Menghabiskan tujuh tahun menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Geografi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, ternyata tidak mengantarkan Adjie Atmodiwiryo (39) menjadi seorang pendidik. Ia malah kecemplung di dunia properti dan menjadi sumber penghasilannya hingga saat ini.
General Manager Century 21 Joglosemar ini, mengaku keterlibatannya dalam Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNS lah yang membawanya masuk ke dunia usaha. Sejak tahun 1993, Adjie sudah aktif di Kopma dengan menduduki jabatan sebagai Ketua Bidang Usaha. Posisi ini bertahan selama dua tahun dan pada tahun 1995 hingga ia lulus ditahun 1997, Adjie naik jabatan menjadi Direktur Kopma UNS.
Di sinilah ia mendapat banyak pengalaman terkait dengan dunia usaha. Di bawah kepemimpinannya ia berhasil mengumpulkan aset Kopma hingga Rp 1,8 miliar, sebuah angka yang fantastis untuk ukuran koperasi mahasiswa. Adjie memang terbilang salah satu pemimpin yang sukses yang mampu mengelola 80 karyawan Kopma.
“Karena Kopma lah jiwa wirausaha saya muncul, karena semua yang tergabung dalam Kopma dididik untuk menjadi seorang profesional. Di mana kita justru disarankan membuka lapangan kerja baru dari pada ikut kerja pada orang lain,” tutur Adjie pada Joglosemar.
Setelah lulus kuliah dan “pensiun” dari Kopma, Adjie tak berniat sedikit pun untuk menjadi guru. Ia justru tergabung dalam sebuah Konsultan Usaha Kecil yang memberikan konsultasi bagi para pelaku usaha kecil. Dalam pelaksanaannya mereka didampingi oleh Institut pengembangan Kewirausahaan dan Kejuruan Indonesia (IPKI).
“Di sini saya semakin tertarik lagi dengan dunia usaha, sudah tidak ada kepikiran lagi untuk jadi guru. Dari sini pula saya mulai mengenal dunia properti,” akunya.
Baru pada tahun 1999, Adjie menggeluti dunia properti secara serius dengan masuk dalam Century 21 Joglosemar, salah satu agen developer ternama. Dikatakannya dunia properti adalah sesuatu hal yang sangat menarik dan menyenangkan. Menurutnya dengan berbisnis properti dirinya tidak pernah mengalami kerugian, karena kecenderungan harga properti yang terus menanjak.
“Dan bisa dikatakan salah satu indikator perekonomian suatu negara adalah dari bisnis propertinya. Kalau bisnis propertinya lesu berarti pereknomiannya juga sedang sulit,” tuturnya. (Rachmadhani Fitriastuti)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







