Engkaulah, Kati. Perempuan yang selalu mengajakku riang. Tak jarang kau berlarian di pinggir ladang sambil melepaskan rambutmu dari gelungan, lalu merentangkan kedua tanganmu seperti mau terbang saking riangnya. Bahkan kerapkali kau memaksaku untuk menginap di ladang tanpa mempedulikan gelap dan dinginnya angin yang dibawa para malaikat malam, lantaran ladang bagimu adalah sumber kebahagiaan. Tentu, aku menuruti keinginanmu itu meski tidak wajar. Menginap di ladang yang jauh dari rumah tanpa ada tempat berteduh sekali pun, bukankah itu tidak wajar, Kati?
Apa pun, Kati. Aku selalu berusaha memenuhi apa yang kau inginkan selagi aku mampu. Bagaimana pun, aku menyukaimu, mencintaimu. Meski kukira awalnya, kau berlebihan. Namun pada akhirnya aku pun menyukai apa yang engkau suka itu. Berlama-lama di ladang dan jarang pulang ke rumah.
Tentu saja itu dulu, Kati. Berpuluh tahun silam sebelum kau tergolek lemas di sini, di Bangsal Angrek 1, sama-sama berbaring tak berdaya dengan banyak orang dengan rupa penyakit macam-macam. Ya, waktu kita baru-baru menikah. Dan ladang itu, kau masih ingat, sambil tertawa aku mengatakannya padamu dulu; ladang itu satu-satunya harta kita. Kau pun tak menanggapinya selain hanya tertawa meski sebenarnya kau ingini banyak ladang agar kita bisa memperbanyak lumbung padi, jagung di gudang rumah.
Betapa kau perempuan yang tak pernah bersedih, Kati. Aku melulu dibuat heran olehmu dengan keriangan itu. Bukankah tak berbilang kita ditimpa musibah? Kita kehilangan sepasang sapi dicuri orang, engkau pun tak bersedih. Tanaman ladang kita kerap kali tak berhasil karena hujan turun kurang bersahabat. Kadang terlalu lebat dan lama, kadang juga berminggu-minggu tak datang-datang memutus harapan. Kau pun tetap riang. Bahkan, kau diusir oleh orangtuamu karena menjalin hubungan denganku, lelaki tak bermasa depan, dan kita menikah diam-diam tanpa restu kedua orangtuamu. Kau hanya tersenyum ringan setelah mengatakan: ”Yang penting kita bisa hidup. Dan kau tetap bersetia padaku.”
Tapi kini, Kati. Aku seolah kehilangan semua itu kecuali hanya tubuhmu yang sudah tak berdaging itu. Nyaris tiada sedikit pun keriangan pada diri engkau. Wajahmu pucat, tubuhmu kurus kering, dan matamu cekung.
Begitulah keadaanmu kini, Kati. Yang berawal pada suatu sore dengan keringan masih terpancar dari wajahmu itu, setelah lelah bekerja di ladang, akhirnya keriangan itu pelan-pelan luruh dari wajahmu. Dan pada malamnya ketika itu, juga merupakan malam terakhir kita menginap di ladang, kau mengeluh kepalamu pening dan badanmu panas yang kukira hanya sakit kepala biasa. Entahlah, delapan tahun silam awal kelam hidupmu itu, kucatat baik-baik di kepalaku di mana wajahmu mulai berubah. Sejak itu kau tak pernah lagi menyungging bibirmu. Kau hampir terus-menerus menelan murung. Hari-harimu hanya terbatas di rumah bersama Tukini, anak kita satu-satunya yang ketika itu ia masih terlalu kecil untuk melihat kemurunganmu. Dan aku sesekali ke ladang dengan rasa khawatir kerap mendera pada keadaanmu yang kian hari kian buruk saja.
Dua tahun kemudian ketika itu, Kati, aku benar-benar tak menyangka, apa yang kulakukan untuk kesembuhanmu; mengantarmu ke Puskesmas, dokter, hingga ke dukun, semuanya tak membuahkan hasil sedikit pun. Kau sempurna tak bisa berbuat apa-apa kecuali tergolek tak bisa bangung dari tempat tidur.
Semua yang kudatangi, Kati, dokter sampai ke pengobatan alternatif semacam dukun itu kurang lebih mengatakan sama; kau tak memiliki kelainan apa pun pada tubuhmu. Tapi kenapa, Kati, kau meringis kesakitan dan tak bisa memenjamkan mata kalau aku tidak memegangi sebagaian anggota tubuhmu?
Aku terheran-heran tak percaya, Kati. Apa pula yang menyebabkanmu seperti itu. Nafasmu pun tersengal-sengal.. Enam tahun, kurang lebih kau nyaris setiap hari tak bisa kutingalkan. Ya, Kati. Aku takkan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi.
Di rumah sakit, di Bangsal Anggrek 1 ini, satu rumpun dengan banyak orang, dengan rupa penyakit macam-macam itu dan bau obat-obatan menyengat hidung, Kati, aku masih memegangimu. Mengurangi rasa sakitmu dan ingin rasanya aku melihatmu tidur pulas biar sejenak kau tak rasakan penderitaanmu yang tak kepalang tanggung mengambil kegembiraanmu dan menggantinya dengan kemurungan berkepanjangan. Aku akan terus memegangimu, Kati, seterusnya sebagaimana yang kau minta. Sebab hanya dengan memegangi sebagian anggota tubuhmu, kesakitanmu akan berkurang dan pada akhirnya kau akan tertidur walau tidak pulas sebagaimana bertahun-tahun di pembaringan. Ya, kau tidur, Kati, tapi bukan kau menginginkannya, tapi kau sudah tak kuat menahan penyakit aneh delapan tahun yang merubung tubuhmu tanpa ampun itu.
Di luar jendela rumah sakit, kulihat hujan berkejaran, Kati. Ah, air hujan di matamu kurang lebih sama, hampir jatuh setiap saat meluruhkan cahaya mata beningmu, hingga akhirnya seperti saat ini, dari matamu air itu sudah tak mengalir lagi. Bukan lantaran kau tak bersedih lagi, Kati. Tapi karena terlalu banyak kau keluarkan, dan pada saatnya juga air matamu itu habis. Dan saat inilah, Kati, air mata yang melulu mengalir di matamu setiap kesakitan itu datang menyerangmu dengan hebatnya, sampai juga pada batas habisnya.
Aku, lelaki peladang-suamimu, hanya tinggal menunggu keajaiban menghampirimu dan segera mencabut penyakit anehmu itu. Bagaimana pun, Tukini, anak kita yang sudah beranjak dewasa, masih membutuhkanmu. Lihatlah ia, Kati. Seperti dirimu, anak kita itu memiliki perawakan wajah riang. Sejak kau melahirkannya, lima belas tahun silam, tak pernah terdengar dari mulutnya suara rengekan, apa lagi tangisan. Yang ada hanya senyum, tawa dan senyum. Kita bahagia mendapatkan anak semacam itu, Kati. Pun karena anak itu pula, kedua orangtuamu mulai belajar menerimaku sebagai menantunya. Sungguh, betapa Tukini pernah bisa merubah segalanya. Sampai-sampai di halaman rumah kita, terhias kebun mungil namun indah. Tidak lain, Kati. Itu hasil kerja anak kita yang sejak ia bisa berjalan, Tukini sudah menampakkan cita rasa keperempuanannya.
Tetapi, Kati. Apa yang bisa diharapkan gadis itu kalau keadaanmu begini. Sama sepertimu, pelan-pelan ketika ia mengetahui bahwa engkau seperti demikian adanya, ia pelan-pelan kehilangan perawakan riangnya. Hanya murung dan murung. Kebahagiaan karena sudah mulai mengenyam saat-saat indah di sekolah, luntur bersama ketidakberdayaanmu oleh penyakit aneh itu.
Ah, anak kita satu-satunya itu, Kati. Jelas tak kuasa berlama-lama berada di dekatmu. Kerap kali kusaksikan ia merenggut beberapa bulir air dari matanya dengan kedua tangannya. Ia pun jarang berkata. Hanya diam sambil memintal kesedihannya; menjaga dan memegangi tanganmu sepertiku juga. Kalau tidak demikian, ia berlama-lama di dapur atau di pekarangan rumah. Tentu, tidak lain ia menahan tekanan batin tak tertangguhkan. Betapa perawakan riang yang diwarisi olehmu terus pergi dari wajahnya.
Seperti saat ini, ia berlama-lama berdiri di belakang jendela rumah sakit seolah tak merasakan desis-tangis beberapa orang yang sakit di samping kiri-kananmu. Menatap hujan yang berkejaran di luar. Tapi itu hanya pandanganya saja ke arah luar, sementara sorot matanya tak tertuju pada apa pun.. Ia seperti orang linglung tak jelas arah dan tujuan hidupnya. Dan aku, masih memengangi tanganmu yang nyaris kulit dan tulang tanpa daging itu.
Tentunya, aku tergagap-gagap dan setengah gembira ketika kurasakan denyut di pergelangan tanganmu terus berlanjut. Dalam tidurmu, engkau tampak tidak apa-apa kecuali keadaan tubuhmu yang kurus-kering itu. Namun, pada jagamu aku tak urung tidak bisa menahan untuk tidak menangisi keadaanmu. Pernah suatu kali, aku lupa tidak memegangi bagian tubuhmu, karuan saja kau berteriak histeris seolah seseorang telah menyiksamu dengan kejam. Apa pula penyakitmu ini, Kati. Sehingga aku atau Tukini tak bisa melepasmu dari pegangan. Kalau saja bukan karena Dinas Kesehatan membujukmu dengan sedikit memaksa untuk merawatmu di rumah sakit, tentu kau akan terus tergolek tanpa bisa memejamkan mata di rumah kita yang reot itu.
Dan kini, aku sedikit lega, meski aku terus memegangi tanganmu, kau sudah bisa tertidur. Dan anak kita itu, mungkin juga merasakan apa yang kurasakan. Aku tak tahu pati, apa yang sedang ia pikirkan. Sudah hampir setengah jam, ia berdiri di belakang jendela mengarahkan muka pada hujan di luar yang awet.
Dan kau, Kati. Seolah membayar hutang tidurmu yang tak penah nyenyak sejak kau tak bisa turun dari pembariangan. Aneh, tidak seperti di rumah, kau tidur pulas dengan nafas teratur dan tak ada sedikit pun sengal-sengal. Apakah kau akan membaik, Kati? Seorang dokter masuk ke ruangan dan tanpa bicara hanya tersenyum saja, memintaku mundur sedikit dan segera ia menyuruhku melepas pegangan tanganku pada tanganmu. Ah, karuan saja, Kati. Kau tiba-tiba bangun dari tidur nyenyakmu yang sudah lama tak kau rasakan itu. Maka buru-buru aku kembali memegangi tanganmu dan seketika kau mengurasi ringis-tangis.
Sontak, Kati. Anak kita yang berada di belakang jendela berlari menghampirimu. Ia seperti baru saja melamun, dan belum selesai benar lamunannya ketika dengan menangis ia memelukmu di pembaringan. Sambil terisak-isak, anak kita itu berkata; ”Aku mau ikut Ibu, ke mana pun pergi,” ucapnya tersendat. Sementara sang dokter terpaku sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Kati, di tengah keadaanmu; matamu yang cekung dan tubuhmu yang kurus-kering, tiba-tiba kau membuatku kaget! Kau menggelinjang dan bibir pucatmu bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu. Matamu tertuju padaku, tajam meski tak bercahaya. Katakan, Kati. Biar kudengar ucapmu. Atau mungkin kau mau mengatakan perihal sebab penyakit anehmu itu? Cepat katakan, Kati. Biar nanti kalau memang kau akan sembuh dari penyakit anehmu itu, setidaknya akan kuajak kau ke ladang yang entah seperti apa sekarang. Lama sudah aku tidak ke sana.
Oh….. Kati!
Yogyakarta, 9-10 Januari 2010
—Untuk Katiyem, petani Wonogiri, Jawa Tengah, yang menderita penyakit aneh selama delapan tahun, yang secara fisik tidak terlihat kelainan pada tubuhnya. Namun ia akan kesakitan kalau sebagian anggota tubuhnya tidak dipegang oleh suami atau anaknya.
Penulis adalah penikmat
sastra yang tengah
merampungkan studi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan
Islam Fakultas Adab UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta








