Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Seorang pengajar di Universitas Parahyangan (Unpar), Profesor Anak Agung Banyu Perwita PhD, diduga melakukan plagiarisme (penjiplakan). Buntutnya, Banyu Perwita akhirnya mengirimkan surat pengunduran diri sebagai pengajar di Universitas Parahyangan (Unpar). Pihak yayasan juga berencana memberhentikan Banyu secara tidak hormat.
Kejadian ini sungguh merupakan pukulan bagi dunia pendidikan. Apalagi sang penulis bergelar profesor dan selama ini dikenal sebagai ahlinya di kampus setempat. Kasus-kasus plagiarisme semacam ini sebenarnya bukan hanya kali ini terjadi. Banyak kasus serupa yang muncul di ranah dunia pendidikan nasional. Ada yang terungkap, ada pula yang selama ini aman-aman saja. Tapi anehnya, banyak pula masyarakat yang bergerak di sektor pendidikan justru terus bangga dengan ulah plagiarisme tersebut.
Bakat-bakat plagiarisme sebenarnya sudah dirasakan pada penyusunan skripsi di kalangan mahasiswa, atau Tugas Akhir. Kalau di kalangan SMA biasa lewat karya tulis. Meski banyak pula, hasil-hasil karya di kalangan mereka yang orisinal dan berkualitas.
Di kalangan guru pun, kasus-kasus plagiarisme juga sering bermunculan dan terungkap ke permukaan. Misalnya, di Pekanbaru ada sekitar 1.820 guru yang diduga melakukan plagiarisme karya tulis ilmiah.
Kasus-kasus plagiarisme semacam ini sudah menjadi keprihatinan publik. Ini menjadi pelajaran pahit dan berharga bagi masyarakat pendidikan nasional. Harus ada tindakan yang membuat para plagiat jera. Selain melalui tindakan tegas, juga harus didengungkan mengenai etika dan pentingnya integritas pribadi. Sentuhan melalui seruan moral juga tak kalah penting dari tindakan atau sanksi tegas. Dunia pendidikan harus mencegah jangan sampai tindakan plagiarisme menjadi hal yang biasa di kehidupan mereka.
Tanda-tanda plagiarisme di sekolah-sekolah dan kampus-kampus harus segera dipadamkan dengan tindakan tegas. Ini butuh kejelian dan antusiasme yang tinggi dari pada pendidik agar plagiarisme enyah dari mereka. Apalagi, dunia pendidikan merupakan dunia penuh dengan moralitas dan integritas tinggi. Kalau dunia pendidikan saja tercoreng, lalu masyarakat harus menyandarkan harapannya kepada siapa?. Ini menjadi tantangan kita bersama. Institusi pengelola pendidikan harus jeli dan tegas terhadap upaya-upaya plagiarisme. Jangan hanya karena mengejar target kelulusan atau gelar para pendidiknya, tapi menghalalkan benih-benih plagiarisme. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







