Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Kenali Hidrosefalus Lebih Dekat

Jumat, 18/11/2011 09:00 WIB - Triawati Prihatsari P

Belum lama, kita mendengar kabar tentang Balita yang memiliki kepala berukuran lebih besar dari Balita normal lainnya di Klaten. Sebelumnya kita mengetahui Balita sama di Sragen dan daerah lainnya. Kepala bayi atau Balita yang berukuran besar tersebut sering kali disebut dengan istilah hidrosefalus. Apakah hidrosefalus itu sebenarnya? Kenapa Balita-balita malang tersebut bisa terkena hidrosefalus? Bisakah hidrosefalus diobati? Mari kita cari tahu lebih banyak tentang hidrosefalus.
Ukuran kepala yang besar namun masih kelihatan normal mungkin saja tidak akan jadi masalah. Namun jika ukuran besar pada kepala melebihi porsi atau tidak proporsional maka akan memberikan dampak yang tidak sedikit. Faktanya, kepala yang besar tersebut malah mengakibatkan sang bayi tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Yang bisa dilakukannya hanyalah berbaring dan berharap keajaiban. Maka dari itu, kita perlu mengetahui banyak tentang hidrosefalus  untuk melakukan pengobatan yang tepat.
Hidrosefalus berasal dari bahasa Yunani, di mana hidro artinya air. Sementara sefalus artinya adalah kepala. Maka dari itu, hidrosefalus berarti penimbunan cairan di dalam ruang yang secara normal terdapat di dalam otak. Cairan yang dimaksud adalah cairan yang normal ada dalam otak dan dikenal sebagai cairan otak. Sedangkan ruang yang terdapat di dalam otak disebut sebagai ventrikel. Berdasarkan data, angka kejadian hidrosefalus berkisar antara 0,2 hingga empat persen pada setiap 1.000 kelahiran. Meskipun demikian, kita tidak boleh begitu saja mengabaikannya. Hidrosefalus juga dapat terjadi pada semua umur.
Menurut Dokter Spesialis Anak RS Dr Oen Surakarta, dr Johnny Sugiarto SpA, kepada Joglosemar, Kamis (17/11), mengungkapkan, hidrosefalus dapat terjadi jika terdapat penyumbatan pada salah satu tempat di kepala. Ditambahkan Johnny, penyumbatan tersebut sering terdapat pada bayi dan anak karena kelainan bawaan, infeksi, neoplasma, atau perdarahan. Penyumbatan mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal yang tidak terabsorbsi sehingga menyebabkan kepala menjadi besar. Meskipun banyak yang mengetahui perihal penyakit satu ini, namun tidak banyak yang tahu penyebabnya.
Dr Johnny memaparkan, penyebab terjadi hidrosefalus pada bayi yakni merupakan kelainan bawaan atau sejak lahir yang disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran cairan otak yang berada dalam sistem ventrikel. Selain itu, hidrosefalus dapat terjadi juga karena kelainan yang diperoleh dan dapat terjadi pada anak yang dilahirkan dalam keadaan normal, atau bahkan pada orang dewasa. Menurut dr Johnny, kelainan atau penyakit yang sering diikuti hidrosefalus antara lain yaitu infeksi otak, cedera kepala, perdarahan otak, dan tumor-tumor otak. “Maka dari itu hidrosefalus bisa berdiri sendiri karena merupakan kelainan atau bisa saja menyertai penyakit lain. Untuk itu harus diperhatikan,” ungkapnya.
Sementara itu, gejala yang ditunjukkan hidrosefalus bervariasi. Mulai dari lingkaran kepala pada anak yang baru lahir di mana biasanya berkisar dari 35 hingga 40 sentimeter yang mengalami pembesaran. Selain itu, pertumbuhan atau pembesaran ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan sang bayi. “Selama tahun pertama kehidupan, pada anak-anak dengan ubun-ubun kepala belum menutup, akan tampak pembesaran kepala. Lingkaran kepala dapat juga besar sejak bayi dalam kandungan, sehingga umumnya akan terjadi kesulitan pada waktu persalinan,” tandas  dr Johhny.
Akan tetapi, lebih sering kejadian hidrosefalus terjadi pada anak lahir dengan ukuran kepala normal, tetapi dalam pertumbuhannya diketahui bahwa ukuran kepala bertambah lebih cepat dari bayi normal biasanya. Hal ini dapat juga disertai dahi lebih besar dari biasanya, tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis, serta pembuluh darah di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok. Gejala lain yang ditunjukkan yakni sakit kepala hebat, muntah dan gangguan penglihatan dapat terjadi kemudian akibat penimbunan cairan otak. Pada anak-anak dengan ubun-ubun yang telah menutup atau orang dewasa akan terjadi peninggian tekanan dalam kepala dengan timbulnya gejala sakit kepala hebat, muntah menyembur tanpa disertai mual, gangguan penglihatan dan dapat sampai gangguan kesadaran. Gejala lain yang dapat menyertai adalah kelainan neurologis.
Dr Johnny menambahkan,  hingga sekarang ini pengobatan hidrosefalus terus berkembang ke arah yang lebih baik, meskipun masih belum semuanya memuaskan. Satu-satunya cara untuk mengatasi penimbunan cairan otak ini adalah melalui operasi yaitu dengan memasang saluran yang salah satu ujungnya dimasukkan ke dalam ruang di dalam otak (ventrikel) yang melebar, sedang ujung lainnya dapat diletakkan pada bagian tubuh lain seperti rongga perut. Saluran ini bersifat sebagai pompa yang terdiri dari saluran elastis dengan kedua ujung terbuka dan di salah satu bagiannya mengandung pompa, di mana digunakan seumur hidup. Dengan adanya bagian pompa ini, cairan hanya dapat mengalir ke satu arah dan dalam keadaan diperlukan, pompa dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah cairan yang dialirkan.

Triawati Prihatsari P

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :