Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Jelang Lebaran, Waspadai Makanan Kedaluwarsa

Rabu, 08/09/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Menjelang Idul Fitri sering kali ditemukan produk-produk makanan kedaluwarsa yang dijual bebas akibat meningkatnya permintaan dari masyarakat. Tak terkecuali di Solo dan beberapa daerah sekitarnya, dari hasil sidak oleh instansi terkait banyak ditemukan berbagai makanan kedaluwarsa di sejumlah pasar atau pusat perbelanjaan. Banyak konsumen yang tidak tahu tentang makanan kedaluwarsa ini dan akhirnya menjadi korban.
Jika ditilik dari segi medis, makanan kedaluwarsa dapat menimbulkan keracunan bahkan hingga berujung pada kematian. Untuk itu, saat memilih makanan konsumen dituntut jeli sehingga tidak keliru membeli makanan beracun tersebut.
Menurut Rusdin Rauf STP, MP, dosen teknologi pangan Progdi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), apapun itu jenis makanannya jika sudah kedaluwarsa maka tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Sebab berdasarkan analisis medis makanan basi atau kedaluwarsa dapat dipastikan mengandung bakteri dan jamur berbahaya. Dan bila dikonsumsi, keduanya sangat membahayakan kesehatan manusia.
“Makanan kedaluwarsa atau yang dibuat dari bahan-bahan kedaluwarsa saat ini diduga banyak beredar luas di pasaran. Apalagi mendekati Idul Fitri, di mana permintaan masyarakat akan makanan dan kue meningkat. Maka sebaiknya berhati-hati ketika akan membeli,” paparnya.
Menurut Rusdin, jika seseorang mengonsumsi makanan kedaluwarsa, dalam jangka pendek akan mengalami keracunan. Sebab bakteri dari makanan tadi akan menyerang saluran pencernaan. Fase ini umumnya akan ditandai dengan rasa mual dan muntah-muntah. Gejala tersebut biasanya dirasakan satu jam setelah mengonsumsi makanan kedaluwarsa tadi. Terlebih pada anak-anak, mereka sangat sensitif jika mengonsumsi makanan basi ini.
“Dalam jangka panjang jika dikonsumsi, makanan kedaluwarsa bisa menyerang saraf, mata, dan otak. Bahkan akibat yang paling fatal bisa menimbulkan penyakit tumor, kanker, atau apa yang disebut hepatorena, atau kegagalan fungsi jantung dan hati, hingga kematian,” paparnya.
Cara Termudah
Oleh karena itu, dianjurkan bagi masyarakat untuk berhati-hati jika membeli makanan, terutama yang tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa. Sebab dengan melihat tanggal kedaluwarsa inilah cara termudah untuk mengetahui masa berlaku makanan. Tanggal kedaluwarsa adalah informasi dari produsen kepada konsumen yang menyatakan waktu di mana suatu produk sudah tidak layak lagi untuk digunakan.
Tanda ini biasanya tertulis pada setiap kemasan produk. Namun celakanya, di pasaran terdapat dua jenis makanan yakni yang mencantumkan tanggal kedaluwarsa dan yang tidak mencantumkan. Khusus yang tidak mencantumkan biasanya adalah makanan produksi rumahan.
“Yang menyulitkan adalah bila produk makanan tidak ada tanggal kedaluwarsanya, terutama makanan yang dijual di warung-warung kecil atau di pinggir jalan. Pada produk makanan yang demikian ini memang harus melalui uji laboratorium untuk mengetahuinya,” ungkap Rusdin.
Sementara untuk yang mencantumkan, cara sederhana untuk mengetahuinya adalah dengan melihat tanggalnya saat membeli. Penentuan masa kedaluwarsa adalah berdasarkan komponen pembentuk produk. Apakah ada perubahan fisik, bau, rasa, warna, setelah lewat waktu tertentu, serta menggunakan bahan pengawet atau tidak.
Lebih lanjut Rusdin menerangkan, makanan kedaluwarsa memang sering dikaitkan dengan lamanya masa penyimpanan. Namun lebih dari itu, ada dua hal penting yang juga layak menyebut suatu makanan sudah kedaluwarsa. Pertama, apabila makanan telah mengalami perubahan baik fisik, kimia, serta mikrobiologisnya meski pada tanggal tertera belum kedaluwarsa. Kedua, apabila makanan telah mengalami perubahan zat gizi yang terkandung di dalamnya. Hal demikian banyak dijumpai pada produk suplemen, di mana pada batas tertentu kandungan zat penting di dalamnya akan berkurang bahkan hilang.
Dirinya melanjutkan, banyaknya kasus keracunan makanan belakangan ini bisa jadi karena makanan tersebut memang sudah kedaluwarsa, tidak higienis, atau tidak memenuhi syarat kesehatan. Serta kurang menjaga dan memelihara sanitasi dan kebersihan, baik pada lingkungan dapur, peralatan memasak, maupun makanan. Akibatnya makanan tercemar berbagai mikroba misalnya bakteri, virus, atau parasit lainnya. Terlebih pada musim panas di mana makanan mudah busuk yang menyebabkan terjadinya keracunan makanan. Sebab memang pertumbuhan dan perkembangan mikroba dipengaruhi oleh suhu.
Rusdin mengingatkan, apabila mengalami keracunan makanan sebaiknya segera ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan yang tepat. Diare akibat keracunan akan berlanjut pada berkurangnya cairan tubuh sehingga rawan dehidrasi. Oleh karena itu pertolongan pertama yang bisa dilakukan pada keracunan makanan adalah dengan memberikan banyak cairan. “Agar terhindar dari keracunan makanan terutama produk kedaluwarsa, konsumen harus jeli. Amati kemasan, lihat tanggal kedaluwarsa, serta pandangi ada tidaknya perubahan pada makanan,” imbaunya. (Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :