Tak ada lagi yang mampu mengelola Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) semahir Mbah Mangun. Nenek kelahiran tahun 1947 ini sudah menekuni pembuatan kain lurik sejak 30 tahun yang lalu. Ia mengaku mempelajari semua proses pembuatan kain lurik dari kedua orang tuanya dulu.
Mbah Mangun mengatakan bahwa sampai saat ini, ia terus melakukan perubahan pada pembuatan tenun ATBM-nya. Dulu, ia belajar memberi warna pada benang tenun, ngyekil (menggulung benang hingga membentuk motif lurik), hingga menenun menggunakan mesin ATBM.
Sayang , bakat yang dimiliki Mbah Mangun itu tidak turun pada ketiga anaknya. “Saya memang tidak mengajarkan pada mereka, karena mereka suka bekerja yang lain,” ungkap Mbah Mangun.
Keinginan untuk menularkan ilmunya itu kepada generasi muda memang ada. Karena saat ini penenun-penenun muda hampir tidak pernah bisa ditemui di Dukuh Soka, Desa Bogor, Kecamatan Cawas Klaten.
Di Desa Bogor misalnya, ada 33 perajin tenun ATBM yang bergabung dalam kelompok tenun Bogor Sejahtera. Penenun termuda di Desa ini adalah Tatun Firnawati (29). Ia mengatakan, produksi kain tenun/lurik setiap harinya bisa mencapai 15 meter per hari per orang.
“Itu dengan catatan tidak ada aktivitas lain selain menenun, sebab di daerah ini banyak yang masih nyambi, seperti di tinggal ke Sawah,” ungkap Tatun.
Ia membenarkan bahwa kerajinan tenun ATBM sangat tidak diminati oleh masyarakat, termasuk masyarakat muda. Ini dikarenakan penghasilannya yang hanya kecil. Juga karena kerajinan ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ekstra. “Menenun ini adalah alternatif terakhir, jika nanti para kaum ibu sudah tidak mempunyai pekerjaan lain,” ungkap Tatun.
Namun dengan ketekunannya, saat ini kain tenun buatan Tatun dan perajin di Desa Bogor sudah bisa mulai diminati. Hasil produksi di tempat itu digunakan untuk seragam berbagai instansi pemerintah. Selain itu produk kelompok itu juga telah merambah pasar-pasar di daerah sekitarnya, seperti Yogyakarta, Jakarta dan Sukoharjo. (Krisna Kartika Sari)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




