Ajang sillaturahmi bisa dilakukan kapan saja, entah dengan siapa melakukannya, dari hari dan waktu yang tak terbatas. Sillaturahmi menjadikan sesuatu yang jauh menjadi dekat, kenal menjadi akrab dan benci menjadi cinta. Latar belakang tersebut yang dijadikan acuan oleh kelompok Teater Kebel dari Yogyakarta, hijrah ke Teater Kecil Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk pentas, Selasa (9/2) malam.
Sajian teater dengan tajuk Kapai-Kapai yang berarti “Sebuah Harapan”, dijadikannya media sillaturahmi antar pelaku seni teater khususnya, serta mahasiswa ISI Surakarta.
Sutradara acara, Yopi Ekamantra mengaku sengaja mengadopsi karya Arifin C. Noer dengan mengangkat sisi kehidupan manusia secara kultural tanpa batas. Sebuah cermin tipu daya yang diibaratkan sebagai alternatif menuju surga.
“Sajian teater karya Arifin C. Noer yang berjudul Kapai-Kapai merupakan perwujudan kehidupan manusia tanpa batas dilihat dari segi kulturalnya. Ini saya kemas salah satunya sebagai media silatturahmi, serta fenomena budaya dipesisiran yang belum nampak jelas di permukaan. Di sinilah kami sajikan urut-urutan alur kehidupan yang penuh dengan unsur tendensi,” paparnya saat ditemui Joglosemar diakhir pementasan.
Tampil selama 180 menit, sajian Kapai-Kapai penuh dengan intrik dan artistik, berbagai ornamen mulai yang menarik serta unik. Pertunjukan kali ini, Kelompok Teater Kebel mengusung Orkes Mak Chincherrs. Dengan sajian musik nyentrik nan unik, lantunan lagu sunda dan dangdut, ditambah dandanan era 80-an di geber habis-habisan mengocok perut penonton yang hadir. P
“Naskah cerita yang terkesan liar, campuran musik dangdut dan sunda, serta keanehan yang lainnya sengaja saya tampilkan dengan berbagai macam suasana, ada kesedihan, kegembiraan, kepolosan serta canda tawa. Jadinya, semua malah menarik,”pungkasnya. (bns)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







