Bagaimana jadinya jika karya seni rupa mahasiswa diadu dengan karya dosennya? Dengan mengambil tema Versus Visual Art Exhibition, karya seni keduanya bisa saling kritik, saling pukul dan saling memacu diri.
Berawal dari kesatuan visi dan misi dalam berkesenian, mereka saling beradu memperebutkan kepuasan batin dan kekayaan ilmu sebagai seorang seniman, pada Jumat (30/10) malam. Ibaratkan sebuah “lokomotif”, menarik gerbong demi gerbong yang memuat ratusan manusia dengan visi yang sama untuk tujuan tertentu.
Bertempat di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, pameran tersebut akan diselenggarakan selama enam hari mulai Kamis (29/10) hingga Selasa (3/11). Karya seni rupa yang dipamerkan mencapai 50 buah, dan semuanya berasal dari mahasiswa dan dosen seni rupa murni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.
Panca Indra
Sebuah karya yang cukup menarik datang dari Hendra Purnama, pria kelahiran Karanganyar 20 Februari 1986 tersebut, mengambil judul Facet. Dengan media besi karat mobil (instalasi), bekas kepala truk yang telah berkarat disulapnya menjadi suatu karya yang indah. Dengan beberapa tambalan dari sobekan alumunium foil di beberapa bagian yang berkarat.
Hendra ingin menggambarkan sebuah jiwa yang lemah tidak menolak pendangkalan seni, ekspresi batin diganti dengan ekspresi naluri. Kedalaman pikir diganti dengan sensasi panca indera. Pesan moral yang disampaikannya dalam karya ini lebih ke proses pendewasaan diri.
“Jangan menjadikan ini sebagai granat pikiran, atau suatu hal yang terlalu mudah untuk ditertawakan, memang di dalam negeri ini, korupsi, perampokan, penipuan telah berjalan dengan kompak, tetapi janganlah kita terjerembab dari permasalahan yang berulang-ulang ini dengan tetap berdoa, berusaha dan bekerja keras,” ungkapnya.
Salah satu seniman dari Padepokan Lemah Putih, Mbah Prapto mengungkapkan apresiasinya terhadap acara Versus Visual Art Exhibition tersebut.
“Kegiatan pameran seni rupa ini bukan sekadar penekanan pada status sosial belaka, kreativitas akan selalu dijunjung tinggi bila acara semacam ini sering digelar. Mudah-mudahan bisa berkelanjutan, karena ini termasuk bagian dari ruang berekspresi,” tandasnya.
Sementara pada acara pembukaan pameran, digelar berbagai macam hiburan musik seperti grup orkes dangdut dari ISI Solo, “Tepong Gosong”, dengan salah satu lagu andalannya berjudul Bunga. (bns)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







