Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Kenali Karakter...Kenali Karakter...

Selasa, 15/11/2011 09:00 WIB - Tim UKSW

Karakter orang memang berlainan satu sama lain. Tak ada yang sama. Lain kepala maka lain pula pemikirannya. Lalu bagaimanakah kalangan kampus memaknai hal ini?
Banyak pihak menilai perkembangan seseorang erat kaitannya dengan Tripusat, yaitu keluarga, institusi pendidikan, maupun masyarakat. Secara mental spiritual dasar-dasar pendidikan diletakkan rumah tangga, dan secara akademik konseptual dikembangkan di sekolah sehingga perkembangan pendidikan anak makin terarah.
Lungit Pratiwi, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta mengungkapkan, dari sudut pandang psikologi, orangtua, pendidikan, dan lingkungan berperan dalam pembentukan karakter seseorang. Namun, yang paling berpengaruh pada karakter anak adalah orangtua. Karena orangtua merupakan lingkungan utama yang paling dekat dengan anak.
“Sejak usia dini anak mulai dikenalkan dengan norma-norma budaya, adat istiadat yang ada. Selain itu, reward and punishment juga harus dikenalkan, agar anak belajar mengenai konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Hal ini perlu dilakukan karena bila anak melakukan pelanggaran norma dan orangtua hanya mengabaikan (memaafkan) maka ke depannya anak akan menganggap tidak masalah melakukan hal yang melanggar norma,” ujarnya.
Penanaman Nilai
Pendapat Lungit diamini Tri Widiarto MPd, dosen Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana. Menurutnya, pembentukan karakter atau penanaman nilai dan moral menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan instansi-instansi pendidikan, bahkan pemerintah.
Tanggung jawab dari kedua orangtua di antaranya memelihara, membesarkan, melindungi secara jasmani dan rohani, mendidik, serta memberi keterampilan yang berguna bagi hidupnya. Hanya saja, dalam memberikan pendidikan ada keterbatasan yang dialami orangtua.
“Karena orangtua tidak mampu memberikan pendidikan selanjutnya dalam berbagai kecakapan dan ilmu. Maka institusi pendidikan menjadi penting. Di dalam sekolah bekerja orang-orang khusus didik untuk keperluan mengajar,” ujar Tri.
Sekolah melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya didasarkan atas kepercayaan dan tuntutan zaman. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab atas tiga faktor. Pertama, tanggung jawab normal, yakni harus melaksanakan pembinaan menurut ketentuan yang berlaku.
Kedua, tanggung jawab keilmuan, yakni memberikan pengetahuan kepada anak didik. Serta yang ketiga, tanggung jawab fungsional, yakni harus melakukan pembinaan sesuai ketentuan yang berlaku. “Sekolah juga harus bertanggung jawab melalui pendidik (guru atau dosen) untuk melaksanakan program yang terstruktur di dalam kurikulum,” ujar dia.
Pendapat lain diutarakan Theodorus Gary Natanael, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi Universitas Kristen Satya Waacana. Ia mengungkapkan tidak hanya faktor keluarga dan sekolah saja tetapi ada satu faktor yang cukup penting yaitu dari masyarakat. Masyarakat disebut lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis.
“Kalau di lembaga pendidikan pendidiknya guru. Maka kalau di masyarakat yang menjadi pendidikannya adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya melalui sosialisasi lanjutan,” ujar Teo.

Tim UKSW

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :