JAKARTA—Sehari menjelang pembukaan Muktamar NU di Makassar, persaingan kandidat ketua umum PBNU semakin ketat. Dari tujuh calon yang sudah menyatakan kesediaannya, tiga calon yang paling ramai dibicarakan. Mereka adalah KH Said Aqil Siradj, KH Sholahudin Wahid dan Slamet Effendy Yusuf.
Nama Ahmad Bagdja, Masdar Farid Mas’udi, Ali Maschan Musa serta Ulil Abshar Abdalla mulai sayup dibicarakan. “Perkembangannya sampai sekarang memang seperti itu. Tiga kandidat yang menguat. Yang lain tetap berpeluang, namun agak berat,” kata calon ketua umum PBNU Ulil Abshar Abdalla, Minggu (21/3) malam.
Menurut mantan ketua Jaringan Islam Liberal (JIL) ini sebelumnya yang diprediksi bersaing ketat memang empat kandidat, yaitu tiga kandidat di atas plus Ahmad Bagdja. Namun, perkembangan terakhir nama Bagdja terdegradasi karena PCNU dan PWNU melihat arus pertarungan yang kuat berada di tiga calon di atas. “Pak Bagdja menurun dibicarakan karena mungkin dianggap kurang pas untuk posisi ketua umum meski dibekingi Pak Hasyim. Mungkin beliau pas sebagai organisatoris saja,” papar Ulil.
Namun demikian, Ulil masih yakin peta dukungan akan terus berubah sampai detik-detik pemilihan ketua umum. Nama-nama yang saat ini merosot dukungannya bisa saja menjelang pemilihan baik lagi jika mengupayakan cara-cara efektif dan meyakinkan peserta muktamar dari PCNU dan PWNU.
“Tapi kemungkinan-kemungkinan perubahan masih sangat bisa terjadi. Ini tergantung lobi dan komunikasi. Jadi belum final peta di atas. Termasuk kekuatan Gus Sholah, sebanarnya nggak kuat-kuat banget kok,” pungkasnya.
Sementara itu, kandidat ketua umum PBNU Slamet Effendi Yusuf mengklaim telah mendapat dukungan dari 70 persen PCNU dan PWNU seluruh Indonesia. “Dukungan saya dari luar Jawa terbesar, Insya Allah. Hampir seluruh wilayah dan cabang-cabang juga banyak yang menyampaikan dukungannya. Kita optimis, saya kira sekitar 70 persen,” kata Slamet.
Saat ditanya soal adanya dua kandidat ketua umum PBNU yang sudah diterima SBY, yakni Sholahudin Wahid dan Said Aqil Siradj, Slamet menanggapinya dengan enteng. “Tidak apa-apa. Itu kan soal waktu. Kita tidak meminta waktu beliau. Kalau soal kenal, saya kenal baik,” jawabnya.
“Kita ini kan mau muktamar, lebih baik kita bangun prinsip kemandirian. Bukan berarti kita tidak bisa menghubungi beliau ya, tapi bukan sekarang ini saatnya,” tandasnya.
Sebelumnya Said Aqil Siradj juga mengklaim sudah mengantongi dukungan 50 persen lebih dari PCNU dan PWNU. Sementara, Sholahudin Wahid memang tidak menyebut jumlah angka tertentu, tetapi optimis akan lolos dalam tahap kedua pemilihan PBNU dan keluar sebagai pemenang. (dtc)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




