ini banyak kemudahan fasilitas yang diberikan oleh orangtua dan lingkungan. Kenyataan itu ternyata membuat anak muda sangat terpenuhi semua kebutuhannya akan sarana penyaluran bakat dan minat yang dimiliki. Namun, tak semua memanfaatkan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya. Ada sebagian anak yang justru merusak sarana dan prasarana tersebut dikenal dengan istilah vandalisme.
Sebagian lagi memanfaatkan sarana yang telah tersedia dengan sebaik-baiknya. Di lingkungan sekolah sendiri menyediakan beragam ekstrakulikuler yang dimaksudkan bagi para siswa agar memilih bidang yang diinginkan.
Ada yang memilih pramuka, kesehatan, olahraga dan jurnalistik. Berawal dari ketidakpuasan dan ingin lebih memperluas pengetahuan yang dimiliki dalam bidang jurnalistik, sejumlah siswa SMA yang ada di Solo mendirikan komunitas para pecinta jurnalistik.
Komunitas ini bernama Komunitas Pecinta Jurnalistik (Ketik) yang berdiri pada 17 Juni 2007, silam. “Dulunya kami menganggap pengurus majalah sekolah itu hanya dipandang sebelah mata, tidak seperti ekstrakurikuler lainnya. Kemudian kami inisiatif untuk lebih mengembangkan bakat kami dalam hal jurnalistik yang bersifat lintas sekolah,” ungkap Abraham Zakky Zulfahmi, salah satu pendiri Ketik kepada Joglosemar, Kamis (25/3).
Seiring dengan berjalannya waktu, nama Ketik sendiri berganti menjadi Solo Young Writer Community. Yang menarik dari komunitas ini adalah walaupun kebanyakan anggotanya berasal dari kalangan siswa, namun dana yang digunakan untuk membiayai produksi karya-karyanya bersifat independen.
Selain itu, mereka juga banyak bekerja sama dengan pihak-pihak lain di luar sekolah untuk menyelenggarakan sebuah acara. “Kami banyak mengadakan kerja sama dengan pihak lain untuk menyelenggarakan sebuah acara, salah satunya dengan Forum Lingkar Pena (FLP),” terang Tiara, salah satu pengurus.
“Setiap akan mengadakan acara, pendanaannya selalu kami usahakan sendiri dengan cara membuat proposal dan mengajukannya kepada pihak-pihak tertentu. Sebisa mungkin kami berusaha mandiri.”
Yang lebih menarik dari komunitas pecinta jurnalistik satu ini adalah keanggotaannya berlaku seumur hidup. “Semua anggota yang dulu berdomisili di Solo dan sekarang telah menempuh pendidikan di kota lain tetap berstatus sebagai anggota. Mereka tetap terlibat dalam Solo Young Write Community saat ada acara,” lanjut Zakky. (Rani Setianingrum)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




