SOLO—Kesenian tradisi dituntut lebih kreatif dalam menjawab tantangan modernisasi. Salah satunya dengan melakukan tafsir ulang terhadap konsep serta nilai-nilai yang dipertunjukan.
Demikian Ketua Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sudarsono, SKar, MSi kepada Joglosemar Selasa (23/3). Menurutnya, saat ini salah satu produk kesenian tradisi, seperti pedalangan pun tengah menghadapi tantangan besar perkembangan zaman.
“Pesan atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dapat dikemas serta disesuaikan dengan kondisi saat ini. Selain itu, perlu ada juga tafsir ulang terhadap tata cara penyajian, misalkan dengan menggunakan bahasa Inggris,” tutur Sudarsono.
Sudarsono menambahkan, saat ini ISI Surakarta juga tengah mengajukan konsep pagelaran pertunjukan wayang empat jam. Hal tersebut salah satunya untuk efisiensi waktu. Pasalnya, menurutnya pertunjukan wayang semalam suntuk tidak efektif dan melelahkan bagi yang menyaksikan.
“Dengan durasi yang tidak lama, masyarakat yang menonton masih bisa istirahat untuk bekerja esok harinya. Jadi masyarakat akan senang melihat wayang dan tidak capek,” ujarnya.
Terkait peminat Jurusan Seni Pedalangan di ISI Surakarta, menurutnya setiap tahun semakin berkurang. Maka dari itu, ISI Surakarta tengah berupaya untuk menarik calon-calon mahasiswa tertarik masuk ke dalam Jurusan Pedalangan.
“Saat ini jumlah mahasiswa Jurusan Pedalangan hanya enam orang. Padahal, tahun ajaran 2008/2009 jumlahnya masih 18 orang. Agar jumlahnya bertambah, kami mencoba memberikan beasiswa Bidik Misi dan melakukan roadshow pentas pedalangan dan workshop tentang Jurusan Seni Pedalangan di beberapa SMA Semoga seni tradisi pedalangan dapat berkembang dan lestari,” pangkasnya. (ris)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




