalnya, selain kentalnya campur tangan politik, pertunjukkan wayang juga dinilainya sarat kepentingan bisnis dan tak lebih hanya sekadar hiburan belaka. ”Ketika wayang sudah masuk TV, di situ wayang sudah mulai kehilangan bahasanya. Bahkan telah mengalami pembunuhan karakter. Karena kekuatan bahasa wayang itu terletak pada bayang-bayangnya, bukan kemeriahan pentas itu sendiri,” ucapnya.
Dia beranggapan, ketika, pertunjukan wayang tak lagi dihadirkan melalui bayangan, wayang akan berhenti sebagai wayang yang sesungguhnya dan berubah menjadi boneka atau sesuatu yang jauh dari hakikat wayang itu sendiri. Hal itu semakin diperparah dengan makin sedikitnya para seniman wayang yang setia pada idealismenya. Mayoritas para dalang lebih terkesan mengejar setoran belaka, dan menuruti selera pasar daripada mempertahankan bahasa dan jati diri wayang itu sendiri.
Senada dengannya, I Wayan Sadra, budayawan sekaligus akademisi dari ISI Solo juga menilai, apabila pertunjukkan wayang saat ini terasa hambar, dan jauh dari tuntunan moral itu sendiri. Padahal, dalam wayang terkandung beberapa nilai luhur seperti kebijaksanaan, tanggung-jawab, etika, bahkan spiritual. ”Kekuatan wayang purwa itu pada bayang-bayangnya. Tapi pertunjukkan wayang saat ini kenyataannya justru dari belakang kelir, di mana dalang, dan para pengrawit justru hanya tampak punggung saja. Ini sudah bentuk pelanggaran etika,” paparnya.
Kendati demikian, para dalang mempunyai pendapat lain. Ki Manteb Sudarsono dalang kondang asal Karanganyar misalnya, membantah jika wayang telah kehilangan nilai luhurnya. Karena, kata dia, cerita atau lakon dalam pewayangan itu adalah perwujudan nilai luhur itu sendiri. Masalah saat ini wayang tak lagi ditonton dari bayangannya, Ki Manteb menilai itu adalah hak dan selera dari penonton di mana dalang tak berkuasa untuk mendiktenya.
”Wayang itu sifatnya menawarkan, bukan memaksakan ajaran. Ketika pertunjukan wayang masih bisa menjadi media introspeksi, dan kontemplasi diri, berarti nilai luhurnya belum hilang,” sanggah Ki Manteb.
Begitu pula dengan Slamet Gundono, dalang yang populer dengan wayang suketnya ini, mengatakan yang paling penting dipikirkan adalah bagaimana pertunjukan wayang masih bisa bertahan, di tengah derasnya arus globalisasi ini. Karena percuma berbicara ajaran luhur wayang, tetapi pertunjukan wayang itu sendiri sudah punah.
Menurutnya, perubahan yang terjadi dalam pertunjukan wayang adalah dampak dari perubahan zaman di mana manusia modern saat ini cenderung praktis, dan kapitalis. ”Wayang adalah wahana untuk melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Wayang bukan jimat yang harus dipuja dan dikultuskan, tapi lebih dihargai sebagai keindahan karya agung budaya itu sendiri,” ujarnya.(Deniawan Tommy Chandra Wijaya)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




