Sabtu, 11/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Jepang Sindir Seniman Karawitan

Minggu, 25/07/2010 09:00 WIB - Deniawan Tommy Chandra Wijaya

Salah satu pentas yang memukau di ajang Solo International Performing Art (SIPA) pekan lalu adalah pementasan grup musik etnik Lambangsari asal Tokyo, Jepang.
Dalam durasi waktu sekitar 30 menit, grup tersebut mampu membius penonton dengan garapan kombinasi cantik antara gending klasik karawitan, tarian Jawa, dan musik Jepang.  Hebatnya, grup etnik pimpinan Prof. Fumiko itu juga menyelipkan sindenan cengkok Jawa klasik, namun berbahasa Jepang dalam komposisi gendingnya.
Ditemui usai pentas, Miki Orita, humas Lambangsari, menjelaskan meski dicampur alat musik dan bahasa Jepang, namun pergelaran mereka secara khusus dipersembahkan sebagai wujud penghargaan akan seni tradisi Jawa, khususnya karawitan. Miki juga mengatakan,  jika di Jepang, karawitan menjadi sebuah hiburan berkelas tinggi, yang menjadi favorit masyarakat dan pejabat pemerintahan.
”Karawitan gaya klasik kami hargai karena itu harmonisasi musik yang sangat universal, namun penuh kerjasama yang tinggi. Selain itu juga bisa untuk menenangkan perasaan selepas menjalankan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya.
Ia justru menyayangkan jika di Indonesia, sebagai negara asal karawitan saat ini sudah banyak seniman karawitan klasik yang banting setir ke musik kontemporer. Padahal keunggulan karawitan dibanding musik lainnya, justru terletak di sisi keklasikkannya. ”Kami lebih suka karawitan klasik karena lebih meditatif, dan menghanyutkan rasa. Jadi bukan sekadar bunyi tetapi tanpa makna,” ucapnya.
Sindiran Halus
Menanggapi kritik itu, komposer karawitan handal asal Solo, Dedek Wahyudi mengatakan, jika pementasan Lambangsari merupakan sindiran halus akan mati surinya seni karawitan klasik di Indonesia. Dia mengakui jika saat ini di Indonesia sudah sangat minim empu karawitan yang mampu menggali lebih dalam kreativitas seni karawitan klasik. Penyebabnya, selain kurang perhatian dari pemerintah, di Indonesia sendiri penggemar karawitan klasik jumlahnya juga semakin menurun, sementara para seniman juga dituntut untuk bisa selalu eksis dalam berkarya. ”Jepang itu negara yang sudah mapan, baik secara sisi sosial maupun perekonomiannya. Untuk itu tidak aneh, jika mereka ingin menempatkan karawitan sebagaimana adanya,” imbuhnya.
Di sisi lain, permasalahan klasik atau kontemporer sebenarnya terkait dengan selera dan keahlian masing-masing seniman karawitan. Dalam seni karawitan sifatnya sangat fleksibel, dan masih belum tertutup kemungkinan untuk dikembangkan. ”Karawitan belum mengalami puncak pengembangan kreativitas, di mana sudah tidak boleh lagi diutak-atik. Jadi semua itu dikembalikan lagi kepada individu para seniman karawitan,” tegasnya.
Senada, Waluya Sastra Sukarna dosen karawitan dari ISI Solo menambahkan, sah-sah saja jika seniman Jepang ingin mempertahankan sisi klasik karawitan. Ia pesimis niat itu terwujud, karena untuk ukuran zaman sekarang, tantangannya sangat berat. ”Prinsipnya saya sepakat jika kita jangan meninggalkan akar keklasikkan tradisi, karena sebenarnya masih banyak yang bisa digali dari itu,” paparnya.l
Deniawan Tommy Chandra Wijaya 
deniawanwijaya@yahoo.co.id.

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :