Senin, 06/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Jeli Memilih Daging

Kamis, 09/09/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Saat bulan Ramadan atau menjelang Idul Fitri seperti sekarang, masyarakat umumnya akan menyajikan menu makanan yang spesial, bergizi, lezat, dan penuh cita rasa untuk keluarganya. Masakan ini umumnya tak pernah luput dari bahan baku hewani yang namanya daging. Baik daging sapi, ayam, ataupun kambing, pada bulan ini permintaan selalu melonjak tajam.
Melihat fenomena ini banyak penjual daging nakal yang memanfaatkannya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Akibatnya sering ditemui daging busuk, daging mati kemarin (tiren), atau daging gelonggongan yang dijual bebas. Untuk itu masyarakat diimbau agar jeli saat membeli supaya mendapatkan daging berkualitas, segar, dan sehat.
Menurut Eni Purwani MSi, Dosen Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan UMS, banyak orang yang menggemari makanan berbahan baku daging, namun banyak pula yang tidak mengetahui cara memilih daging yang berkualitas dan segar. Di pasaran sendiri, daging dikategorikan dalam dua kelompok. Yakni daging ternak besar seperti sapi, kerbau, atau kambing. Serta daging ternak kecil seperti ayam, itik, entok, dan lainnya. Kualitas daging-daging ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor baik pada saat hewan masih hidup maupun setelah dipotong.
“Saat hewan hidup, faktor penentu kualitas dagingnya adalah cara pemeliharaan, meliputi pemberian pakan, metode pemeliharaan, dan perawatan kesehatan. Sedang ketika sudah dipotong, dipengaruhi oleh pendarahan waktu dipotong dan kontaminasi sesudah dipotong,” ujarnya.
Menurut Eni, untuk memilih daging yang sehat dan berkualitas, dapat dilihat dari beberapa segi seperti warna, aroma, ataupun teksturnya. Dari segi warna, daging segar biasanya memiliki warna yang cerah dan mengilat. Sedang daging yang rusak atau busuk biasanya akan berubah warna menjadi kecokelatan, kehijauan, kuning, dan akhirnya menjadi tidak berwarna.
Dari segi aroma, daging segar memiliki bau aroma yang khas. Sehingga disarankan saat akan membeli daging untuk menciumnya terlebih dahulu. Sebab, daging yang segar tidak berbau masam ataupun busuk. “Sementara dari segi tekstur, daging segar biasanya wujudnya kenyal, padat, dan tidak kaku. Apabila ditekan dengan tangan atau jari, maka bekas tekanan dapat cepat kembali ke posisi semula,” terangnya.
Hal lain yang bisa menjadi penanda daging memiliki kualitas baik adalah tidak berlendir, sehingga ketika dipegang tidak akan terasa lengket di tangan. Sedangkan daging yang rusak biasanya ditandai dengan tekstur yang lunak dan bila ditekan akan mudah hancur.
Eni mencontohkan saat memilih daging ayam misalnya, sebaiknya pilih daging yang memiliki warna putih keabu-abuan dan cerah. Warna kulit ayam biasanya kekuning-kuningan dan bersih, kemudian jika disentuh terasa lembab tidak lengket. “Saat membeli daging ayam, waspadai daging ayam tiren yang sering kali dijual oleh pedagang daging nakal,” imbaunya.
Warna Daging
Untuk membedakan daging ayam tiren dengan ayam yang segar, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengamati warna dagingnya. Daging ayam tiren umumnya memiliki warna putih pucat, selain itu di bagian kulit banyak terdapat gumpalan darah membeku yang tidak keluar. Ciri lainnya adalah adanya pembuluh darah merah yang sangat tampak dari kepala, leher, punggung, hingga sayap. Daging ayam tiren biasanya memiliki aroma yang sangat menyengat.
“Tetapi, biasanya untuk mengelabui pembeli, ayam tiren dijual setelah direbus dahulu dengan kunyit untuk memberi efek warna kekuning-kuningan dan menghilangkan baunya. Untuk itu harus benar-benar jeli saat memilih,” terangnya. Daging ayam tiren ini lanjut dia, harus dihindari karena akan menjadi sumber penyakit bagi yang mengonsumsinya.
Sementara untuk memilih daging sapi yang sehat, Eni melanjutkan, dapat dikenali dengan ciri-ciri yakni berwarna merah terang, mengilap, serta tidak pucat. Secara fisik daging elastis, sedikit kaku, dan tidak lembek. Jika dipegang masih terasa basah dan tidak lengket di tangan. “Masyarakat harus teliti ketika membeli daging sapi karena saat ini disinyalir terdapat daging sapi segar yang dicampur dengan daging celeng (babi), serta dengan daging sapi yang kondisinya sudah busuk, diperjualbelikan di beberapa pasar,” ujarnya.
Praktik lain yang juga sering temui adalah daging gelonggongan. Untuk menghindari agar tak keliru membeli daging ini, sebaiknya membeli daging yang dijual dengan posisi digantung. Sebab jika benar itu daging gelonggongan maka air akan menetes saat digantung.
Eni menambahkan, secara umum daging yang sehat dan baik adalah daging yang berasal dari ternak yang sehat, disembelih di tempat pemotongan resmi, kemudian diperiksa, diangkut dengan kendaraan khusus dan dijual di supermarket atau di los daging pasar yang bersih dan higienis. “Pengetahuan ciri-ciri daging yang baik dan sehat ini perlu diketahui oleh masyarakat agar tidak tertipu oleh ulah oknum penjual daging nakal. Sehingga harapan untuk mendapatkan daging yang sehat, segar, dan berkualitas dapat tercapai,” katanya.
(Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :