Lusiana Denok
Pemerhati Sosial dan Budaya di Komunitas Seni Kalang
Kemerdekaan yang kita peroleh merupakan hasil dari perjuangan pada masa-masa sulit yang menjadikan sistem hidup menjadi tak berbudi kemudian akan melahirkan krisis kehidupan yaitu melenceng dari dasar kemanusiaan. Ist Syaiful Arif seorang penulis buku, Refilosofi Kebudayaan (Arruz Media, 2010) mengungkapkan krisis tersebut meliputi krisis sistem sosial-politik, krisis kemanusiaan dan krisis kebudayaan itu sendiri.
Hiruk pikuk pemerintahan, banyaknya temuan kasus korupsi saling terjang anggota di suatu badan partai politik hingga penuduhan, pelarian, dan pengkhianatan merupakan bentuk krisis sosial politik yang tengah dihadapi bangsa kita. Kemiskinan, kekurangan gizi, pelayanan kesehatan hingga bencana alam merupakan indikator krisis kemanusiaan yang terus membelenggu rakyat.
Budaya adalah usaha pemenuhan kebutuhan mendasar “khas manusia”. Kebutuhan itu (yang berbeda dengan binatang) membutuhkan sistem yang “khas manusia” pula. Jika segenap sistem kehidupan telah melenceng dan memberangus “kekhasan manusia”, maka segenap sistem hidup kita telah mengalami krisis. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi memiliki karakteristik sebagaimana “kekhasan manusia”. Akal budi yang digunakan sebagaimana mestinya menjadi dasar terbentuknya budaya bangsa. Budaya mengilhami dan menggerakkan segala potensi menjadi pencitraan suatu wilayah.
Krisis Budaya Perkampungan
Kampung mengalami proses krisis budaya. Kampung dikonotasikan sebagai pemukiman yang kumuh dan kotor. Walau demikian, beberapa kampung selalu melakukan pembenahan supaya tertata apik dan sehat.
Geliat kampung mempercantik diri ternyata sudah ada sejak lama. Seperti yang ditulis oleh seorang anggota studi perkotaan Balai Soedjatmoko, Heri Priyatmoko (2010) bahwa riwayat perkampungan Solo tak lepas dari kerja keras Mangkunegara VII (1916-1944). Beliau mempunyai rasa kemanusiaan yang tebal. Saat itu beliau melihat pemukiman kampung Solo tidak layak huni. Beliau memergoki gaya hidup masyarakat yang kurang sehat. Mangkunegara VII bukan sebatas menyuruh dan menghukum bagi yang melanggar perintah. Ia ternyata juga menggelontorkan dana pinjaman sebesar F 25.000 untuk ongkos kampung verbetering (perbaikan kampung) dan F 66.000 untuk dialokasikan perbaikan rumah rakyat. Program tersebut dilengkapi dengan penyemprotan obat dan pembasmian tikus. Berkat Mangkunegara VII, alhasil rakyat bisa hidup sehat dan tenteram.
Perkampungan Solo menunjukkan geliatnya untuk mendapatkan pencitraan yang baik. Usaha pencitraan tersebut tidak lain dari kesadaran terhadap krisis budaya. Moralitas anak bangsa (kemanusiaan) seperti simpati, empati , senang menolong, menghargai orang lain dan lain sebagainya berasal dari keadaan miskin, wabah penyakit dan kumuh. Jurang pemisah antara si miskin dan si kaya memicu krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan.
Histori Imajinasi Gapura Batik
Masyarakat menghiasi gapura kampung dengan dekorasi batik. Tema ini sengaja diangkat sebagai mata rantai Solo bahwa Solo merupakan ikon batik yang telah diakui dunia. Sebagaimana gapura di setiap kampung merupakan perwujudan budaya suatu wilayah. Setiap tahun dalam memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, gapura dihiasi beragam bentuk ornamen. Gapura perkampungan merupakan komponen pertama yang dilihat saat kita memasuki suatu wilayah. Melihat gapura suatu kampung sama halnya membayangkan budaya kampung tersebut yaitu kehidupan dan kemanusiaan. Jadi tidak salah kalau warga kampung sangat bersemangat menghiasi gapuranya dengan sedemikian rupa.
UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. Batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia. Batik Jawa mempunyai motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarenakan motif-motif itu mempunyai makna, bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna pesan leluhur. Batik Jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.
Batik dibuat dengan ketenangan dan kesabaran yang tinggi. Selain proses pembuatan batik yang sarat dengan makna filosofis, corak batik merupakan simbol-simbol penuh makna yang memperlihatkan cara berpikir masyarakat pembuatnya. Motif kawung, berbentuk teratai yang sedang merekah. Motif ini melambangkan kesucian dan umur panjang. Motif parang, berbentuk mata parang, melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Hanya boleh dikenakan oleh penguasa dan ksatria.
Bila kita amati, gapura batik yang ada di perkampungan Solo kebanyakan memilih batik motif kawung dan parang. Sebenarnya apa yang menjadi dasar masyarakat lebih banyak memilih motif kawung dan parang? Apakah motif itu paling mudah dibuat mengingat secara nilai histori batik, teknik batik sebenarnya rumit. Kejenuhan rakyat terlampiaskan lewat batik parang. Rakyat menghendaki kehidupan yang tentram dibawah kepemimpinan dan penguasa yang bijaksana. Harapan rakyat digantungkan lewat batik kawung. Rakyat menginginkan kesejahteraan yang berumur panjang dan kesucian yang tak dinodai oleh kekerasaan.
Ke depannya, sanggupkah budaya batik mengatasi krisis budaya yang kerap menerjang bangsa kita? Sejauh mana pengaruh budaya batik mengilhami budi suatu bangsa dalam mengatasi persoalan bangsa? Apakah ini hanya sekedar euforia Kemerdekaan? Atau yang lebih menyedihkan lagi batik dianggap memang sedang ngetren belaka.
Harapan kita, batik tak sekedar hanya sebuah budaya semata. Seperti yang di ungkap oleh Syaiful Arif bahwa budaya sebagai kekhasan manusia mampu mengatasi krisis budaya itu sendiri. Budaya batik (kesabaran, ketenangan kemulyaan dan kejayaan) diharapkan mampu mengatasi polemik budaya bangsa.
Kemerdekaan yang sejatinya meningkatkan derajat manusia lebih tinggi dan mulia, belum bisa dijadikan budaya bagi suatu wilayah khususnya kampung. Maka, apabila ini tidak ditindaklanjuti, sama halnya membiarkan bangsa berada pada sebatas penggantungan harapan saja.
Batik masih mengalami krisis budaya sebagaimana bangsa Indonesia yang katanya sudah merdeka tapi masih dijajah oleh bangsanya sendiri. Kita masih perlu berperang melawan penjajahan oleh bangsanya sendiri. Rakyat jelata merasa belum merdeka karena yang mereka tahu merdeka itu kesejahteraan hidup tercapai. Harga kebutuhan pokok saja terus membumbung tinggi sedang pendapatan sangat minim. Penguasa lebih mementingkan perut mereka dari pada kesejahteraan rakyat kecil. Lapisan rakyat terendah masih terus berjuang merebut kekhasan manusia (kesejahteraan) di atas genggap gempitanya perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




