Rabu, 23/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Kampus = Indonesia Kecil

Rabu, 31/03/2010 09:00 WIB - hana

Indonesia memang terdiri atas berbagai keragaman. Indonesia memiliki beragam budaya, suku, ras, bahasa serta memiliki perbedaan agama. Namun demikian, keberagaman tersebut tidak kemudian menjadikan Indonesia terpecah belah atau menimbulkan permusuhan.
Menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda namun tetap satu, membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang terkenal dengan bangsa yang memiliki toleransi. Adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan yang harus mampu diimplementasikan, tak terkecuali di lingkungan kampus.
Banyak para mahasiswa yang merantau untuk mendapatkan pendidikan yang layak demi masa depan mereka. Namun, terkadang ketika mahasiswa merantau mereka akan mengalami kendala dalam hal adaptasi dengan budaya tempat ia menuntut ilmu. Tidak dimungkiri, adanya berbagai perbedaan agama, budaya, suku, dan ras terkadang menjadi semacam hambatan tersendiri untuk bersosialisasi.
Lalu, bagaimana seharusnya mahasiswa menyikapi berbagai perbedaan yang ada di kampus? Tindakan apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam mengantisipasi terjadinya salah paham atau konflik akibat adanya berbagai perbedaan tersebut?
“Awalnya tentu kita akan kesulitan untuk bersosialisasi dan beradaptasi. Kecenderungannya, kita akan memilih teman yang berasal dari daerah asal kita atau yang mungkin memiliki kesamaan dalam hal budaya. Hal ini dikarenakan adanya rasa canggung saat berkomunikasi karena adanya perbedaan budaya,” ungkap mahasiswa Akper Panti Kosala, Putri Yawatiningsih.
Puti menambahkan, kendati memang perbedaan budaya sempat menjadi hambatan untuk bisa menjalin komunikasi dan menjalin pertemanan, namun mahasiswa mampu untuk saling menghormati dan menghargai, permasalahan tersebut bisa teratasi. “Yang penting, kita bisa membuka diri terhadap perbedaan dan budaya lain. Jadi semua harus bersatu,” katanya. 
Sementara itu, mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Retno Wulandari, menilai, adanya perbedaan bukan sebuah permasalahan yang menjadi penghambat untuk bisa bersosialisasi atau saling mengenal  “Malah beruntung mengenal teman dari daerah yang berbeda. Dengan begitu, kita tahu lebih banyak tentang kebiasaan atau adat istiadat mereka yang berarti pengetahuan tentang budaya juga akan bertambah,” paparnya.
Lebih lanjut Retno mengatakan, guna mengantisipasi terjadinya kesalahpahaman, menurutnya perlu adanya komunikasi yang intens dengan rekan-rekan mahasiswa lain yang mungkin berbeda budaya, suku, ras maupun agamanya. Sehing ga tercipta hubungan yang harmonis.
Terpisah, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Erma Kusumawati, mengungkapkan, bersosialisasi dengan mahasiswa dari luar daerah dengan berbagai kultur budaya, suku, ras, dan agama yang berbeda penting dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
“Banyaknya budaya yang dibawa oleh mahasiswa yang berasal dari luar daerah, bukan masalah yang besar. Meskipun terkendala dalam bahasa, namun jika kita mencoba belajar bahasa mereka itu akan sangat menyenangkan. Kita dapat bertukar informasi budaya, mengenal budaya lain, dan kita juga bisa tahu jalan pikiran mereka,” katanya. 
Kampus memang merupakan sebuah miniatur bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, budaya, agama, serta ras yang berbeda. Namun demikian, perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadikan mahasiswa tidak mau untuk saling mengenal atau malah saling bermusuhan. Perbedaan yang ada merupakan anugerah untuk membuat kita bisa lebih pandai dan memiliki wawasan yang luas. (hana)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :