Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Kendalikan Asma dengan Mengenali Faktor Pemicu

Kamis, 11/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Asma merupakan penyakit kronis pada saluran napas yang ditandai oleh gejala-gejala akibat penyempitan saluran napas dengan derajat bervariasi berbeda pada setiap penderitanya. Perlu diketahui bahwa asma merupakan penyakit serius di berbagai negara di seluruh dunia. Di dunia penyakit asma termasuk lima besar penyebab kematian atau 17,4 persen dari keseluruhan penyakit lainnya. Sementara di Indonesia, asma termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian.
Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas harian, namun juga dapat bersifat menetap dan mengganggu aktivitas. Untuk mengatasinya penderita dapat mencegah asma dengan mengenali, menghindari dan mengendalikan berbagai pencetus asma (allergen). Namun, sebetulnya yang paling mengetahui mengenai faktor pencetus asma adalah si penderita itu sendiri bukan dokter ataupun keluarga. Sehingga wajib bagi penderita untuk mengenali faktor pencetus yang menyebabkan asmanya kambuh.
“Faktor pencetus yang menimbulkan serangan merupakan hal yang penting diketahui. Menghindari faktor pencetus dapat mengurangi gejala asma dan dalam waktu lama akan mengurangi inflamasi (reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing) di saluran napas,” ujar dr Mardhiyah Hanief dari Rumah Sakit Dr Oen Surakarta.
Gejala utama terjadinya serangan asma ialah sesak napas disertai dengan bunyi mengi (wheezing) atau sering disebut bengek. Penderita asma biasanya mempunyai riwayat batuk yang memberat terutama malam hari, mengi berulang, sering merasa sulit bernapas dan kerap kali merasa dada seperti diikat dengan tali.
Pada saat serangan asma, otot polos dari bronchus akan mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga agar dapat bernapas.
“Asma menimbulkan gangguan kualitas hidup karena gejala yang ditimbulkannya seperti sesak napas, batuk, maupun mengi. Pasien menjadi kurang tidur dan terganggu aktivitasnya sehari-hari. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat,” ujar Hanief, sapaannya.
Oleh sebab itu, disarankan bagi penderita asma untuk menghindari allergen terutama yang ada di lingkungan sekitar. Seperti debu yang ada di dalam rumah terutama yang berasal dari kasur kapuk, karpet, sofa, pakaian yang disimpan lama di dalam lemari, langit-langit atap rumah, atau buku dan kertas arsip lama.
Beberapa bahan makanan terutama jenis ikan laut, udang, susu sapi, telur, cokelat, serta kacang-kacangan juga harus dihindari.
Hindari Polusi
Selain itu yang juga patut diwaspadai adalah perubahan lingkungan hidup yang tidak diharapkan seperti perubahan cuaca, kelembaban, temperatur, polusi udara, asap rokok dan bau-bauan yang merangsang. “Hindari polusi luar rumah seperti asap, yang terpenting adalah menghindari merokok aktif dan pasif,” tambahnya.
Pengaruh obat-obatan seperti penisilin, sulfa, dan aspirin bisa menjadi faktor pencetus serangan asma. Pemicu lainnya dapat berupa kelelahan pikiran, infeksi saluran napas terutama penyakit influenza tertentu, aktivitas fisik yang berlebihan dan ketegangan jiwa (emosi yang kuat). “Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi pada setiap penderita. Seperti pada penderita asma berat, serangan akan terjadi hampir setiap hari. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam bahkan selama beberapa hari,” papar Hanief.
Penyebab asma belum diketahui secara pasti sehingga pengobatannya sejauh ini baru pada tahap mengendalikan gejala yang timbul. Pada asma banyak faktor risiko yang diduga ikut berperan, tetapi umumnya digolongkan menjadi faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.
Dijelaskan Hanief, tujuan pengobatan asma adalah untuk meminimalkan gejala, menormalkan fungsi paru dan aktivitas sehari-hari, mencegah eksaserbasi (kambuhan) dan obstruksi saluran napas yang irreversible serta mengoptimalkan pengobatan farmakologis dengan efek samping sedikit mungkin.
Penatalaksanaan yang direkomendasikan adalah agar efek samping yang ditimbulkan dapat ditekan seminimal mungkin.
“Penyuluhan pada penderita dan keluarganya, penilaian dan pemantauan beratnya asma, menghindari dan mengendalikan faktor pencetus, merencanakan pengobatan asma jangka panjang, rencana penanggulangan eksaserbasi asma, serta menyelenggarakan pemantauan secara berkala, adalah cara-cara yang bisa dilakukan oleh penderita, dokter dan keluarga,” pungkas Hanief. (Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :