Mahasiswi yang menekuni bisnis praktik prostitusi yang sering kita kenal dengan sebutan “ayam kampus” ternyata mempunyai sistem tersendiri. Sistem itu sengaja diciptakan demi kelancaran aktivitas mereka. Namun, tidak semua kalangan mampu mengetahui dan menembus sistem tersebut.
Salah satu sistem yang paling penting adalah sistem jaringan kelompok. Jika seorang “ayam kampus” sudah menekuni bisnis prostitusi, maka secara otomatis ia sudah masuk ke dalam jaringan sebuah kelompok. Kegiatan mereka tidak semena-mena dilakukan secara individual. Namun, ada seseorang yang mengoordinasi bisnis tersebut.
Seseorang yang mengontrol bisnis dan mengoordinasi sistem inilah yang sering disebut germo alias mucikari. Profesi germo tidak hanya dilakoni oleh seorang lelaki, bahkan akhir-akhir ini banyak sekali profesi germo yang dilakoni oleh perempuan. Biasanya sering dikenal dengan istilah “tante girang”. “Germo itu tidak hanya dilakoni seorang pria. Zaman sekarang malah banyak germo wanita, biasanya disebut ‘tante girang’,” ujar LAP, seorang germo di Kota Solo.
Sistem yang kedua adalah sistem transaksi. Seorang germo biasanya berperan sebagai pengontrol dan mengoordinasi segala aktivitas dan transaksi yang dilakukan oleh seorang “ayam kampus”. Sebagai contoh, jika seorang pelanggan ingin memanfaatkan jasa “ayam kampus”, maka ia harus melakukan transaksi dengan seorang germo. Setelah disepakati harga di antara keduanya, maka germo baru bisa mengizinkan seorang ayam kampus untuk berkencan dengan pelanggannya.
Biasanya tarif yang ditawarkan untuk seorang “ayam kampus” di Solo berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per dua jam atau short time. Namun, untuk durasi di atas dua jam atau kelipatannya, seorang pelanggan harus merogoh kocek dua kali lipat pula. Namun, tarif tersebut juga tergantung dari fisik “ayam kampus” itu sendiri. Kemudian, dari tarif tersebut biasanya seorang germo hanya mengambil beberapa persennya saja. Sisanya menjadi hak milik “ayam kampus” itu sendiri.
Sistem yang ketiga adalah sistem kode. Seorang pelanggan yang sudah masuk ke dalam sistem jaringan prostitusi, maka ia akan mengetahui kode-kode yang biasa dipakai untuk melakukan transaksi prostitusi. Sebagai contoh kode yang sering dipakai dalam jaringan prostitusi adalah dengan menggunakan kata “servis” yang berarti “aktivitas prostitusi”.
Kode ini sengaja dipakai untuk melindungi dan membatasi jaringan prostitusi itu dari kesalahpahaman dengan orang di luar jaringan. “Biasanya seorang ‘ayam kampus’ menggunakan kata servis untuk mengganti istilah making love. Kode ini dipakai untuk menghindari kesalahpahaman dengan orang lain di luar jaringan,” ujar LAP.
Semua sistem itu biasa digunakan ayam kampus yang menggunakan modus sekali pakai atau sekali bayar. Namun, untuk ayam kampus dengan modus berpacaran, seluruh sistem itu hampir tidak pernah digunakan.
Riris (sebut saja begitu) seorang “ayam kampus” mengaku, bila dalam melakukan transaksi biasanya dia juga kerap stand by di kawasan food court sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Solo. Untuk mendapatkan konsumen bisa jadi, dirinya memperoleh dari germo, atau mencari sendiri.
Mangsanya mudah dijerat hanya dengan memperhatikan dengan pandangan tertentu. Kemudian untuk bertransaksi, dilakukan dengan bahasa jari. Setelah sepakat, baru dirinya berani mendekat dari calon pelanggannya. (Arifin/Bersambung)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







