Tua adalah suatu proses alami pada semua makhluk hidup yang tak dapat dihindari dan berlangsung secara terus-menerus dengan ditandai adanya perubahan sel-sel tubuh. Memasuki usia 40 tahun setiap orang akan mengalami proses tersebut secara nyata. Kulit mulai tampak berkeriput dan kering sebab produksi kelenjar keringat kulit mulai menurun. Kemudian, diikuti proses pigmentasi kulit yang makin meningkat dan rambut mulai memutih (uban).
Setelah beranjak tua, seseorang akan cenderung mengalami penurunan aktivitas, ruang gerak terbatas, kehilangan rasa percaya diri, dan dampak psikologis lainnya. Masa penuaan disebabkan oleh bertambahnya usia, namun juga disebabkan oleh berbagai faktor seperti penggunaan senyawa oksidan, baik sebagai suplemen makanan maupun sebagai obat.
“Antioksidan merupakan zat yang antiterhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan atau sering disebut dengan radikal bebas. Sedangkan radikal bebas adalah sejenis oksigen yang susunan atomnya tidak sempurna. Zat ini berbahaya dan sangat reaktif dan bersifat merusak jaringan organ tubuh hingga menimbulkan berbagai penyakit di usia tua,” jelas dr Moerbono M SpKK, saat menjadi salah satu pembicara pada sesi I Simposium Nasional Antioxidan: Myth and Fact, di The Sunan Hotel Solo, akhir pekan kemarin.
Dalam simposium yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-33 UNS tersebut, Moerbono menjelaskan, radikal bebas merupakan suatu molekul yang relatif tidak stabil dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan.
Akibat kehilangan pasangannya itu, molekul menjadi tidak stabil dan radikal. “Supaya stabil molekul ini selalu berusaha mencari pasangan elektronnya, yaitu dengan cara merebut elektron dari molekul lain secara membabi buta. Karena itulah dia disebut radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS),” paparnya.
Jika radikal bebas sudah merebut elektron molekul lain, akan timbul sebuah reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru yang jumlahnya terus bertambah. Perebutan elektron oleh radikal bebas, berakibat tidak baik pada molekul yang elektronnya dicuri. Molekul ini akan mengalami kerusakan molekul makro pembentuk sel, yaitu protein, karbohidrat (polisakarida), lemak, dan deoxyribo nucleic acid (DNA).
“Sel yang elektronnya diambil oleh radikal bebas akan rusak, mati atau bermutasi. Pada sel kulit, radikal bebas akan merusak lemak pada membran sel sehingga kulit kehilangan ketegangannya dan mempercepat proses penuaan dengan munculnya keriput,” imbuhnya.
Sementara itu pembicara kedua, dr Y Widodo Wirohadidjojo, SpKK (K), dosen dari Fakultas Kedokteran UGM mengutarakan, meski merugikan dalam jumlah tertentu radikal bebas tetap harus ada dalam tubuh. Karena sangat diperlukan tubuh memerangi peradangan, serta membunuh bakteri. Sel darah putih (leukosit) akan melawan kuman dengan bantuan radikal bebas ini.
“Radikal bebas juga terbentuk pada semua peristiwa pembakaran, misalnya memasak, merokok, pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor, infeksi bakteri, jamur dan virus, paparan zat kimia dan terpaparnya suatu benda oleh sinar matahari secara terus-menerus. Jadi, radikal bebas ada di mana-mana,” ujar Widodo.
Zat Antioksidan
Untuk mengendalikan efek buruk radikal bebas ini, tubuh akan membentuk zat antioksidannya. Antioksidan memberikan perlindungan kepada tubuh dari ancaman radikal bebas dan berfungsi untuk menetralisasi (melawan) radikal bebas.
Antioksidan juga dapat memperlambat proses penuaan seseorang. Dari hasil penelitian makanan, jenis sayuran dan buah-buahan menduduki peringkat teratas kandungan antioksidannya antara lain kacang-kacangan seperti kacang merah, blueberry, apel dan kentang.
Proses penetralan radikal bebas oleh antioksidan eksogen dimulai dengan peran vitamin E yang menangkap radikal bebas. Akan tetapi vitamin E ini berubah menjadi vitamin E radikal sehingga memerlukan pertolongan vitamin C yang berubah menjadi vitamin C radikal pula. Setelah itu barulah dengan pertolongan glutation, vitamin C radikal bisa dinetralkan sehingga tidak bersifat destruktif lagi.
“Karena antioksidan bersifat menangkal radikal bebas, tidak berarti kita harus selalu mengonsumsi suplemen antioksidan dari luar tubuh. Dengan menu yang seimbang dan gaya hidup sehat, kebutuhan antioksidan sanggup dipenuhi oleh tubuh,” kata Widodo. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




