Di ujung depan barisan, dekat dengan pintu masuk kelas, salah satu peserta UN tengah mencoba konsentrasi mengerjakan lembaran soal di depannya. Dia adalah Bayu Sadewo (21), siswa SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar yang menempuh UN di SMA Negeri Kebakramat.
Berbeda dengan siswa lain yang sibuk diam atau berbisik-bisik saat memahami soal ujian. Bayu dengan berkonsentrasi malah sibuk meraba-raba lembaran soal di hadapannya, karena lembar soal untuknya memang didesain khusus untuk siswa berkebutuhan khusus, yakni lembar soal Braille.
Warga Desa Sendangrejo, Sragen ini telah tiga tahun ini menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar, yang merupakan sekolah inklusi. Selain mengerjakan lembar soal UN berhuruf Braille, secara khusus ia didampingi oleh satu guru pendamping yang membantunya mengisi lembar jawab komputer (LJK).
“Yang cukup sulit itu bagian listening, karena kurang jelas audionya,” keluhnya, ditemui seusai melaksanakan ujian, Selasa (23/3). Bayu mengaku cukup kesulitan mengerjakan ujian mata pelajaran bahasa Inggris yang digelar hari itu.
Namun untuk bagian lain, semisal ilustrasi gambar, cukup mampu dipahami sebab ilustrasi gambar pada soal juga berupa gambar timbul.
Namun Bayu masih menyimpan kekhawatiran menghadapi jadwal UN hari ini, Rabu (24/3) yang mengujikan mata pelajaran Matematika. Kendati demikian dirinya optimis dapat lulus dalam UN kali ini. Pasalnya ia bercita-cita setelah menyelesaikan studi di bangku SMA, ia ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.
Optimisme sama ditunjukkan Dwi Yuli Pujiono (20), siswa kelas XII jurusan IPA SMA Muhammadiyah 6 Surakarta. Tanpa dua buah tangan, Dwi mengaku siap beradu dengan siswa normal lainnya.
”Saya tidak mau kalah dengan siswa yang lain. Walaupun dengan keterbatasan yang saya miliki. Dalam UN saya tidak mau dikasihani, apalagi diberi pendampingan untuk melingkari lembar jawab,” kata dia.
Lulusan yayasan penyandang anak cacat (YPAC) Surakarta tahun 2007 ini mengaku pernah disepelekan saat mencari sekolahan. Beberapa sekolah negeri dan swasta menolaknya lantaran keterbatasan anggota tubuh yang dimilikinya. Namun dengan lantang ia menjawabnya, ”Dalam menuntut ilmu yang dibutuhkan apa cuma fisik saja, jika pikiran saya mampu kenapa tidak,” terangnya.
Sementara, sebagai wujud kepedulian terhadap majunya kecerdasan anak bangsa, Selasa (23/3), Hotel Lorin Business Resort and Spa memberikan sejumlah beasiswa Rp 3 juta untuk SD Negeri Bulukan I dan SD Negeri Bulukan II Colomadu. Public Relation Officer Lorin, Kartika Octavia Pravitasari menjelaskan, ini merupakan komitmen Lorin untuk membantu pemerintah untuk mewujudkan kecerdasan anak bangsa dalam programnya Lorin Peduli Pendidikan Dasar Anak.
Program beasiswa ini merupakan program pertama Lorin. Dijelaskan Vita, masing-masing sekolah dasar tersebut diambil murid yang mempunyai peringkat tiga besar khususnya untuk kelas VI. (Bagus Sandi Tratama/Bonus Wibowo Bramhartyo/m19)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




