Memang kompak penampilan bapak dan anak ini. Berpenampilan nyentrik, Rus Harjanto alias Janthit bersama putrinya Dwi Atmi, selalu berada di tiap sudut Kota Solo untuk ngamen dan mencari sepotong kebenaran.
Meski dandanan mereka teramat jauh dari nuansa glamor, pernyataan sikapnya untuk terus menemukan makna merah putih patut diacungi jempol. Seperti aksi mereka di gerbang masuk Pasar Windujenar, Ngarsopuro, Solo, Selasa (7/9) kemarin, dengan agenda bertajuk Merah Putih Meradang.
Tepat pukul 21.00 WIB, duet mereka berdua pun langsung digeber dengan penampilan tari Kala Kalbu oleh Dwi Atmi, diiringi alunan suara seruling dan gitar lusuh yang dibawa Janthit.
Gemulai gerak tari yang diperagakan Dwi Atmi seolah mengekspresikan kekagumannya menjadi putra bangsa. Ditemani selendang warna merah serta topeng gunung sari di wajahnya, Dwi membeberkan fakta jika masyarakat kini kurang kompak. Untuk mewujudkan semboyan Bhineka Tunggal Ika, menurutnya selayaknya setiap pribadi harus satu tekad dan misi.
Ditambahkan Janthit yang berubah nama menjadi Janthit Sana Kala, kedaulatan bangsa kian terancam akibat tingkah polah anak bangsa sendiri. “Tidak ada keberanian untuk menguak kebenaran sang saka merah putih. Padahal banyak terkandung makna positif di dalamnya,” tegasnya.
Tak lupa ia mencontohkan bahwa pemaknaan merah putih telah bergeser dan hanya tampak saat perayaan kemerdekaan Indonesia tiap 17 Agustus. Bait lagu perjuangan yang berbunyi; siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela, menurutnya hanya goresan tinta belaka.
Sementara dari hasil menggelar acara ngamentari itu, duo bapak anak berhasil mendapatkan uang recehan sebanyak Rp 7.000. Rencananya, pertunjukan serupa itu juga bakal rutin digelar tiap Selasa, Kamis, dan Jumat di lokasi yang sama. (bns)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







